Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.
Total Koleksi
241 Buku
Total Pembaca
3782 Kali
Lokasi Layanan
Desa Sriwidadi
Menampilkan 241 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 11
Sinopsis Singkat Joko Prasetyo lahir pada 17 Agustus 1950 di Desa Suka Maju, sebuah desa terpencil yang tertinggal oleh waktu. Sebagai anak petani miskin yang hanya memiliki sepetak sawah sewaan, ia tumbuh dalam keterbatasan—rumah panggung berdinding bambu, atap rumbia bocor, lampu minyak untuk belajar, dan sepatu bolong yang ditambal berkali-kali. Namun di dalam dadanya, api cita-cita menyala: suatu hari nanti, ia akan memimpin desanya dan membawanya keluar dari kemiskinan. Perjuangan Joko dimulai dari hal-hal sederhana. Setiap hari ia menyeberangi sungai dengan rakit bambu untuk bersekolah di kampung sebelah. Di bawah bimbingan guru bernama Ibu Sumarni, ia menemukan dunia melalui buku-buku pinjaman. Dukungan datang dari Pak Kades (Karman) yang menjadi mentornya, Mbah Karto yang mengajarkan ilmu pertanian, dan sahabat setianya, Budi. Saat keluarganya dilanda paceklik dan ayahnya sakit, Joko belajar bahwa bertahan dan meminta pertolongan adalah bagian dari perjuangan. Setelah lulus SMP dengan prestasi, Joko memilih pulang ke desa, bukan mencari kerja di kota. Ia memulai pengabdian dengan membuka kelas gratis untuk anak-anak, menghidupkan Karang Taruna, mendirikan perpustakaan desa "Cahaya Ilmu", dan membentuk Kelompok Tani "Tunas Harapan". Perjuangannya menarik perhatian warga—dan juga ancaman dari Haji Dulah, tengkulak yang merasa usaha mereka terancam. Fitnah, sabotase, dan politik uang ia hadapi dengan keteguhan hati. Pada usia 24 tahun, Joko maju sebagai calon kepala desa termuda. Lawan-lawannya adalah tokoh berpengalaman dan kaya raya yang menggunakan politik uang dan fitnah untuk menjatuhkannya. Namun dengan kampanye yang jujur dan dukungan rakyat kecil, Joko memenangkan pilkades. Ia dilantik menjadi Kepala Desa Suka Maju pada 12 Agustus 1974. Kepemimpinannya selama dua periode (1974-1984) membawa perubahan luar biasa: jalan beraspal sepanjang lima kilometer, jembatan beton di atas sungai, listrik masuk ke seluruh desa, irigasi, sekolah baru, puskesmas pembantu, koperasi desa, dan kelompok usaha perempuan. Ia memberantas korupsi dengan transparansi anggaran, menolak investor yang merusak lingkungan, dan selalu dekat dengan rakyat—turun ke sawah, mendengar keluhan, hadir di setiap acara warga. Setelah pensiun, Joko tetap mengabdi sebagai petani, guru ngaji, penulis buku, dan pendiri yayasan pendidikan. Ia juga mendirikan pondok pesantren, mengelola zakat dan wakaf, serta mengembangkan desa wisata berbasis kearifan lokal. Putranya, Prasetyo, meneruskan jejak pengabdiannya. Joko Prasetyo wafat pada 15 Maret 2024, di usia 69 tahun, meninggalkan desa yang telah berubah total dari keterbelakangan menjadi contoh desa maju. Kini namanya diabadikan sebagai nama jalan, museum, dan patung. Desa Suka Maju telah menjadi kota kecil yang modern, namun tetap menjaga nilai-nilai gotong royong dan kesederhanaan yang ia wariskan. Novel ini mengisahkan bahwa kemiskinan bukanlah takdir—melainkan titik awal untuk berjuang. Seorang pemimpin sejati lahir dari hati yang melayani, bukan dari kekuasaan yang memisahkan. Dari tepi sungai, dari rakit bambu, dari lampu minyak, mimpi seorang anak petani menjadi nyata: membangun desa, membangun manusia, dan meninggalkan jejak yang tak pernah hilang.
Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 10
Sinopsis Singkat Di sebuah desa kecil bernama Sumber Waras, lima sahabat—Ryahan, Niko, Naryo, Anita, dan Liana—tumbuh bersama dalam ikatan persahabatan yang kuat. Di antara mereka, Ryahan dan Amelia mulai merasakan benih-benih cinta yang tumbuh dari kedekatan dan ketulusan. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Indra, pemuda yang diam-diam menyimpan rasa iri kepada Ryahan, bersama Rinto dan Susianti mulai menyusun rencana jahat. Mereka menyebarkan fitnah, memalsukan surat, dan merancang kebakaran gudang kelompok tani untuk menjatuhkan nama baik Ryahan dan keluarganya. Fitnah itu memaksa Amelia menjauh dari Ryahan demi menjaga nama baik keluarganya. Persahabatan yang dulu kokoh mulai retak oleh kebohongan. Ryahan memilih pergi ke Kota Kuala Kapuas untuk mengikuti pelatihan dan membuktikan dirinya. Di sana ia berjuang keras, namun rindu pada desa dan Amelia tak pernah sirna. Surat-surat cintanya kepada Amelia sengaja dicegat dan disembunyikan oleh Rinto atas perintah Indra, sementara surat palsu dikirimkan untuk meyakinkan Amelia bahwa Ryahan telah melupakannya. Di tengah keterpurukan, kabar duka datang: Pak Rahmat, ayah Ryahan, meninggal dunia akibat sakit yang diperparah oleh tekanan fitnah yang terus menerpa keluarganya. Ryahan terlambat pulang dan hanya sempat melihat ayahnya terbujur kaku. Pulang ke desa dengan hati hancur, Ryahan justru menemukan kebenaran: surat-suratnya selama ini tidak pernah sampai kepada Amelia. Rinto akhirnya mengaku, disusul Susianti yang turut membongkar seluruh konspirasi Indra. Indra melarikan diri ke Kuala Kapuas, namun akhirnya menyerahkan diri di tepian Sungai Kapuas setelah dihadang Ryahan dan pihak kepolisian. Kebenaran terungkap. Nama baik Ryahan dan almarhum ayahnya dipulihkan. Amelia yang selama ini menahan rindu akhirnya mengetahui bahwa cinta mereka tak pernah padam—hanya terhalang kebohongan. Dengan restu kedua keluarga, Ryahan dan Amelia bersatu. Tiga tahun kemudian, mereka telah menikah dan memiliki seorang putra. Desa Sumber Waras bangkit kembali dari perpecahan. Indra menjalani proses hukum dan mulai memperbaiki hidupnya. Persahabatan yang sempat retak perlahan pulih. Di tepian Sungai Kapuas, tempat kebenaran akhirnya terungkap, Ryahan, Amelia, dan putra mereka menyaksikan mentari terbenam—sebuah pengingat bahwa setelah badai terbesar, mentari akan selalu kembali bersinar di ujung rindu. Novel ini mengisahkan bahwa cinta sejati akan bertahan meski diuji waktu dan fitnah, persahabatan sejati akan kembali meski sempat terkoyak pengkhianatan, dan harapan akan selalu menemukan jalannya—seperti mentari yang tak pernah padam di ujung rindu.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 12
Sinopsis Singkat Erlangga, seorang pemuda yang telah delapan tahun meninggalkan Desa Suka Makmur untuk mengejar karier di kota, memutuskan pulang setelah merasa hampa di tengah kesibukan hidup perkotaan. Ia kembali dengan buku catatan berisi rencana-rencana besar untuk membangun desanya, namun disambut oleh keraguan ayahnya dan kecurigaan warga yang telah lama kecewa oleh janji-janji kosong. Di desa, Erlangga bertemu kembali dengan Khinanti, gadis masa lalunya yang kini mengelola Rumah Baca Harapan—sebuah tempat sederhana yang menjadi ruang belajar bagi anak-anak desa. Khinanti yang pernah ia tinggalkan tanpa penjelasan, kini menjaga jarak dengan luka lama yang belum sembuh. Bersama Khinanti, Jatmiko dan pemuda desa, ibu-ibu kelompok usaha, serta tokoh masyarakat seperti Pak Wiryo, Erlangga perlahan membangun kembali kepercayaan warga. Mereka membersihkan lapangan, memperbaiki rumah baca, menanam kebun pangan bersama, membentuk kelompok usaha "Rasa Makmur", dan mengadakan musyawarah desa untuk merencanakan masa depan. Ketika banjir besar melanda, desa yang semula terpecah justru bersatu menolong satu sama lain. Pak Wiryo yang awalnya meragukan kegiatan pemuda akhirnya berubah menjadi pendukung setia. Musyawarah desa melahirkan lima program prioritas: perbaikan jalan dan saluran air, penguatan pendidikan, kelompok usaha, kebun pangan, dan pelayanan desa. Erlangga dihadapkan pada pilihan sulit ketika tawaran pekerjaan besar dari kota datang. Ia juga harus menghadapi ancaman perusahaan yang ingin membeli lahan warga. Namun, dengan dukungan Khinanti dan seluruh warga, ia memilih bertahan dan memperjuangkan hak-hak desa. Di tengah perjuangan itu, cinta antara Erlangga dan Khinanti tumbuh dari pengabdian dan kerja bersama. Pada pesta rakyat peringatan hari jadi desa, Erlangga melamar Khinanti di hadapan seluruh warga—sebuah lamaran yang menjadi simbol bahwa cinta mereka lahir dari kesetiaan pada tanah kelahiran. Dua tahun kemudian, Desa Suka Makmur berubah: jalan mulai diperbaiki, anak-anak rajin belajar di rumah baca, kelompok usaha berkembang, dan warga tak lagi hanya menunggu bantuan. Mereka telah belajar bahwa perubahan dimulai dari keberanian untuk bertahan dan bekerja bersama. Novel ini mengisahkan bahwa pulang bukan sekadar kembali ke tempat asal, melainkan tentang keberanian menghadapi masa lalu, kesediaan membangun masa depan, dan cinta yang tumbuh dari pengabdian kepada masyarakat dan tanah kelahiran.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 10
Sinopsis Singkat Di Desa Awan Biru yang mistis, di mana kabut menjadi napas leluhur dan tradisi mengikat setiap langkah, lahirlah dua bayi di malam yang sama dengan tanda-tanda gaib: Jojon, anak dari keluarga penjaga adat, dan Yeni, anak dari keluarga petani biasa. Takdir mempertemukan mereka di tepi sungai tua, dan sejak saat itu, benih cinta mulai tumbuh di antara dua dunia yang tidak boleh bersatu. Cinta mereka dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap garis keturunan yang dijaga ketat. Para tetua adat, didukung oleh tokoh ambisius bernama Raka, berusaha memisahkan mereka dengan sidang adat, pengasingan, dan ancaman hukuman yang lebih berat. Namun Jojon dan Yeni tidak menyerah. Dengan bantuan sahabat setia Leman, mereka berjuang melawan tradisi yang kaku, mengungkap rahasia masa lalu tentang leluhur Jaya Raksa dan Ratih yang mengalami nasib serupa, dan menghadapi ujian spiritual dari para leluhur. Kisah ini adalah sebuah epik tentang pengorbanan, keberanian, dan kekuatan cinta yang mampu mengubah tradisi yang menindas menjadi adat yang melindungi. Jojon dan Yeni tidak hanya berjuang untuk cinta mereka, tetapi juga untuk membuka jalan bagi generasi mendatang—agar tidak ada lagi cinta yang dihancurkan oleh ketakutan, dan agar desa mereka dapat hidup dalam keseimbangan antara warisan leluhur dan kebebasan hati.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 11
Sinopsis Singkat Novel ini mengisahkan perjalanan inspiratif dua sosok aparatur desa dari ujung Kalimantan yang berbeda: Anuar, Kepala Desa Dabulon di Nunukan, Kalimantan Utara, dan Akang Riyadi, Kasi Pemerintahan di Desa Sriwidadi, Kapuas, Kalimantan Tengah. Mereka dipertemukan oleh sebuah grup WhatsApp operator website desa, dan dari percakapan sederhana itu, lahirlah sebuah kolaborasi digital yang melampaui batas geografis. Berawal dari keinginan Anuar untuk mengembangkan website desa di wilayah perbatasan, ia menemukan sosok Akang yang aktif berbagi ilmu dan pengalaman. Tanpa pernah bertemu secara fisik, mereka membangun sinergi yang luar biasa: Akang membantu menyusun arsip, menulis berita, dan membangun perpustakaan digital, sementara Anuar mengimplementasikan di lapangan dengan dukungan perangkat desanya. Kisah ini tidak hanya tentang teknologi, tetapi tentang persahabatan, pengabdian, dan semangat membangun desa. Melalui suka dan duka, keterbatasan dan ujian, mereka membuktikan bahwa jarak ribuan kilometer bukanlah penghalang bagi mereka yang memiliki tujuan yang sama: membangun Indonesia dari desa, melalui literasi digital dan kolaborasi tulus. Novel ini mengajak pembaca merenungkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari proyek besar, melainkan dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten, serta kekuatan persahabatan yang mampu menembus batas ruang dan waktu.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 12
Sinopsis Singkat Kisah ini berpusat pada Hariyati, seorang perempuan yang memendam cinta rahasia kepada Jaelani, kakak iparnya sendiri, selama lebih dari setengah abad. Cinta itu tumbuh sejak masa remaja, namun ia memilih untuk menguburnya dalam-dalam demi menjaga kehormatan keluarga dan kebahagiaan kakaknya, Handayanti, yang dinikahi oleh Jaelani. Selama puluhan tahun, Hariyati menjadi saksi bisu kehidupan rumah tangga kakaknya. Ia menolak semua lamaran yang datang, memilih hidup sendiri, dan menghabiskan hari-harinya dalam kesetiaan yang sunyi dan penuh penderitaan. Keheningannya justru memicu berbagai konflik, termasuk fitnah dari tetangga dan keretakan hubungan dengan kakaknya. Setelah Handayanti meninggal dunia karena sakit, takdir membuka jalan yang selama ini tertutup. Di usia senja, Hariyati dan Jaelani akhirnya menikah, menyatukan cinta yang telah dinanti seumur hidup. Namun kebahagiaan mereka hanya berlangsung singkat, karena Hariyati meninggal beberapa tahun kemudian, diikuti oleh Jaelani yang menyusulnya dengan tenang. Roman ini bukan sekadar kisah cinta terlarang, melainkan sebuah perenungan mendalam tentang pengorbanan, kesetiaan, dan makna cinta yang sesungguhnya. Ini adalah kisah tentang bagaimana seseorang bisa mencintai dengan sepenuh hati tanpa pernah memiliki, dan bagaimana takdir terkadang baru menjawab doa di ujung senja kehidupan.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 9
SINOPSIS SINGKAT Dua belas mahasiswa Universitas Tunas Harapan Palangkaraya menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama empat puluh hari di Desa Sukodadi, Kalimantan. Mereka datang dengan semangat mengabdi—mengajar anak-anak, membantu administrasi desa, mendampingi Posyandu, dan menggelar Festival Literasi. Namun di balik kedamaian desa, Herman dan Maya mulai diganggu oleh kejadian-kejadian aneh: mimpi berulang tentang sumur tua, bisikan di malam hari, dan bayangan dua sosok misterius yang hanya mereka berdua bisa lihat. Mereka menemukan bahwa sumur di belakang rumah mereka menyimpan rahasia kelam: Pak Karim dan Mbah Minah, sepasang suami-istri yang meninggal tragis puluhan tahun lalu dan jiwa mereka terperangkap karena cinta yang tak terlepas. Dengan bantuan Mak Sari (tokoh adat), Ustad Ilham, dan dukungan teman-teman satu kelompok, Herman dan Maya berusaha membantu kedua jiwa itu menemukan kedamaian. Pencarian kalung Mbah Minah di dasar sumur menjadi titik balik yang membebaskan mereka dari kesepian abadi. Di tengah misteri, mereka juga menghadapi ujian persahabatan, konflik internal, dan kelelahan—namun kebersamaan selalu membawa mereka kembali. Festival Literasi menjadi puncak pengabdian yang mengharukan, dengan Rafi, bocah desa, membacakan puisi untuk Maya yang membuat semua menangis.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 9
SINOPSIS SINGKAT Raka, Wati, dan Bejo adalah tiga sahabat di Desa Bojong Sari yang memiliki rasa ingin tahu tinggi. Ketika ladang-ladang warga porak-poranda diserang hewan misterius di tengah musim kemarau panjang, orang dewasa sibuk saling menyalahkan dan mencari solusi instan—dari perangkap, pagar bambu, hingga memanggil dukun—namun semuanya gagal. Berbekal keberanian dan ketelitian, ketiga detektif cilik ini memutuskan menyelidiki sendiri. Mereka menemukan fakta mengejutkan: pelakunya adalah kawanan kancil yang kelaparan dan kehausan karena hutan Manoreh mengering. Bahkan mereka bertemu dengan Kai, pemimpin kancil tua yang bijaksana, dan menjalin persahabatan lintas spesies yang mengharukan. Dengan bukti-bukti berupa foto kondisi hutan, ritual bulan purnama kancil, dan gambar-gambar kuno di dinding gua, Raka berani menyampaikan presentasi di hadapan seluruh warga desa. Ia mengusulkan Program Konservasi Manoreh: membuat tempat minum buatan, menanam tanaman pakan, dan menyediakan lahan konservasi. Perjuangan mereka diuji saat kebakaran hutan mengancam dan Kai sakit parah. Namun berkat kerja sama warga dan keajaiban alam, semuanya berakhir bahagia. Kancil kembali ke hutan yang pulih, desa makmur, dan persahabatan antara manusia dan alam pun terjalin abadi.
Mulai Membaca