
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 4 kali
Sinopsis Singkat Di penghujung musim gugur, seorang utusan dari kerajaan besar di timur tiba di Istana Baghdad dengan membawa sebuah peti kayu cendana berukir indah, bantal sutra merah, dan cap lilin kerajaan yang masih utuh. Namun ketika Baginda Raja Harun Al-Rasyid membuka surat itu dengan penuh kehormatan, yang ia temukan hanyalah selembar perkamen kosong—putih bersih, tanpa satu huruf pun, tanpa satu kata pun, tanpa satu tanda pun. Para penasihat istana, cendekiawan, ahli bahasa, dan ahli kode berkumpul semalaman. Mereka memanaskan perkamen, mendinginkannya, membasahinya, menggosoknya dengan abu, menyinarinya dengan cahaya dari berbagai sudut. Tidak ada yang muncul. Surat itu benar-benar kosong. Imam Syafii al-Marzuki, ketua majelis penasihat yang belum pernah gagal dalam tiga puluh tahun, menyatakan bahwa surat itu tidak memiliki makna. Baginda Raja Harun Al-Rasyid bingung. Ia tidak bisa tidur. Ia terus menatap surat kosong itu, bertanya-tanya apa maksudnya. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Abu Nawas datang dengan jubah lusuh dan kurma di tangannya. Ia tidak memeriksa surat dengan alat-alat rumit. Ia hanya mendengarkan cerita Baginda Raja tentang hubungan diplomatik yang pernah hangat dengan kerajaan timur, yang tiba-tiba menjadi dingin setelah tawaran pernikahan antara putra mahkota Al-Amin dan putri raja timur ditolak dengan diam—tanpa surat balasan, tanpa kabar, tanpa penjelasan. Baginda Raja, yang tersinggung, memilih untuk juga diam. Abu Nawas menyadari bahwa surat kosong adalah cermin dari keheningan yang dikirim Baginda Raja. Ia menjelaskan bahwa keheningan adalah bahasa yang paling jujur—kata-kata bisa dibohongi, tetapi diam tidak pernah berbohong. Surat kosong itu adalah pesan: raja timur juga merindukan persahabatan yang pernah indah. Alih-alih membalas dengan kata-kata atau hadiah mewah, Abu Nawas mengusulkan sesuatu yang sederhana namun dalam: perkamen kosong (sebagai cermin keheningan) dan sebuah kotak kayu sederhana berisi satu kurma Sukkari dari kebun pribadi Baginda Raja—kurma yang tumbuh di pohon yang ditanam oleh kakek Baginda, dirawat oleh ayah Baginda, dan dijaga oleh Baginda sendiri. Para penasihat istana protes. Mereka menganggap ide Abu Nawas terlalu sederhana, bahkan menghina. Imam Syafii merasa ini akan mempermalukan kekhalifahan. Namun Baginda Raja memilih percaya pada Abu Nawas. Peti kayu cendana berisi perkamen kosong dan kurma dikirim ke timur dengan utusan terbaik dan pengawal bersenjata. Beberapa pekan kemudian, utusan kembali. Di dalam kotak kayu yang sama, Baginda Raja menemukan kurma yang sudah dimakan setengahnya dan selembar kertas kecil bertuliskan: "Persahabatan yang manis tidak perlu dihabiskan sekaligus. Cukup dinikmati sedikit demi sedikit. Agar manisnya bertahan lama." Baginda Raja menangis haru. Persahabatan yang retak telah diperbaiki—bukan dengan emas, bukan dengan kata-kata panjang, tetapi dengan keheningan yang dimengerti dan kurma yang dibagi.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.