
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 4 kali
Sinopsis Singkat Baginda Raja Harun Al-Rasyid terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin. Ia bermimpi: duduk di singgasana dikelilingi orang-orang tercinta, lalu satu per satu giginya tanggal, dan setiap kali gigi tanggal, satu orang di sekelilingnya menghilang. Pada akhirnya, ia sendirian di singgasana yang kosong. Mimpi itu menghantuinya. Para ahli tafsir mimpi dipanggil. Imam Marzuki menafsirkan bahwa gigi yang tanggal berarti kematian kerabat—Baginda akan kehilangan semua orang yang dicintainya. Syekh Abdul Jabal menafsirkan sebaliknya: mimpi itu pertanda umur panjang—Baginda akan hidup lebih lama dari semua kerabatnya. Ahli tafsir lain memberikan berbagai pendapat—kehilangan kebijaksanaan, kehilangan jati diri, dan sebagainya. Kebingungan dan ketakutan menyebar ke seluruh istana. Para pejabat saling curiga, para komandan gelisah, dayang-dayang menangis. Istana yang dulu megah berubah menjadi lautan kepanikan. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Abu Nawas datang dengan kurma di tangan dan senyum misteriusnya. Ia tidak langsung menafsirkan. Sebaliknya, ia bertanya kepada para ahli: "Apakah kalian yakin? Apakah kalian tidak mungkin salah? Apakah tafsir kalian satu-satunya yang benar?" Para ahli mengakui bahwa mimpi bisa ditafsirkan dengan banyak cara—semua ada dalam kitab, semua bisa dibenarkan. Abu Nawas kemudian memberikan pelajaran berharga: makna adalah pilihan. Mimpi yang sama bisa dilihat sebagai malapetaka atau sebagai berkah. Seperti dua orang melihat awan gelap—satu melihat hujan yang akan membuatnya basah dan sakit, yang lain melihat hujan yang akan menyuburkan tanaman. Awan yang sama, makna yang berbeda. Abu Nawas mengingatkan Baginda Raja bahwa ketakutan adalah pilihan. Jika ia memilih tafsir yang menakutkan, ia akan hidup dalam ketakutan dan kehancuran. Jika ia memilih tafsir yang menenangkan, ia akan hidup dalam kedamaian dan kesyukuran. Baginda Raja Harun Al-Rasyid memilih untuk melihat mimpi itu sebagai berkah. Ia memilih untuk bersyukur atas waktu yang masih ia miliki bersama orang-orang tercinta. Ia mengumumkan kepada seluruh istana bahwa mimpi itu bukan pertanda malapetaka, melainkan pengingat untuk menghargai setiap momen kebersamaan. Istana kembali tenang. Para ahli tafsir belajar bahwa kebenaran tidak selalu hitam putih—yang lebih penting bukan hanya apa yang dikatakan kitab, tetapi bagaimana kebenaran itu disampaikan: apakah menyakitkan atau menenangkan, apakah menghancurkan atau menyembuhkan.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.