Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.
Total Koleksi
213 Buku
Total Pembaca
1129 Kali
Lokasi Layanan
Desa Sriwidadi
Menampilkan 213 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 3
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan panjang persahabatan antara Agus Sabara dan Titik Mukti Aryanti, dua sahabat kecil dari kampung yang tumbuh bersama sejak usia delapan dan sepuluh tahun. Di bawah pohon mangga besar, mereka membuat surat janji persahabatan dengan sidik jari arang lidi—berjanji untuk menjadi sahabat selamanya, tidak peduli jarak dan waktu. Namun bagi Agus, persahabatan itu tumbuh menjadi lebih dari sekadar rasa sayang. Sejak usia tiga belas tahun, ia diam-diam mencintai Titik. Tapi ia memilih untuk menyembunyikan perasaannya, takut kehilangan persahabatan mereka jika ia mengaku. Ia menjadi "sahabat sejati" yang setia mendampingi setiap jatuh bangun Titik—menyaksikan Titik berganti pacar berkali-kali, patah hati berulang kali, dan selalu menjadi tempat curhat, pelabuhan darurat, serta jaring pengaman bagi Titik. Titik, yang lima belas tahun lebih tua dari Agus, terlalu sibuk mencari cinta di tempat yang salah. Ia jatuh pada pria-pria yang datang dengan gemerlap: Rendra, Robi, Handoko, Andre, Farhan, Dimas, Edo, Arman, hingga Reza—semua berakhir dengan patah hati. Dan setiap kali, Agus selalu ada: mendengarkan, menghibur, membersihkan kamar berantakan, memasak makanan hangat, dan menjadi bahu untuk menangis. Perjalanan mereka terbentang dari masa kecil di kampung, masa remaja di SMA, masa kuliah di Bandung dan Jakarta, hingga kehidupan dewasa di dunia kerja. Jarak dan waktu tak pernah memisahkan mereka, karena Agus selalu setia datang ketika Titik membutuhkan—bahkan harus menembus malam Puncak dengan motor butut hanya untuk menjenguk Titik yang kecelakaan di rumah sakit. Titik akhirnya sadar setelah sekian lama: cinta sejati tidak datang dengan gemerlap, tetapi dengan langkah pelan, setia, dan tidak pernah pergi. Ia menyadari bahwa selama ini ia mencari cinta di tempat yang salah, sementara orang yang paling mencintainya selalu ada di depan matanya—sebagai sahabat yang tak pernah pergi. Mereka pun menikah, membangun keluarga dari nol, melewati suka duka pernikahan, kelahiran anak bernama Tegar, sakit dan sehat, hingga usia senja. Agus meninggal lebih dulu dengan tenang, meninggalkan Titik yang setia menunggu di kampung—di bawah pohon mangga yang tumbuh kembali, tempat janji persahabatan mereka pertama kali diucapkan. Kisah diwariskan kepada Tegar dan anak-anaknya, menjadi pelajaran bahwa sahabat sejati tak pernah pergi—bahkan kematian tidak bisa memisahkan cinta yang tulus.
Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 3
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan cinta Andika Pratama, seorang mekanik bengkel di Kuala Kapuas, dan Reni Ayu Wulandari, seorang gadis SMA yang dilarang keras oleh orang tuanya untuk berpacaran sebelum kuliah. Kisah cinta mereka dimulai dari sebuah kecelakaan kecil di Bundaran Besar Kapuas—ketika Andika secara tidak sengaja menyenggol bahu Reni hingga jatuh, dan dari situlah benih cinta pertama kali tumbuh. Perjalanan mereka tidaklah mudah. Pak Wulandari, ayah Reni yang mantan polisi dan kini politisi, melarang keras hubungan mereka. Andika dianggap tidak pantas karena hanya seorang mekanik tanpa masa depan jelas. Rahmat, teman sekelas Reni yang berasal dari keluarga terpandang, menjadi saingan Andika yang terus berusaha merebut hati Reni dengan segala cara. Di tengah larangan dan tekanan, Andika dan Reni tetap berkomunikasi melalui surat yang dikirim secara diam-diam melalui sahabat mereka, Susan. Surat-surat cinta itu menjadi jembatan yang menjaga hubungan mereka tetap hidup, meskipun jarak dan larangan memisahkan. Andika berjanji akan setia menunggu di bangku kayu Bundaran Besar setiap akhir pekan, dan ia menepati janjinya—bahkan ketika Reni tidak bisa datang. Setelah bertahun-tahun berjuang, Reni lulus SMA dan memilih kuliah di Banjarmasin tanpa sepengetahuan ayahnya, sebuah keputusan berani yang menunjukkan kedewasaannya. Di tengah perjalanan kuliahnya, Rahmat terus berusaha mendekati Reni, bahkan hingga melibatkan orang tua dan merencanakan lamaran. Namun cinta Andika dan Reni terbukti lebih kuat. Kebahagiaan mereka nyaris sirna ketika Reni mengalami kecelakaan lalu lintas di Banjarmasin—kakinya patah parah akibat ditabrak mobil yang ternyata dikendarai adik Rahmat yang kabur dari kejaran polisi. Rahmat kemudian kabur ke Malaysia, sementara Reni harus menjalani terapi panjang untuk bisa berjalan normal kembali. Andika tidak pernah meninggalkan sisi Reni. Dengan kesabaran dan cinta yang tulus, ia mendampingi setiap langkah terapi, menguatkan Reni saat putus asa. Sementara itu, bisnis bengkel Andika berkembang pesat hingga memiliki cabang di Palangkaraya. Kesuksesannya membuktikan bahwa ia layak menjadi pendamping hidup Reni. Akhirnya, setelah melalui badai larangan, cemburu, kecelakaan, dan pengkhianatan, restu dari Pak Wulandari pun datang. Andika dan Reni menikah sederhana di bawah senja Bundaran Besar Kapuas—tempat di mana semuanya dimulai. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Renita Ayu Andika. Dua puluh lima tahun kemudian, Andika dan Reni yang kini telah beruban masih setia duduk di bangku kayu yang sama, menyaksikan putri mereka tumbuh dewasa dan menemukan cintanya sendiri. Bundaran Besar Kapuas tetap menjadi saksi bisu bahwa cinta sejati, meski harus melalui rintangan, akan selalu menemukan jalannya pulang.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 3
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan panjang transformasi Desa Awan Biru melalui tiga generasi kepemimpinan yang berbeda, dimulai dari era Pak Iwan (Generasi Pertama) yang merintis digitalisasi desa dengan segala keterbatasan dan kesalahan, dilanjutkan oleh Arjuna (Generasi Kedua) yang mewarisi fondasi tersebut dan membawanya lebih maju, hingga Joko (Generasi Ketiga) yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Cerita berpusat pada Warung RT 02—sebuah warung kopi sederhana yang menjadi saksi bisu perjalanan desa selama puluhan tahun. Dari warung inilah segala sesuatu bermula: obrolan warga, keluhan petani, diskusi pembangunan, hingga lahirnya ide-ide besar yang mengubah desa. Pak Iwan memulai era digitalisasi dengan susah payah. Didampingi Amat, tenaga IT desa yang sering melakukan kesalahan namun tak pernah menyerah, serta Bambang dan Rizki yang kemudian bergabung, mereka membangun sistem administrasi desa dari nol. Dari insiden bocornya APBDes, server yang sering error, hingga pelan-pelan meyakinkan warga akan manfaat teknologi—semua menjadi bagian dari proses panjang menuju desa yang transparan dan modern. Di tengah perjalanan, muncullah Erlangga, mahasiswa kedokteran yang datang untuk penelitian dan jatuh cinta pada Anita, kader posyandu desa. Kisah cinta mereka menjadi simbol bagaimana desa dan kota bisa bersatu. Sementara itu, Pak Santoso—petani cerewet yang selalu mengajukan puluhan usulan di setiap musyawarah—menjadi representasi warga kritis yang justru mendorong kemajuan desa. Arjuna, putra Erlangga dan Anita, tumbuh menjadi pemimpin muda yang membawa desa ke puncak kejayaannya. Ia mewarisi mimpi Pak Iwan dan menyempurnakannya: wisata desa berbasis digital, UMKM go online, sistem kesehatan terintegrasi, hingga menjadikan Desa Awan Biru sebagai percontohan digital di tingkat kabupaten. Di balik kemajuan, tetap ada ujian: serangan ransomware yang melumpuhkan server nasional, protes warga yang kehilangan lahan pertanian, serta tantangan regenerasi kepemimpinan. Namun dengan semangat gotong royong dan warisan nilai-nilai luhur dari generasi sebelumnya, desa ini terus bangkit. Kisah ditutup dengan Joko (putra Arjuna) dan Titik (putri Julia, pengelola warung) yang bersiap menjadi Generasi Ketiga penerus estafet pembangunan. Warung RT 02 tetap berdiri—menjadi saksi bisu bahwa langit Awan Biru tak pernah berubah, hanya manusia dan zamannya yang terus berganti.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 3
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan tiga anak muda desa—Joko Legono, Titik Mukti Aryanti, dan Juana Purwanto—yang disebut oleh sesepuh desa sebagai "Trisula", tiga kekuatan berbeda yang akan menjadi tulang punggung Desa Awan Biru. Joko baru pulang dari merantau di Surabaya dengan ambisi membangun desanya melalui program Smart Village. Titik adalah gadis desa yang setia melestarikan kesenian tradisional, menyimpan luka karena kepergian Joko tanpa pamit lima tahun lalu. Juana adalah lulusan ilmu pemerintahan yang bertekad membawa tata kelola desa yang bersih dan transparan. Kisah dimulai ketika ketiganya kembali dipertemukan di Warung Mbah Karyo—tempat di mana segala cerita desa bermula. Namun kehidupan tak semudah yang mereka bayangkan. Program Smart Village menghadapi sabotase dan fitnah. Joko dituduh korupsi, sementara di balik layar, oknum desa menggerakkan politik kotor untuk menggagalkan program tersebut. Bencana banjir bandang melanda desa, menguji keberanian mereka. Di tengah malam yang mencekam, Mbah Anto—sesepuh yang telah memprediksi kehadiran Trisula—memilih untuk tetap di bawah pohon beringin tua demi menjaga akar desa, mengorbankan nyawanya demi mengingatkan generasi penerus akan nilai-nilai luhur kepemimpinan. Di tengah bencana, cinta Joko dan Titik yang selama ini terpendam akhirnya bersemi. Namun Juana, yang diam-diam menyimpan perasaan pada Joko, harus belajar melepaskan dan menemukan jalan pengabdiannya sendiri sebagai pengawas yang tegas melalui kursi BPD. Kasus korupsi desa yang melibatkan Kepala Desa Arjuna dan oknum-oknum lainnya akhirnya terungkap. Arjuna mengakui kesalahannya di depan umum—sebuah tindakan berani yang mengembalikan kepercayaan warga. Keris pusaka desa pun diwariskan kepada Trisula sebagai simbol tanggung jawab generasi keempat. Setelah melalui ujian cinta, fitnah, bencana, dan kekuasaan, Joko terpilih sebagai Kepala Desa dan Juana sebagai Ketua BPD. Mereka membangun desa dengan prinsip transparansi, menggabungkan teknologi modern dengan kearifan lokal, dan mewariskan semangat gotong royong kepada generasi berikutnya. Tiga puluh tahun kemudian, di bawah pohon beringin yang sama, ketiganya duduk sebagai sesepuh desa, menyaksikan generasi baru mulai menulis cerita mereka sendiri—menjadi bukti bahwa warisan cinta, pengabdian, dan keberanian tidak akan pernah usai selama langit di atas Desa Awan Biru masih biru.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 4
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan cinta pertama Riyadi, seorang remaja desa di Tegorejo, Kendal, pada era 1990-an. Kehidupannya yang sederhana—ditemani sepeda ontel, latihan karate, dan sandiwara radio—berubah ketika ia bertemu dengan Aryanti (Sinok) , gadis ceria yang mudah akrab dengan siapa saja. Awalnya Riyadi hanya menganggap Aryanti sebagai adik angkat dan junior karate. Namun kedekatan yang tumbuh di antara latihan karate, perjalanan pulang bersama, dan panggilan khusus "Sinok" perlahan mengubah segalanya. Cinta pertama mereka tumbuh diam-diam, sederhana namun mendalam, di tengah jalanan desa dan hamparan sawah. Namun kehidupan anak desa tak selalu seindah mimpi. Kelulusan SMA memaksa Riyadi merantau ke Tangerang, meninggalkan Aryanti tanpa pamit. Jarak dan waktu perlahan memisahkan mereka. Pertemuan terakhir di turnamen karate Kapolres Cup menjadi saksi bahwa kehidupan telah membawa mereka ke arah berbeda. Puluhan tahun kemudian, di usianya yang telah senja, Riyadi masih menyimpan kenangan tentang Sinok—cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang dari hatinya. Novel ini menjadi pengingat bahwa cinta pertama bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang bagaimana ia tetap hidup sebagai kenangan hangat yang menemani langkah kehidupan hingga usia senja.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 3
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan emosional Riyanti, seorang remaja di Kuala Kapuas—"Kota Air" yang tenang dan ramah—yang hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan dua sosok berbeda: Ahmadi, pemuda pendiam yang hadir seperti cahaya senja, hangat namun tak menetap; dan Rendi, sosok misterius yang diam-diam mengatur arah cerita dari balik layar. Awalnya segalanya tampak seperti kisah cinta sederhana di kota kecil. Pertemuan tak sengaja di Bundaran Besar, tatapan pertama yang berkesan, dan perasaan yang perlahan tumbuh tanpa pernah diberi nama. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang bergerak seperti arus bawah Sungai Kapuas—sebuah permainan yang dikendalikan oleh Rendi, yang sejak awal telah merancang skenario untuk menguji apakah perasaan manusia bisa bertahan di tengah gangguan yang direkayasa. Persahabatan yang tampak kuat mulai retak oleh rahasia dan kesalahpahaman yang sengaja dibentuk. Ahmadi memilih pergi karena merasa tidak cukup layak. Riyanti terjebak dalam kekosongan yang panjang. Dan Rendi, dengan bantuan Kamila dan Sulton, terus mengarahkan setiap langkah mereka tanpa terlihat. Namun ketika kebenaran mulai terbuka—ketika luka lama terungkap dan kendali mulai lepas dari tangan Rendi—Riyanti harus menghadapi keputusan terbesar dalam hidupnya: apakah ia akan memilih masa lalu yang hangat namun menyakitkan, masa depan yang ia ragukan, atau dirinya sendiri? Di tepian Sungai Kapuas yang menjadi saksi bisu, kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kehancuran. Ada akhir yang lebih dewasa—di mana seseorang belajar melepaskan tanpa benci, menerima tanpa lupa, dan akhirnya memilih untuk menjadi diri sendiri.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 4
Sinopsis Novel ini mengisahkan tentang semangat perubahan yang digerakkan oleh generasi muda di Desa Awan Biru. Guntur Pangestu, seorang pemuda yang baru pulang dari kota setelah tiga tahun merantau, kembali ke desanya dengan segudang mimpi dan keyakinan bahwa desa kecilnya bisa berubah menjadi lebih baik. Bersama sahabat-sahabatnya—Bambang si kader digital dengan kemeja kotak-kotaknya yang tak pernah rapi, Amat si admin desa yang selalu mengeluh tapi paling bisa diandalkan, Hermansyah ketua Karang Taruna yang tegas, serta Adila si guru TK yang menjadi penyejuk di tengah panasnya perdebatan—mereka memulai perubahan dari warung kopi Mbah Karyo, pusat segala cerita dan inspirasi desa. Perjuangan mereka tidak mudah. Dari proposal yang nyaris gagal, rapat yang selalu molor, stempel desa yang tiba-tiba hilang, hingga program digitalisasi yang hampir runtuh di hari pertama karena listrik padam dan laptop blue screen. Setiap kegagalan menjadi pelajaran, setiap jatuh menjadi cambuk untuk bangkit lebih kuat. Namun di balik semua kesulitan itu, ada tawa yang tak pernah padam, ada kopi yang selalu tersedia, dan ada keyakinan bahwa "serius" tidak harus berarti "kaku", dan "santai" tidak berarti "malas". Mereka belajar bahwa perubahan tidak harus dimulai dengan cara yang besar dan megah, tetapi cukup dari hal kecil, dari tempat sederhana, dari tekad untuk tidak menyerah. Novel ini adalah tentang mimpi, persahabatan, dan keberanian untuk memulai. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah desa kecil bisa bersinar terang, bukan karena teknologi canggih atau anggaran besar, tetapi karena orang-orang di dalamnya memilih untuk percaya—bahwa perubahan itu mungkin, dan mereka adalah bagian darinya.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 4
Sinopsis Novel ini mengisahkan tentang dinamika dan peran krusial Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam mengawal pembangunan di Desa Awan Biru. Setelah masa kepemimpinan yang penuh gejolak, BPD yang baru terpilih—dengan tokoh-tokoh seperti Pak Didit yang tegas, Pak Rudi yang santun, dan Ibu Leni yang vokal—harus segera menjalankan fungsi pengawasannya. Konflik mulai memuncak ketika mereka menemukan kejanggalan dalam anggaran pembangunan fisik, terutama terkait spesifikasi material yang tidak sesuai. Ketegangan antara BPD dan Pemerintah Desa memuncak, namun mereka berusaha mencari titik temu melalui musyawarah di Balai Desa dan koordinasi teknis di Kantor Desa. Di tengah jalan, mereka juga bergulat dengan pertanyaan mendasar: apakah program pemberdayaan masyarakat hanya sekadar formalitas atau benar-benar berdampak? Bencana banjir dan longsor yang melanda desa menjadi ujian terbesar. Dalam kondisi darurat, kepercayaan publik mulai goyah karena isu penggunaan anggaran yang tidak transparan. Hampir terjadi perpecahan, namun akhirnya BPD dan pemerintah desa sepakat untuk menggelar audit terbuka. Melalui proses yang jujur dan transparan, mereka berhasil memulihkan kepercayaan warga. Novel ini adalah sebuah simfoni tentang bagaimana kolaborasi, keberanian untuk jujur, dan keterbukaan dapat menciptakan harmoni dalam pembangunan desa, menjadikan BPD sebagai "suara rakyat" yang sesungguhnya, dan mengubah desa menjadi lebih adil dan sejahtera. buatkan disclaimernya Tentu, berdasarkan naskah novel berjudul "Simfoni Pembangunan Desa" yang telah Anda berikan, berikut adalah disclaimer (pernyataan sanggahan) yang sesuai dan umum digunakan untuk karya fiksi:
Mulai Membaca