🏛️
PerpusDig Sriwidadi
Desa Sriwidadi
PROKER KKN '26
📦Rak Offline
Sistem Perpustakaan Aktif

Jendela Pengetahuan Desa

Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.

🔍
📑
✨
📚

Total Koleksi

213 Buku

👁️

Total Pembaca

1140 Kali

🏛️

Lokasi Layanan

Desa Sriwidadi

📚 Koleksi Terbaru

Menampilkan 213 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

NOVEL PEREMPUAN TANGGUH DARI AWAN BIRU
Buka Detail ↗

NOVEL PEREMPUAN TANGGUH DARI AWAN BIRU

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

Sinopsis Novel ini mengisahkan perjalanan Yuniarti, seorang perempuan tangguh yang lahir di lereng Gunung Sumbing. Berbekal ketekunan dan integritas yang ditanamkan oleh orang tuanya, ia memutuskan untuk mengabdi sebagai Sekretaris Desa di Desa Awan Biru, sebuah desa terpencil dengan administrasi yang berantakan. Datang dengan tekad kuat, Yuniarti menghadapi tumpukan berkas berserakan, perangkat desa yang santai, dan warga yang lelah dengan pelayanan lambat. Dengan sabar dan kerja keras, ia perlahan membenahi sistem kearsipan, menerapkan prosedur pelayanan, dan membangun kepercayaan warga. Perjuangannya tidak mudah. Ia harus menghadapi tekanan dari kecamatan, fitnah dari oknum yang iri, bahkan audit mendadak dari Inspektorat. Namun, dengan ketulusan dan kerja kerasnya, ia berhasil membawa perubahan besar. Desa Awan Biru berubah dari desa tertinggal menjadi desa percontohan administrasi, dan Yuniarti pun mendapatkan penghargaan. Kisah ini adalah sebuah penghormatan bagi para pengabdi desa yang bekerja dengan hati. Ini adalah cerita tentang perubahan yang dimulai dari hal kecil, integritas di tengah godaan, dan pengabdian yang meninggalkan jejak abadi di hati banyak orang.

"

Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

🎓 Proker KKN 2026

Sistem Informasi Perpustakaan Digital, dedikasi mahasiswa untuk memajukan literasi warga Desa Sriwidadi.

Dibuat dengan ❤️ di tahun 2026© Perpustakaan Digital Desa Sriwidadi. All Rights Reserved.
Mulai Membaca
NOVEL I JEJAK CAHAYA DI DESA AWAN BIRU
Buka Detail ↗

NOVEL I JEJAK CAHAYA DI DESA AWAN BIRU

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 10

Sinopsis Singkat Sepuluh mahasiswa Universitas Harapan Jaya memulai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari di Desa Awan Biru—sebuah desa kecil yang nyaris terlupakan oleh zaman. Dipimpin oleh Raka, seorang mahasiswa Teknik Informatika yang tegas, mereka datang dengan niat mengabdi namun penuh keraguan. Di antara mereka ada Theo, programmer pemalu yang menyimpan bakat terpendam; Evianti, penulis berbakat yang menjadi perekat tim; Amir, Si Penghibur yang ternyata menyimpan luka; serta enam mahasiswa lainnya dengan keahlian masing-masing. Di desa itu, mereka menemukan perpustakaan yang mati—berdebu, sunyi, dan dilupakan oleh anak-anak yang lebih memilih gawai daripada buku. Dibantu oleh Si Amat, seorang admin desa sederhana yang diam-diam menyimpan mimpi besar, mereka memutuskan untuk membuat sesuatu yang mustahil: perpustakaan digital untuk desa kecil yang bahkan internetnya pun tak stabil. Perjalanan mereka tidak mudah. Badai menerjang, listrik padam, laptop rusak, dan ratusan buku harus ditulis dalam waktu singkat. Theo hampir menyerah ketika aplikasi yang ia bangun dengan susah payah tiba-tiba error total. Si Amat jatuh pingsan karena kelelahan menulis seratus buku di sela-sela pekerjaannya. Konflik keluarga mengancam, dan persahabatan diuji oleh perbedaan. Namun dari kegagalan, mereka belajar untuk bangkit. Dari air mata, mereka menemukan kekuatan. Dari kerja keras, mereka menemukan makna pengabdian sejati. Perlahan, desa mulai bergerak bersama. Anak-anak mulai membaca. Warga mulai percaya bahwa perubahan itu mungkin. Di tengah perjuangan, cinta pun tumbuh. Theo dan Evianti menemukan perasaan yang tak terduga. Si Amat menemukan kembali keluarganya. Dan sepuluh mahasiswa itu pulang dengan lebih dari sekadar nilai akademik—mereka pulang dengan persahabatan sejati, pelajaran hidup, dan jejak cahaya yang tak pernah padam. Kisah inspiratif tentang mimpi yang lahir dari keraguan, cahaya yang menyala dari kegelapan, dan jejak yang ditinggalkan oleh sebuah pengabdian.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 10 UJIAN AKAL DI TANAH BAGHDAD
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 10 UJIAN AKAL DI TANAH BAGHDAD

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

Sinopsis Singkat Baginda Raja Harun Al-Rasyid, setelah menyaksikan berbagai keajaiban kecerdikan Abu Nawas, memutuskan untuk mengujinya dengan cara yang berbeda. Ia menjatuhkan hukuman yang tampak mustahil: Abu Nawas harus meninggalkan Baghdad dan tidak boleh kembali kecuali tanpa menyentuh tanah, serta tanpa menunggang hewan ternak apa pun. Para pejabat istana terkejut. Syekh Abdul Jabal dan para ahli supranatural bersorak puas, yakin bahwa Abu Nawas akhirnya kalah—tidak ada manusia yang bisa terbang atau berjalan di atas air. Amr bin Hisham dan para pengagum Abu Nawas putus asa. Namun Imam Marzuki mengingatkan: "Jangan pernah meremehkan orang yang tidak pernah takut." Abu Nawas menerima hukuman dengan tenang, tersenyum, dan pergi meninggalkan Baghdad. Berminggu-minggu berlalu. Tidak ada kabar. Para pejabat mulai percaya bahwa Abu Nawas telah pergi selamanya. Syekh Abdul Jabal semakin percaya diri, berkeliling istana dengan kemenangan. Namun suatu pagi yang cerah, keramaian terjadi di gerbang Baghdad. Abu Nawas kembali! Ia bergelantungan di bawah perut seekor keledai—kakinya menjuntai tidak menyentuh tanah, dan ia tidak menunggangi hewan tersebut. Ia hanya bergelantungan dengan kain yang diikatkan di perut keledai. Di hadapan Baginda Raja dan seluruh istana, Abu Nawas berkata: "Aku tidak menyentuh tanah. Aku tidak menunggang hewan. Aku hanya bergelantungan. Seperti buah di pohon. Seperti lampu di langit-langit. Seperti Abu Nawas." Syekh Abdul Jabal memprotes, tetapi Imam Marzuki dan Amr bin Hisham membela Abu Nawas. Aturan hanya melarang "menunggang" dan "menyentuh tanah"—Abu Nawas melakukan keduanya dengan interpretasi literal yang brilian. Baginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa terbahak-bahak dan mengakui bahwa Abu Nawas telah memenuhi hukuman. Abu Nawas mengajarkan pelajaran berharga: batas tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Peraturan yang kaku akan kalah oleh pikiran yang lentur.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 9 TAFSIR MIMPI SANG KHALIFAH
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 9 TAFSIR MIMPI SANG KHALIFAH

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

Sinopsis Singkat Baginda Raja Harun Al-Rasyid terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin. Ia bermimpi: duduk di singgasana dikelilingi orang-orang tercinta, lalu satu per satu giginya tanggal, dan setiap kali gigi tanggal, satu orang di sekelilingnya menghilang. Pada akhirnya, ia sendirian di singgasana yang kosong. Mimpi itu menghantuinya. Para ahli tafsir mimpi dipanggil. Imam Marzuki menafsirkan bahwa gigi yang tanggal berarti kematian kerabat—Baginda akan kehilangan semua orang yang dicintainya. Syekh Abdul Jabal menafsirkan sebaliknya: mimpi itu pertanda umur panjang—Baginda akan hidup lebih lama dari semua kerabatnya. Ahli tafsir lain memberikan berbagai pendapat—kehilangan kebijaksanaan, kehilangan jati diri, dan sebagainya. Kebingungan dan ketakutan menyebar ke seluruh istana. Para pejabat saling curiga, para komandan gelisah, dayang-dayang menangis. Istana yang dulu megah berubah menjadi lautan kepanikan. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Abu Nawas datang dengan kurma di tangan dan senyum misteriusnya. Ia tidak langsung menafsirkan. Sebaliknya, ia bertanya kepada para ahli: "Apakah kalian yakin? Apakah kalian tidak mungkin salah? Apakah tafsir kalian satu-satunya yang benar?" Para ahli mengakui bahwa mimpi bisa ditafsirkan dengan banyak cara—semua ada dalam kitab, semua bisa dibenarkan. Abu Nawas kemudian memberikan pelajaran berharga: makna adalah pilihan. Mimpi yang sama bisa dilihat sebagai malapetaka atau sebagai berkah. Seperti dua orang melihat awan gelap—satu melihat hujan yang akan membuatnya basah dan sakit, yang lain melihat hujan yang akan menyuburkan tanaman. Awan yang sama, makna yang berbeda. Abu Nawas mengingatkan Baginda Raja bahwa ketakutan adalah pilihan. Jika ia memilih tafsir yang menakutkan, ia akan hidup dalam ketakutan dan kehancuran. Jika ia memilih tafsir yang menenangkan, ia akan hidup dalam kedamaian dan kesyukuran. Baginda Raja Harun Al-Rasyid memilih untuk melihat mimpi itu sebagai berkah. Ia memilih untuk bersyukur atas waktu yang masih ia miliki bersama orang-orang tercinta. Ia mengumumkan kepada seluruh istana bahwa mimpi itu bukan pertanda malapetaka, melainkan pengingat untuk menghargai setiap momen kebersamaan. Istana kembali tenang. Para ahli tafsir belajar bahwa kebenaran tidak selalu hitam putih—yang lebih penting bukan hanya apa yang dikatakan kitab, tetapi bagaimana kebenaran itu disampaikan: apakah menyakitkan atau menenangkan, apakah menghancurkan atau menyembuhkan.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 8 TEKA-TEKI YANG MENGGUNCANG SINGGASANA
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 8 TEKA-TEKI YANG MENGGUNCANG SINGGASANA

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

Sinopsis Singkat Di tengah jamuan istana yang megah, seorang filsuf dari Basra bernama Al-Farabi bin Ishaq al-Basri mengajukan pertanyaan sederhana yang mengguncang seluruh istana: "Mana yang lebih dulu, telur atau ayam?" Para pejabat istana terpecah menjadi dua kubu sengit. Amr bin Hisham memimpin kubu telur dengan argumen logis berdasarkan ilmu pengetahuan dari buku-buku Yunani—setiap ayam berasal dari telur, maka telur pasti lebih dulu. Zaid bin Haritsah memimpin kubu ayam dengan argumen berbasis keyakinan dan kitab-kitab kuno—Allah menciptakan ayam berpasang-pasangan, lalu ayam bertelur, maka ayam pasti lebih dulu. Perdebatan berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Para ahli supranatural yang dipanggil memberikan tiga jawaban berbeda: Syekh Abdul Jabal mengatakan ayam lebih dulu, Syekh Hasan mengatakan telur lebih dulu, dan Syekh Ibrahim mengatakan keduanya sama. Istana semakin kacau, para pejabat saling curiga, dan Baginda Raja Harun Al-Rasyid kebingungan. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Abu Nawas datang dengan jubah lusuh dan kurma di tangannya. Ia tidak langsung menjawab. Sebaliknya, ia bertanya: "Apakah kalian benar-benar ingin tahu, atau hanya ingin menang?" Ia menunjukkan bahwa Amr dan Zaid bukan mencari kebenaran, tetapi hanya ingin mengalahkan lawan. Para ahli supranatural juga hanya ingin membuktikan keahlian mereka. Abu Nawas kemudian memberikan jawaban yang mengejutkan: "Yang lebih dulu adalah yang dibutuhkan lebih dulu." Jika seseorang lapar dan hanya ada telur, maka telur yang lebih dulu dibutuhkan. Jika seseorang ingin mendengar kokok ayam, maka ayam yang lebih dulu dibutuhkan. Jawaban itu tidak memenangkan siapa pun, tetapi mengubah cara pandang semua orang. Amr dan Zaid akhirnya berdamai dan berpelukan. Para ahli supranatural juga saling memaafkan. Istana kembali tenang. Baginda Raja Harun Al-Rasyid belajar bahwa kadang-kadang pertanyaan lebih penting daripada jawaban, dan kebijaksanaan bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang siapa yang mampu memahami.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 7
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 7

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 6

Sinopsis Singkat Istana Baghdad dilanda kepanikan setelah seorang peramal istana menyebarkan ramalan mengerikan: "Baginda Raja Harun Al-Rasyid akan kehilangan tahta dalam waktu dekat." Kabar ini menyebar cepat seperti api, memicu kecurigaan, penangkapan massal, dan penghukuman tanpa pengadilan. Para pejabat saling menuduh, para komandan dicopot dari jabatan, dan dayang-dayang setia diusir tanpa alasan. Istana yang dulu megah kini berubah menjadi penjara ketakutan. Baginda Raja Harun Al-Rasyid, meskipun tidak percaya pada ramalan, mulai goyah. Ia memerintahkan penangkapan siapa pun yang dianggap mencurigakan. Para ahli supranatural—Syekh Abdul Jabal, Syekh Hasan, dan Syekh Ibrahim—semua sepakat bahwa ramalan itu benar. Bintang-bintang menunjukkan perubahan besar, mimpi-mimpi menunjukkan singgasana kosong, dan pola pasir menunjukkan keretakan di fondasi kekuasaan. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Baginda Raja setuju, dan Abu Nawas datang dengan jubah lusuh, kurma di tangan, dan senyum misteriusnya. Abu Nawas tidak langsung memecahkan masalah. Ia hanya bertanya: "Apakah ramalan itu pasti terjadi atau hanya kemungkinan?" Para ahli supranatural terpaksa mengakui bahwa ramalan hanyalah kemungkinan—mereka bisa salah, bintang bisa salah dibaca, mimpi bisa keliru, dan pasir bisa disalahartikan. Abu Nawas kemudian mengajukan pertanyaan kunci: "Jika semua orang percaya Baginda akan jatuh, bukankah ketakutan itulah yang justru akan menjatuhkannya? Jika semua orang curiga, bukankah kecurigaan itu yang akan menciptakan pengkhianat?" Abu Nawas mengusulkan ujian sederhana: hidup normal. Jangan takut, jangan panik, jangan tangkap orang tanpa bukti. Biarkan ramalan itu terjadi jika memang takdir—atau biarkan ia terbukti salah jika hanya tipuan. Hari-hari berlalu. Istana kembali normal. Tidak ada penangkapan, tidak ada kecurigaan, tidak ada kepanikan. Dan ramalan itu tidak terjadi. Tahta tetap aman, Baginda Raja tidak jatuh, kekuasaan tidak berpindah. Namun Abu Nawas terus mencari. Pada suatu malam, ia menemukan jawabannya: seorang pejabat tinggi yang selama ini dekat dengan Baginda Raja adalah dalang di balik ramalan itu. Motifnya sederhana—dendam dan iri karena merasa tidak dihargai dan ingin mengambil alih kekuasaan. Pejabat itu diadili dan dihukum dengan adil. Baginda Raja belajar bahwa ketakutan adalah senjata, dan seseorang telah menggunakan senjata itu untuk menjatuhkannya. Ia juga belajar bahwa ramalan tidak akan terjadi jika kita tidak takut—karena ramalan hanyalah kemungkinan, bukan kepastian.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 6 MISTERI SUARA GAIB DI BALIK SINGGASANA
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 6 MISTERI SUARA GAIB DI BALIK SINGGASANA

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

Sinopsis Singkat Di tengah malam, Istana Baghdad diguncang oleh bisikan misterius yang memanggil-manggil nama Baginda Raja Harun Al-Rasyid dari balik singgasana. Para penjaga ketakutan, ada yang pingsan, ada yang jatuh sakit. Kabar tentang "hantu" atau "jin istana" menyebar cepat. Para ahli supranatural yang dipimpin Syekh Abdul Jabal dipanggil untuk mengusir makhluk gaib tersebut. Mereka melakukan ritual, membakar dupa, dan membaca doa-doa. Namun suara itu tetap datang setiap malam. Baginda Raja bingung dan gelisah. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Baginda Raja setuju, tetapi kali ini ia memanggil dengan cara yang berbeda—bukan dengan ancaman, tetapi dengan permintaan bantuan yang tulus. Abu Nawas datang dengan senyum khasnya. Ia mendengar cerita tentang "jin istana" dari para ahli supranatural. Syekh Abdul Jabal mengklaim bahwa jin itu adalah penjaga istana sejak zaman kakek Baginda Raja, yang marah karena Baginda Raja melupakan tradisi dan tidak lagi mendengarkan bisikan dari dunia lain. Abu Nawas, alih-alih takut, justru tertawa. Ia meminta izin untuk bermalam sendirian di ruang singgasana—tanpa pengawal, tanpa senjata, tanpa doa. Hanya dengan kurma dan air tajin. Para ahli supranatural protes, tetapi Baginda Raja mengizinkan. Malam itu, Abu Nawas mendengar bisikan itu. Ia tidak takut. Ia berbicara pada "jin" itu dengan santai, menantangnya untuk menunjukkan diri. Suara itu marah dan mengancam. Abu Nawas justru tersenyum dan mulai mencari sumber suara. Di balik singgasana, di balik tirai sutra yang tidak pernah dibuka, ia menemukan celah kecil di dinding. Di seberang celah itu, ia mendengar suara napas manusia. Abu Nawas memasang jebakan sederhana: benang tipis dengan lonceng kecil dan tepung di lantai. Malam berikutnya, ketika bisikan itu muncul, lonceng berbunyi dan jejak kaki tertinggal di tepung. Para penjaga menangkap seorang lelaki yang sedang berlari dari balik dinding. Ternyata itu adalah Khalid, mantan penjaga istana yang dipecat tiga bulan lalu karena dituduh mencuri tanpa bukti dan tanpa pengadilan. Khalid mengaku bahwa ia melakukan itu semua untuk balas dendam—ia ingin membuat istana takut, seperti ia sendiri yang takut dan putus asa karena kehilangan pekerjaan dan kehormatan. Baginda Raja Harun Al-Rasyid, alih-alih marah, justru sedih. Ia memerintahkan Jafar untuk menyelidiki apakah Khalid benar-benar bersalah. Jika tidak, ia akan mengembalikan kehormatan dan pekerjaan Khalid. Para ahli supranatural, termasuk Syekh Abdul Jabal, menerima pelajaran berharga: bahwa tidak semua yang tak terlihat itu gaib—kadang hanya belum dipahami atau belum dicari. Di Kedai Al-Farabi, Abu Nawas duduk bersama Jafar dan Syekh Abdul Jabal—yang kini menjadi muridnya. Mereka tertawa dan minum air tajin. Abu Nawas mengajarkan bahwa yang paling menakutkan bukan makhluk gaib, tetapi pikiran kita sendiri saat dikuasai rasa takut. Ketakutan menciptakan bayangan yang semakin besar dan gelap, sampai kita tidak bisa membedakan antara bayangan dan kenyataan.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 5 RAHASIA SURAT TANPA TULISAN DARI ISTANA BAGHDAD
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 5 RAHASIA SURAT TANPA TULISAN DARI ISTANA BAGHDAD

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

Sinopsis Singkat Di penghujung musim gugur, seorang utusan dari kerajaan besar di timur tiba di Istana Baghdad dengan membawa sebuah peti kayu cendana berukir indah, bantal sutra merah, dan cap lilin kerajaan yang masih utuh. Namun ketika Baginda Raja Harun Al-Rasyid membuka surat itu dengan penuh kehormatan, yang ia temukan hanyalah selembar perkamen kosong—putih bersih, tanpa satu huruf pun, tanpa satu kata pun, tanpa satu tanda pun. Para penasihat istana, cendekiawan, ahli bahasa, dan ahli kode berkumpul semalaman. Mereka memanaskan perkamen, mendinginkannya, membasahinya, menggosoknya dengan abu, menyinarinya dengan cahaya dari berbagai sudut. Tidak ada yang muncul. Surat itu benar-benar kosong. Imam Syafii al-Marzuki, ketua majelis penasihat yang belum pernah gagal dalam tiga puluh tahun, menyatakan bahwa surat itu tidak memiliki makna. Baginda Raja Harun Al-Rasyid bingung. Ia tidak bisa tidur. Ia terus menatap surat kosong itu, bertanya-tanya apa maksudnya. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Abu Nawas datang dengan jubah lusuh dan kurma di tangannya. Ia tidak memeriksa surat dengan alat-alat rumit. Ia hanya mendengarkan cerita Baginda Raja tentang hubungan diplomatik yang pernah hangat dengan kerajaan timur, yang tiba-tiba menjadi dingin setelah tawaran pernikahan antara putra mahkota Al-Amin dan putri raja timur ditolak dengan diam—tanpa surat balasan, tanpa kabar, tanpa penjelasan. Baginda Raja, yang tersinggung, memilih untuk juga diam. Abu Nawas menyadari bahwa surat kosong adalah cermin dari keheningan yang dikirim Baginda Raja. Ia menjelaskan bahwa keheningan adalah bahasa yang paling jujur—kata-kata bisa dibohongi, tetapi diam tidak pernah berbohong. Surat kosong itu adalah pesan: raja timur juga merindukan persahabatan yang pernah indah. Alih-alih membalas dengan kata-kata atau hadiah mewah, Abu Nawas mengusulkan sesuatu yang sederhana namun dalam: perkamen kosong (sebagai cermin keheningan) dan sebuah kotak kayu sederhana berisi satu kurma Sukkari dari kebun pribadi Baginda Raja—kurma yang tumbuh di pohon yang ditanam oleh kakek Baginda, dirawat oleh ayah Baginda, dan dijaga oleh Baginda sendiri. Para penasihat istana protes. Mereka menganggap ide Abu Nawas terlalu sederhana, bahkan menghina. Imam Syafii merasa ini akan mempermalukan kekhalifahan. Namun Baginda Raja memilih percaya pada Abu Nawas. Peti kayu cendana berisi perkamen kosong dan kurma dikirim ke timur dengan utusan terbaik dan pengawal bersenjata. Beberapa pekan kemudian, utusan kembali. Di dalam kotak kayu yang sama, Baginda Raja menemukan kurma yang sudah dimakan setengahnya dan selembar kertas kecil bertuliskan: "Persahabatan yang manis tidak perlu dihabiskan sekaligus. Cukup dinikmati sedikit demi sedikit. Agar manisnya bertahan lama." Baginda Raja menangis haru. Persahabatan yang retak telah diperbaiki—bukan dengan emas, bukan dengan kata-kata panjang, tetapi dengan keheningan yang dimengerti dan kurma yang dibagi.

Mulai Membaca
← SebelumnyaHalaman 17 dari 27Berikutnya →