🏛️
PerpusDig Sriwidadi
Desa Sriwidadi
PROKER KKN '26
📦Rak Offline
Sistem Perpustakaan Aktif

Jendela Pengetahuan Desa

Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.

🔍
📑
✨
📚

Total Koleksi

213 Buku

👁️

Total Pembaca

1046 Kali

🏛️

Lokasi Layanan

Desa Sriwidadi

📚 Koleksi Terbaru

Menampilkan 213 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

TRILOGI ROMAN EPIK PENGEMBARA DUA LANGIT BUKU I : BENIH DI BAWAH FAJAR
Buka Detail ↗

TRILOGI ROMAN EPIK PENGEMBARA DUA LANGIT BUKU I : BENIH DI BAWAH FAJAR

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPSIS SINGKAT PENGEMBARA DUA LANGIT Buku I: Benih di Bawah Fajar Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Arga, seorang anak yang lahir di Desa Wringinrejo pada malam penuh pertanda—kilat tanpa suara, lolongan anjing, dan lampu minyak yang menyala sendiri. Ramalan dari sesepuh desa, Mbah Jayarasa, mengatakan bahwa anak ini akan membawa luka panjang dan melihat dua langit, sementara arwah kakaknya, Jatmika yang meninggal tenggelam di sungai, terus muncul dalam mimpi dan bisikan angin. Arga tumbuh sebagai anak pendiam yang bisa mendengar suara-suara yang tak terdengar orang lain, hingga ia bertemu dengan Sekar, gadis misterius di tepi Kali Wening yang ternyata juga memiliki koneksi dengan masa lalu Jatmika. Cinta pertama mereka tumbuh di antara rahasia-rahasia yang terbongkar—bahwa Sekar adalah teman bermain Jatmika semasa hidup, dan bahwa Jatmika meninggal karena berusaha menyelamatkan Sekar dari arus sungai. Ketika rahasia tentang Jatmika dan hubungannya dengan Sekar terungkap, cinta Arga dan Sekar diuji oleh trauma masa lalu, larangan orang tua, dan bayangan kakak yang belum bisa melepas kepergiannya. Mbok Raras—nenek Sekar—yang mengetahui seluruh kisah, akhirnya merestui hubungan mereka sebelum meninggal karena sakit parah. Namun kebahagiaan mereka segera terusik ketika orang tua Sekar yang telah lama meninggalkannya datang dengan surat keputusan menjual rumah warisan neneknya dan membawa Sekar paksa ke kota. Arga yang tak berdaya melihat Sekar dibawa pergi oleh mobil hitam di gerbang desa, hanya bisa berlari mengejar sampai jatuh di pinggir jalan, sementara Sekar pergi dengan janji yang belum pasti untuk kembali. Enam bulan setelah kepergian Sekar, Arga terus menulis surat yang tak kunjung dibalas karena orang tua Sekar menyembunyikannya. Hingga suatu malam, surat balasan akhirnya tiba—Sekar mengaku masih mencintai Arga dan berjuang melawan tekanan orang tuanya yang ingin menjodohkannya. Dengan tekad baru, Arga memutuskan meninggalkan desa untuk bekerja di kota tempat Sekar tinggal, mengikuti jejak pengembaraan yang dimulai sejak ia lahir. Jilid pertama ini berakhir dengan Arga melangkah keluar dari gerbang desa menuju kota yang asing, membawa harapan bahwa cinta mereka akan bertemu lagi di tengah hiruk-pikuk kehidupan baru, dan bahwa takdir—yang sejak awal telah menuliskan namanya di langit—akan mempertemukan mereka kembali.

"

Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

🎓 Proker KKN 2026

Sistem Informasi Perpustakaan Digital, dedikasi mahasiswa untuk memajukan literasi warga Desa Sriwidadi.

Dibuat dengan ❤️ di tahun 2026© Perpustakaan Digital Desa Sriwidadi. All Rights Reserved.
Mulai Membaca
TRILOGI ROMAN EPIK JEJAK WAKTU JILID KETIGA JEJAK WAKTU: SENJA YANG MEMULANGKAN
Buka Detail ↗

TRILOGI ROMAN EPIK JEJAK WAKTU JILID KETIGA JEJAK WAKTU: SENJA YANG MEMULANGKAN

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPSIS SINGKAT JEJAK WAKTU Jilid Ketiga: Senja yang Memulangkan Tiga puluh tahun setelah perpisahan pahit di kota Purwokerto, Danang Wiratama—kini berusia lima puluh tahun dengan rambut memutih dan tubuh yang mulai rapuh—kembali ke Desa Kapuas Muara. Di sana ia bertemu kembali dengan Kirana, cinta pertamanya yang kini telah menjanda dan tinggal sendirian di rumah tua di ujung kebun rambutan. Pertemuan setelah tiga dekade ini membuka kembali luka lama sekaligus mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi: Arman, sahabat yang dikhianatinya, ternyata telah menahan ratusan surat cinta Kirana dan memalsukan tulisan Danang untuk menghancurkan hubungan mereka. Di usia senja, Danang dan Kirana akhirnya bersatu kembali, menghabiskan sisa waktu bersama di desa kelahiran mereka, ditemani oleh Raka (anak Danang), Ayu (anak Kirana), dan Adi (cucu Kirana) yang perlahan menerima dan merangkul cinta orang tua mereka. Namun kebahagiaan di ujung senja tidak berlangsung lama. Danang yang tubuhnya sudah lemah karena penyakit dan kerja keras seumur hidup, akhirnya meninggal dengan tenang di pelukan Kirana, meninggalkan sebuah kotak kayu berisi buku gambar masa kecil dan sepucuk surat wasiat. Wasiat Danang berisi sepuluh pelajaran hidup tentang cinta, kesetiaan, pengampunan, dan arti pulang—pesan yang menjadi warisan berharga bagi generasi penerus. Kirana yang kembali kehilangan, bertahan dengan kekuatan cinta yang telah tertanam selama puluhan tahun, hingga akhirnya ia menyusul Danang beberapa tahun kemudian, dimakamkan di samping makam kekasihnya di lereng bukit, di bawah pohon beringin tua, di samping makam Ratih—ibu Danang. Jilid penutup trilogi ini berakhir dengan desa Kapuas Muara yang bertransformasi menjadi destinasi wisata edukasi dan religi, dengan berdirinya "Sekolah Cinta Danang Wiratama" yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan dari kisah cinta abadi Danang dan Kirana. Generasi penerus—Adi (cucu Kirana) yang menikah dengan Maya, dan anak-anak mereka yang diberi nama Danang dan Kirana—melanjutkan perjuangan leluhur untuk menjaga cinta agar tidak pernah mati. Trilogi ini ditutup dengan pesan mendalam bahwa cinta sejati tidak pernah berakhir; ia hanya berubah wujud dari pertemuan menjadi kenangan, dari suara menjadi bisikan, dan dari pelukan menjadi doa yang terus mengalir hingga ke surga.

Mulai Membaca
TRILOGI ROMAN EPIK JEJAK WAKTU JILID KEDUA JEJAK WAKTU: LANGIT YANG MULAI RETAK
Buka Detail ↗

TRILOGI ROMAN EPIK JEJAK WAKTU JILID KEDUA JEJAK WAKTU: LANGIT YANG MULAI RETAK

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

SINOPSIS SINGKAT JEJAK WAKTU Jilid Kedua: Langit yang Mulai Retak Tujuh tahun setelah meninggalkan desa, Danang Wiratama kini berusia empat belas tahun dan telah menjadi anak perantauan di kota Purwokerto. Ia bekerja keras di percetakan milik Pak Suryanto, menyimpan luka masa lalu tentang kematian ibunya, kepergian ayah tirinya, dan cinta pertamanya—Kirana. Dalam kesendiriannya, ia bertemu kembali dengan Kirana di toko buku tempat gadis itu bekerja, dan cinta masa kecil mereka pun bersemi kembali. Namun kebahagiaan mereka dihantui oleh tiga ancaman: Nyonya Dewi—ibu Kirana yang menentang hubungan mereka karena status Danang sebagai "anak haram"; Surya Baskara—musuh lama dari desa yang masih menyimpan dendam; dan Arman—sahabat terdekat Danang yang diam-diam juga mencintai Kirana. Di tengah perjuangan Danang membuktikan diri layak bagi Kirana, Arman yang diliputi iri dan cemburu bersekutu dengan Surya untuk menghancurkan hubungan mereka. Mereka merencanakan surat palsu dengan tulisan yang meniru persis tangan Danang, berisi kata-kata penolakan dan kelelahannya terhadap hubungan itu. Ketika surat itu sampai ke tangan Kirana, hatinya hancur—ia percaya Danang telah meninggalkannya. Meskipun Danang berusaha menjelaskan, Kirana yang telah dipenuhi keraguan akibat hasutan Arman dan tekanan ibunya, menutup pintu dan membantingnya di depan Danang di tengah hujan deras malam itu. Puncak tragedi terjadi ketika Kirana memutuskan pergi meninggalkan kota Purwokerto tanpa pamit, memulai hidup baru di Jakarta dan meninggalkan semua kenangan. Danang yang mengetahui Arman sebagai dalang di balik surat palsu, akhirnya mengkonfrontasi sahabatnya itu. Namun kekecewaannya begitu dalam—ia kehilangan cinta dan sahabat dalam satu waktu. Jilid kedua ini berakhir dengan Danang kembali menjadi perantauan, berjalan sendiri meninggalkan kota yang telah menyimpan begitu banyak luka, sementara Kirana pergi dengan keyakinan bahwa cinta mereka adalah kesalahan besar. Namun di dalam hati masing-masing, mereka tidak pernah benar-benar bisa melupakan satu sama lain—dan pengkhianatan Arman menjadi awal dari kekacauan yang lebih besar, yang akan menemui puncaknya di jilid ketiga

Mulai Membaca
TRILOGI ROMAN EPIK JEJAK WAKTU JILID PERTAMA JEJAK WAKTU; AKAR YANG TUMBUH DIAM-DIAM
Buka Detail ↗

TRILOGI ROMAN EPIK JEJAK WAKTU JILID PERTAMA JEJAK WAKTU; AKAR YANG TUMBUH DIAM-DIAM

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 6

SINOPSIS SINGKAT JEJAK WAKTU Jilid Pertama: Akar yang Tumbuh Diam-diam Di sebuah desa kecil di tepian Sungai Kapuas Muara, Danang lahir di malam hujan deras dengan ramalan dari sesepuh desa bahwa hidupnya akan penuh luka panjang. Ia tumbuh dalam rumah panggung yang dingin dan sunyi, dengan ayah Sastrowiryo yang lebih akrab dengan botol tuak daripada keluarganya, dan ibu Ratih yang menyimpan rahasia besar tentang asal-usul anaknya. Di tengah kesunyian itu, Danang menemukan pelarian di tepi sungai—tempat di mana ia bertemu dengan Kirana, seorang gadis ceria yang menjadi cahaya pertama dalam hidupnya dan mengajarinya bahwa persahabatan bisa menjadi rumah ketika rumah sebenarnya terasa asing. Kehidupan Danang mulai hancur ketika ia secara tidak sengaja mendengar bisikan tetangga bahwa Sastrowiryo bukan ayah kandungnya, melainkan hanya lelaki miskin yang menikahi Ratih karena terpaksa—ibunya hamil di luar nikah oleh seorang penari ketoprak yang pergi tanpa pamit. Tuduhan pembakaran gudang beras keluarga Surya—yang diprovokasi oleh Mandor Jalil, utangan lintah darat yang mengancam keluarganya—semakin mengisolasi Danang dari masyarakat. Surya, anak saudagar kaya yang iri pada kedekatan Danang dengan Kirana, menyebarkan kebenaran tentang status "anak haram" Danang ke seluruh sekolah, membuat teman-temannya menjauh dan Danang harus berjuang mempertahankan martabatnya sendirian. Puncak tragedi terjadi ketika Ratih jatuh sakit parah dan Sastrowiryo pergi meninggalkan rumah karena tidak kuat menghadapi kenyataan. Kirana juga harus pindah ke kota karena ayahnya dipindahtugaskan, meninggalkan Danang dengan pita biru sebagai kenangan dan janji untuk kembali. Beberapa hari kemudian, Ratih meninggal dalam pelukan Danang—meninggalkannya benar-benar sendirian di dunia. Jilid pertama ini berakhir dengan Danang berdiri di makam ibunya, lalu berjalan meninggalkan desa menuju kota dengan pita biru di sakunya, membawa luka kehilangan ayah, ibu, dan cinta pertamanya, serta tekad untuk menemukan jati dirinya di tengah dunia yang kejam.

Mulai Membaca
TETRALOGI ROMAN EPIK SURAT DARI MASA LALU BUKU KEDUA: RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN
Buka Detail ↗

TETRALOGI ROMAN EPIK SURAT DARI MASA LALU BUKU KEDUA: RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPSIS SINGKAT SURAT DARI MASA LALU Tetralogi Roman Epik Buku Kedua: Rindu di Bangku STM Tekstil Pedan Setelah ditinggal pergi oleh Mas Nur—cinta pertama yang merantau ke Jakarta tanpa pamit—dan Kakang Riyadi—kakak angkat yang menyusul Karwan ke Tangerang—Yanti memutuskan meninggalkan Desa Tegorejo untuk memulai hidup baru di STM Tekstil Pedan, Klaten. Di lingkungan baru yang didominasi 35 cowok dan hanya 4 cewek, gadis tomboy dari desa itu menjadi pusat perhatian. Ia bertemu dengan Riyadi, teman sekelas pendiam yang selalu menjaga dari jauh; Toro, kakak kelas disegami yang cintanya berubah menjadi obsesi dan posesif; Teguh, pemuda tulus yang mencintainya hingga akhir hayat; serta persahabatan lima orang yang menjadi keluarganya di perantauan. Di tengah hiruk-pikuk sekolah STM, Yanti berjuang menghadapi cinta yang mengurung, luka masa lalu yang menghantuinya, dan kehilangan diri sendiri di antara banyak orang yang mengaku mencintainya. Puncak konflik datang ketika Toro—yang awalnya romantis—berubah menjadi posesif dan membuat Yanti kehilangan kebebasan hingga jatuh sakit. Surat dari ibu Teguh membawa kabar duka: pemuda itu meninggal dengan nama Yanti di bibirnya. Sementara itu, persaingan diam-diam antara Toro yang keras dan Riyadi yang lembut membuat persahabatan retak, bahkan berujung pertengkaran berdarah di depan gerbang sekolah. Di tengah semua itu, Yanti mulai merokok, nilainya turun, dan hatinya semakin kosong meski dikelilingi banyak orang. Kepergian Riyadi tanpa pamit—sama seperti Mas Nur dulu—menjadi pukulan terakhir yang membuatnya benar-benar merasakan bahwa ia kehilangan tempat pulang. Namun dari keterpurukan, Yanti perlahan bangkit. Ia bertemu kembali dengan Mas Nur setelah tiga tahun—cinta pertama yang datang lagi bukan untuk bersatu, hanya untuk mengingatkan bahwa tidak semua cinta ditakdirkan memiliki; sebagian hanya ditakdirkan untuk dikenang. Novel ini berakhir dengan kepergian Bu Rosmiyati—ibu Yanti—dan keputusan Yanti melanjutkan kuliah, meninggalkan Tegorejo untuk terakhir kalinya. Dengan hati yang penuh luka namun mulai belajar kuat, Yanti melangkah menuju kehidupan baru, menyadari bahwa tumbuh dewasa berarti belajar bahwa mencintai juga berarti melepas, dan tidak semua orang yang pergi benar-benar meninggalkan—sebagian tetap hidup di hati sebagai kenangan dan pelajaran yang membuat seseorang terus melangkah.

Mulai Membaca
TETRALOGI ROMAN EPIK SURAT DARI MASA LALU BUKU PERTAMA : SENJA DI DESA TEGOREJO , CINTA PERTAMA BERSEMI
Buka Detail ↗

TETRALOGI ROMAN EPIK SURAT DARI MASA LALU BUKU PERTAMA : SENJA DI DESA TEGOREJO , CINTA PERTAMA BERSEMI

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPSIS SINGKAT SURAT DARI MASA LALU Tetralogi Roman Epik Buku Pertama: Senja di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi Kisah dimulai dari kelahiran Yanti di malam gerhana di Desa Tegorejo, yang diramalkan akan menjalani kehidupan penuh cinta dan kehilangan. Sejak kecil, Yanti tumbuh sebagai gadis desa yang cerdas dan penuh mimpi. Di bangku SMP, ia jatuh cinta pada Mas Nur, kakak kelas yang kalem dan perhatian. Namun kehadiran Bambang—sahabat masa kecil yang diam-diam mencintainya—dan Riyadi—kakak angkat yang selalu melindunginya—membuat perjalanan cinta Yanti tak pernah sederhana. Di tengah gosip, fitnah, dan kecemburuan yang merusak persahabatan, Mas Nur memutuskan pergi merantau ke Jakarta tanpa pamit karena masalah ekonomi keluarga. Tak lama kemudian, Riyadi juga pergi ke Tangerang demi masa depan yang lebih baik. Yanti ditinggal sendirian dengan patah hati. Namun dari keterpurukan, ia bangkit dan bertekad melanjutkan sekolah ke STM Tekstil Pedan di Klaten—meninggalkan desa dan kenangan masa lalu untuk memulai hidup baru.

Mulai Membaca
TETRALOGI LANGIT BIRU PULANG KE DESA
Buka Detail ↗

TETRALOGI LANGIT BIRU PULANG KE DESA

Pendidikan & Ilmu Pengetahuan

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPSIS LANGIT BIRU PULANG KE DESA Rantaka kembali ke Desa Wanasari sebagai guru setelah bertahun-tahun merantau, sementara Liris, Banyu, dan Jagra juga pulang dengan mimpi masing-masing—membangun perpustakaan, Rumah Inovasi, dan kelompok perikanan. Namun, kedatangan mereka disambut oleh ancaman besar: sebuah perusahaan luar negeri ingin membuka kawasan usaha yang mengancam sungai, kebun warga, kolam ikan, dan sekolah. Warga terpecah antara mereka yang berharap pada pekerjaan dan kompensasi, dan mereka yang khawatir kehilangan sumber kehidupan. Rantaka dan sahabat-sahabatnya mulai menggerakkan warga melalui Gerobak Buku Langit Biru, Kelas Membaca Masa Depan, dan Peta Warga untuk melawan ketidaktahuan dan tekanan dari perusahaan. Konflik memuncak ketika perusahaan mulai mendatangi warga satu per satu dengan tawaran beasiswa, bantuan pakan, dan pekerjaan sementara untuk memecah perlawanan. Liris mendapat kesempatan mengikuti residensi penulis di kota, sementara Rantaka, Banyu, dan Jagra terus memperkuat warga dengan pelatihan keterampilan dan data tentang sungai, kebun, serta kolam. Liris menulis artikel tentang perjuangan Wanasari yang menarik perhatian komunitas pendidikan dan lingkungan, membantu warga memahami dokumen-dokumen perusahaan. Di tengah perjuangan, Rantaka dan Liris akhirnya mengakui perasaan mereka, saling berjanji untuk membangun desa bersama. Perlawanan warga membuahkan hasil: perusahaan dipaksa menunda rencana dan menyusun kajian ulang, sementara warga berhasil membentuk Koperasi Perikanan, Rumah Inovasi, dan Gerobak Buku Langit Biru sebagai pilihan pembangunan dari dalam desa. Lima tahun kemudian, Wanasari telah berubah—bukan menjadi kota, tetapi menjadi desa yang warganya tidak lagi mudah dipermainkan. Rantaka dan Liris menikah di bawah pohon beringin, disaksikan oleh generasi baru yang belajar bahwa pendidikan bukan hanya jalan meninggalkan desa, tetapi cahaya untuk membangun desa. Langit Biru tetap menyala, karena mimpi anak desa tidak pernah terlalu tinggi selama ada yang berani menjaga, belajar, dan pulang untuk membawa perubahan. Pesan Moral: Desa yang kuat bukan desa yang menolak semua hal baru, tetapi desa yang mampu memilih dengan pengetahuan. Pendidikan, persahabatan, dan keberanian warga adalah cahaya yang membuat mimpi anak desa tidak pernah padam.

Mulai Membaca
TETRALOGI LANGIT BIRU DI BALIK KOTA
Buka Detail ↗

TETRALOGI LANGIT BIRU DI BALIK KOTA

Pendidikan & Ilmu Pengetahuan

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPSIS LANGIT BIRU DI BALIK KOTA Rantaka meninggalkan Desa Wanasari menuju Kota Arunika untuk melanjutkan SMA dengan beasiswa, sementara Liris, Banyu, dan Jagra tetap di desa menghadapi kesulitan pasca-banjir. Di kota, Rantaka berjuang bertahan—ia bekerja malam di warung makan karena uang beasiswa tidak cukup, nilai matematika dan fisikanya turun drastis, dan beasiswanya hampir dicabut. Ia juga salah menafsirkan surat Liris sehingga timbul kesalahpahaman, sementara di desa Gerobak Buku Langit Biru berhenti berjalan karena Jagra harus membantu keluarganya, Banyu sibuk di bengkel, dan Liris tertekan karena ayahnya meragukan mimpinya menjadi penulis. Puncaknya, Rantaka pingsan di belakang warung karena kelelahan dan baru tersadar bahwa ia tidak bisa berjuang sendirian. Surat dari Bu Laras mengingatkan mereka pada janji Langit Biru dan mendorong mereka saling memaafkan. Rantaka akhirnya menelepon Liris dari telepon umum dan mengaku semua kegagalannya—pekerjaan malam, nilai yang turun, dan ketakutannya kehilangan beasiswa. Liris juga mengaku bahwa ia sedang tertekan oleh keluarganya dan hampir meninggalkan mimpinya. Mereka berjanji saling menjaga dan tidak lagi menyembunyikan luka. Sementara itu, Banyu berhasil membuat alat pengatur air yang membantu kebun warga dan kolam Jagra, Liris menerima beasiswa pelatihan menulis, dan Jagra membentuk Kelompok Perikanan Remaja Wanasari. Rantaka pulang ke desa membawa sumbangan buku dari teman-temannya di kota. Mereka mengadakan Pentas Langit Biru di balai desa yang mempertemukan dua dunia—kota dan desa—dalam semangat kebersamaan. Rantaka lolos tahap awal seleksi beasiswa kuliah keguruan, Liris menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Banyu terus mengembangkan alat pertanian, dan Jagra memimpin kelompok perikanan yang semakin berkembang. Di bawah pohon beringin, mereka berempat berjanji untuk terus membawa cahaya pulang ke desa. Novel ini mengajarkan bahwa merantau bukan berarti melupakan asal-usul—kota memberimu pengalaman, tetapi desa memberimu akar. Persahabatan sejati tetap bertahan meski terpisah jarak, dan mimpi anak desa tidak pernah padam, hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menyala. Pesan Moral: Perantauan mengajarkan bertahan, tetapi pulang mengajarkan arti perjuangan. Langit Biru bukan nama gerobak—ia adalah cahaya yang selalu kembali ke desa.

Mulai Membaca
← SebelumnyaHalaman 6 dari 27Berikutnya →