
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 6 kali
Sinopsis Singkat Istana Baghdad dilanda kepanikan setelah seorang peramal istana menyebarkan ramalan mengerikan: "Baginda Raja Harun Al-Rasyid akan kehilangan tahta dalam waktu dekat." Kabar ini menyebar cepat seperti api, memicu kecurigaan, penangkapan massal, dan penghukuman tanpa pengadilan. Para pejabat saling menuduh, para komandan dicopot dari jabatan, dan dayang-dayang setia diusir tanpa alasan. Istana yang dulu megah kini berubah menjadi penjara ketakutan. Baginda Raja Harun Al-Rasyid, meskipun tidak percaya pada ramalan, mulai goyah. Ia memerintahkan penangkapan siapa pun yang dianggap mencurigakan. Para ahli supranatural—Syekh Abdul Jabal, Syekh Hasan, dan Syekh Ibrahim—semua sepakat bahwa ramalan itu benar. Bintang-bintang menunjukkan perubahan besar, mimpi-mimpi menunjukkan singgasana kosong, dan pola pasir menunjukkan keretakan di fondasi kekuasaan. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Baginda Raja setuju, dan Abu Nawas datang dengan jubah lusuh, kurma di tangan, dan senyum misteriusnya. Abu Nawas tidak langsung memecahkan masalah. Ia hanya bertanya: "Apakah ramalan itu pasti terjadi atau hanya kemungkinan?" Para ahli supranatural terpaksa mengakui bahwa ramalan hanyalah kemungkinan—mereka bisa salah, bintang bisa salah dibaca, mimpi bisa keliru, dan pasir bisa disalahartikan. Abu Nawas kemudian mengajukan pertanyaan kunci: "Jika semua orang percaya Baginda akan jatuh, bukankah ketakutan itulah yang justru akan menjatuhkannya? Jika semua orang curiga, bukankah kecurigaan itu yang akan menciptakan pengkhianat?" Abu Nawas mengusulkan ujian sederhana: hidup normal. Jangan takut, jangan panik, jangan tangkap orang tanpa bukti. Biarkan ramalan itu terjadi jika memang takdir—atau biarkan ia terbukti salah jika hanya tipuan. Hari-hari berlalu. Istana kembali normal. Tidak ada penangkapan, tidak ada kecurigaan, tidak ada kepanikan. Dan ramalan itu tidak terjadi. Tahta tetap aman, Baginda Raja tidak jatuh, kekuasaan tidak berpindah. Namun Abu Nawas terus mencari. Pada suatu malam, ia menemukan jawabannya: seorang pejabat tinggi yang selama ini dekat dengan Baginda Raja adalah dalang di balik ramalan itu. Motifnya sederhana—dendam dan iri karena merasa tidak dihargai dan ingin mengambil alih kekuasaan. Pejabat itu diadili dan dihukum dengan adil. Baginda Raja belajar bahwa ketakutan adalah senjata, dan seseorang telah menggunakan senjata itu untuk menjatuhkannya. Ia juga belajar bahwa ramalan tidak akan terjadi jika kita tidak takut—karena ramalan hanyalah kemungkinan, bukan kepastian.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.