
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 3 kali
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan panjang persahabatan antara Agus Sabara dan Titik Mukti Aryanti, dua sahabat kecil dari kampung yang tumbuh bersama sejak usia delapan dan sepuluh tahun. Di bawah pohon mangga besar, mereka membuat surat janji persahabatan dengan sidik jari arang lidi—berjanji untuk menjadi sahabat selamanya, tidak peduli jarak dan waktu. Namun bagi Agus, persahabatan itu tumbuh menjadi lebih dari sekadar rasa sayang. Sejak usia tiga belas tahun, ia diam-diam mencintai Titik. Tapi ia memilih untuk menyembunyikan perasaannya, takut kehilangan persahabatan mereka jika ia mengaku. Ia menjadi "sahabat sejati" yang setia mendampingi setiap jatuh bangun Titik—menyaksikan Titik berganti pacar berkali-kali, patah hati berulang kali, dan selalu menjadi tempat curhat, pelabuhan darurat, serta jaring pengaman bagi Titik. Titik, yang lima belas tahun lebih tua dari Agus, terlalu sibuk mencari cinta di tempat yang salah. Ia jatuh pada pria-pria yang datang dengan gemerlap: Rendra, Robi, Handoko, Andre, Farhan, Dimas, Edo, Arman, hingga Reza—semua berakhir dengan patah hati. Dan setiap kali, Agus selalu ada: mendengarkan, menghibur, membersihkan kamar berantakan, memasak makanan hangat, dan menjadi bahu untuk menangis. Perjalanan mereka terbentang dari masa kecil di kampung, masa remaja di SMA, masa kuliah di Bandung dan Jakarta, hingga kehidupan dewasa di dunia kerja. Jarak dan waktu tak pernah memisahkan mereka, karena Agus selalu setia datang ketika Titik membutuhkan—bahkan harus menembus malam Puncak dengan motor butut hanya untuk menjenguk Titik yang kecelakaan di rumah sakit. Titik akhirnya sadar setelah sekian lama: cinta sejati tidak datang dengan gemerlap, tetapi dengan langkah pelan, setia, dan tidak pernah pergi. Ia menyadari bahwa selama ini ia mencari cinta di tempat yang salah, sementara orang yang paling mencintainya selalu ada di depan matanya—sebagai sahabat yang tak pernah pergi. Mereka pun menikah, membangun keluarga dari nol, melewati suka duka pernikahan, kelahiran anak bernama Tegar, sakit dan sehat, hingga usia senja. Agus meninggal lebih dulu dengan tenang, meninggalkan Titik yang setia menunggu di kampung—di bawah pohon mangga yang tumbuh kembali, tempat janji persahabatan mereka pertama kali diucapkan. Kisah diwariskan kepada Tegar dan anak-anaknya, menjadi pelajaran bahwa sahabat sejati tak pernah pergi—bahkan kematian tidak bisa memisahkan cinta yang tulus.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.