
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 3 kali
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan cinta Herman, seorang pekerja kontraktor berusia 23 tahun yang belum pernah memiliki pacar, dan Amanda, gadis SMA yang dikenal paling galak di Kuala Kapuas. Semuanya bermula dari sebuah tantangan konyol di Car Free Day—Herman menempelkan permen karet rasa stroberi di baju olahraga putih Amanda. Perbuatan bodoh itu memicu kemarahan luar biasa dari Amanda yang merasa dipermalukan di depan umum. Herman, didorong oleh rasa bersalah dan rasa penasaran yang tumbuh, berusaha meminta maaf dengan berbagai cara. Teman-temannya membentuk "Tim STS" untuk membantunya, sementara Herman melancarkan puluhan "jurus cinta" yang sebagian besar berakhir dengan kegagalan memalukan. Dari puisi cinta, bunga mawar, tahu walik, jogging bersama, hingga menyanyikan lagu fals dengan gitar tiga senar di Dermaga Danau Mare—semua jurusnya gagal total. Namun di tengah kemarahannya, Amanda mulai merasakan sesuatu yang aneh. Herman yang terus berjuang meskipun ditolak mentah-mentah, yang rela berlutut di rumahnya dan mengorbankan harga diri demi meminta maaf, perlahan membuat dinding kebenciannya retak. Apalagi ketika Herman membantunya di saat-saat sulit, seperti ketika Amanda bertengkar dengan ayahnya dan menangis sendirian di Taman Hutan Kota. Hadangan datang dari berbagai sisi: Ragil, cowok playboy kaya raya yang juga mengejar Amanda, berusaha merebut hati Amanda dengan segala cara, termasuk mempengaruhi orang tuanya. Ibu Amanda melarang Herman mendekati putrinya karena status sosial yang tidak sepadan. Namun Herman tidak menyerah. Dengan dukungan sahabat-sahabatnya, ia terus berjuang—bekerja lebih keras, menabung, dan membuktikan bahwa ia layak untuk Amanda. Puncaknya adalah "jurus pamungkas"—Herman memilih diam dan memberi ruang bagi Amanda untuk menentukan pilihannya sendiri. Setelah dua minggu tanpa kabar, Amanda sadar bahwa ia benar-benar mencintai Herman. Mereka bersatu kembali, dan Herman mendapat waktu satu tahun dari ayah Amanda untuk membuktikan kesiapannya secara finansial. Satu tahun kemudian, Herman sukses membuktikan diri. Ia melamar Amanda di Dermaga Danau Mare, tempat pertama kali ia menyatakan cintanya dengan cara paling memalukan. Mereka menikah, memiliki anak bernama Karet (sebagai penghormatan pada permen karet yang mempertemukan mereka), dan menjalani kehidupan bahagia bersama teman-teman lama yang juga menemukan jodoh masing-masing. Kisah berakhir dengan Herman, Amanda, dan Karet yang masih setia hadir di Car Free Day setiap Minggu—mengingat bahwa cinta sejati bisa dimulai dari hal yang paling tidak terduga, bahkan dari sehelai permen karet yang lengket di baju orang yang paling dibenci.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.