
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 3 kali
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan tiga anak muda desa—Joko Legono, Titik Mukti Aryanti, dan Juana Purwanto—yang disebut oleh sesepuh desa sebagai "Trisula", tiga kekuatan berbeda yang akan menjadi tulang punggung Desa Awan Biru. Joko baru pulang dari merantau di Surabaya dengan ambisi membangun desanya melalui program Smart Village. Titik adalah gadis desa yang setia melestarikan kesenian tradisional, menyimpan luka karena kepergian Joko tanpa pamit lima tahun lalu. Juana adalah lulusan ilmu pemerintahan yang bertekad membawa tata kelola desa yang bersih dan transparan. Kisah dimulai ketika ketiganya kembali dipertemukan di Warung Mbah Karyo—tempat di mana segala cerita desa bermula. Namun kehidupan tak semudah yang mereka bayangkan. Program Smart Village menghadapi sabotase dan fitnah. Joko dituduh korupsi, sementara di balik layar, oknum desa menggerakkan politik kotor untuk menggagalkan program tersebut. Bencana banjir bandang melanda desa, menguji keberanian mereka. Di tengah malam yang mencekam, Mbah Anto—sesepuh yang telah memprediksi kehadiran Trisula—memilih untuk tetap di bawah pohon beringin tua demi menjaga akar desa, mengorbankan nyawanya demi mengingatkan generasi penerus akan nilai-nilai luhur kepemimpinan. Di tengah bencana, cinta Joko dan Titik yang selama ini terpendam akhirnya bersemi. Namun Juana, yang diam-diam menyimpan perasaan pada Joko, harus belajar melepaskan dan menemukan jalan pengabdiannya sendiri sebagai pengawas yang tegas melalui kursi BPD. Kasus korupsi desa yang melibatkan Kepala Desa Arjuna dan oknum-oknum lainnya akhirnya terungkap. Arjuna mengakui kesalahannya di depan umum—sebuah tindakan berani yang mengembalikan kepercayaan warga. Keris pusaka desa pun diwariskan kepada Trisula sebagai simbol tanggung jawab generasi keempat. Setelah melalui ujian cinta, fitnah, bencana, dan kekuasaan, Joko terpilih sebagai Kepala Desa dan Juana sebagai Ketua BPD. Mereka membangun desa dengan prinsip transparansi, menggabungkan teknologi modern dengan kearifan lokal, dan mewariskan semangat gotong royong kepada generasi berikutnya. Tiga puluh tahun kemudian, di bawah pohon beringin yang sama, ketiganya duduk sebagai sesepuh desa, menyaksikan generasi baru mulai menulis cerita mereka sendiri—menjadi bukti bahwa warisan cinta, pengabdian, dan keberanian tidak akan pernah usai selama langit di atas Desa Awan Biru masih biru.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.