
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 4 kali
Sinopsis Singkat Di tengah malam, Istana Baghdad diguncang oleh bisikan misterius yang memanggil-manggil nama Baginda Raja Harun Al-Rasyid dari balik singgasana. Para penjaga ketakutan, ada yang pingsan, ada yang jatuh sakit. Kabar tentang "hantu" atau "jin istana" menyebar cepat. Para ahli supranatural yang dipimpin Syekh Abdul Jabal dipanggil untuk mengusir makhluk gaib tersebut. Mereka melakukan ritual, membakar dupa, dan membaca doa-doa. Namun suara itu tetap datang setiap malam. Baginda Raja bingung dan gelisah. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Baginda Raja setuju, tetapi kali ini ia memanggil dengan cara yang berbeda—bukan dengan ancaman, tetapi dengan permintaan bantuan yang tulus. Abu Nawas datang dengan senyum khasnya. Ia mendengar cerita tentang "jin istana" dari para ahli supranatural. Syekh Abdul Jabal mengklaim bahwa jin itu adalah penjaga istana sejak zaman kakek Baginda Raja, yang marah karena Baginda Raja melupakan tradisi dan tidak lagi mendengarkan bisikan dari dunia lain. Abu Nawas, alih-alih takut, justru tertawa. Ia meminta izin untuk bermalam sendirian di ruang singgasana—tanpa pengawal, tanpa senjata, tanpa doa. Hanya dengan kurma dan air tajin. Para ahli supranatural protes, tetapi Baginda Raja mengizinkan. Malam itu, Abu Nawas mendengar bisikan itu. Ia tidak takut. Ia berbicara pada "jin" itu dengan santai, menantangnya untuk menunjukkan diri. Suara itu marah dan mengancam. Abu Nawas justru tersenyum dan mulai mencari sumber suara. Di balik singgasana, di balik tirai sutra yang tidak pernah dibuka, ia menemukan celah kecil di dinding. Di seberang celah itu, ia mendengar suara napas manusia. Abu Nawas memasang jebakan sederhana: benang tipis dengan lonceng kecil dan tepung di lantai. Malam berikutnya, ketika bisikan itu muncul, lonceng berbunyi dan jejak kaki tertinggal di tepung. Para penjaga menangkap seorang lelaki yang sedang berlari dari balik dinding. Ternyata itu adalah Khalid, mantan penjaga istana yang dipecat tiga bulan lalu karena dituduh mencuri tanpa bukti dan tanpa pengadilan. Khalid mengaku bahwa ia melakukan itu semua untuk balas dendam—ia ingin membuat istana takut, seperti ia sendiri yang takut dan putus asa karena kehilangan pekerjaan dan kehormatan. Baginda Raja Harun Al-Rasyid, alih-alih marah, justru sedih. Ia memerintahkan Jafar untuk menyelidiki apakah Khalid benar-benar bersalah. Jika tidak, ia akan mengembalikan kehormatan dan pekerjaan Khalid. Para ahli supranatural, termasuk Syekh Abdul Jabal, menerima pelajaran berharga: bahwa tidak semua yang tak terlihat itu gaib—kadang hanya belum dipahami atau belum dicari. Di Kedai Al-Farabi, Abu Nawas duduk bersama Jafar dan Syekh Abdul Jabal—yang kini menjadi muridnya. Mereka tertawa dan minum air tajin. Abu Nawas mengajarkan bahwa yang paling menakutkan bukan makhluk gaib, tetapi pikiran kita sendiri saat dikuasai rasa takut. Ketakutan menciptakan bayangan yang semakin besar dan gelap, sampai kita tidak bisa membedakan antara bayangan dan kenyataan.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.