🏛️
PerpusDig Sriwidadi
Desa Sriwidadi
PROKER KKN '26
📦Rak Offline
Sistem Perpustakaan Aktif

Jendela Pengetahuan Desa

Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.

🔍
📑
✨
📚

Total Koleksi

241 Buku

👁️

Total Pembaca

3831 Kali

🏛️

Lokasi Layanan

Desa Sriwidadi

📚 Koleksi Terbaru

Menampilkan 241 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

NOVEL SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI
Buka Detail ↗

NOVEL SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 8

SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan cinta pertama Riyadi, seorang remaja desa di Tegorejo, Kendal, pada era 1990-an. Kehidupannya yang sederhana—ditemani sepeda ontel, latihan karate, dan sandiwara radio—berubah ketika ia bertemu dengan Aryanti (Sinok) , gadis ceria yang mudah akrab dengan siapa saja. Awalnya Riyadi hanya menganggap Aryanti sebagai adik angkat dan junior karate. Namun kedekatan yang tumbuh di antara latihan karate, perjalanan pulang bersama, dan panggilan khusus "Sinok" perlahan mengubah segalanya. Cinta pertama mereka tumbuh diam-diam, sederhana namun mendalam, di tengah jalanan desa dan hamparan sawah. Namun kehidupan anak desa tak selalu seindah mimpi. Kelulusan SMA memaksa Riyadi merantau ke Tangerang, meninggalkan Aryanti tanpa pamit. Jarak dan waktu perlahan memisahkan mereka. Pertemuan terakhir di turnamen karate Kapolres Cup menjadi saksi bahwa kehidupan telah membawa mereka ke arah berbeda. Puluhan tahun kemudian, di usianya yang telah senja, Riyadi masih menyimpan kenangan tentang Sinok—cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang dari hatinya. Novel ini menjadi pengingat bahwa cinta pertama bukan selalu tentang memiliki, melainkan tentang bagaimana ia tetap hidup sebagai kenangan hangat yang menemani langkah kehidupan hingga usia senja.

"

Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

🎓 Proker KKN 2026

Sistem Informasi Perpustakaan Digital, dedikasi mahasiswa untuk memajukan literasi warga Desa Sriwidadi.

Dibuat dengan ❤️ di tahun 2026© Perpustakaan Digital Desa Sriwidadi. All Rights Reserved.
Mulai Membaca
NOVEL SENJA DI TEPIAN KAPUAS
Buka Detail ↗

NOVEL SENJA DI TEPIAN KAPUAS

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 7

SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan emosional Riyanti, seorang remaja di Kuala Kapuas—"Kota Air" yang tenang dan ramah—yang hidupnya berubah ketika ia bertemu dengan dua sosok berbeda: Ahmadi, pemuda pendiam yang hadir seperti cahaya senja, hangat namun tak menetap; dan Rendi, sosok misterius yang diam-diam mengatur arah cerita dari balik layar. Awalnya segalanya tampak seperti kisah cinta sederhana di kota kecil. Pertemuan tak sengaja di Bundaran Besar, tatapan pertama yang berkesan, dan perasaan yang perlahan tumbuh tanpa pernah diberi nama. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang bergerak seperti arus bawah Sungai Kapuas—sebuah permainan yang dikendalikan oleh Rendi, yang sejak awal telah merancang skenario untuk menguji apakah perasaan manusia bisa bertahan di tengah gangguan yang direkayasa. Persahabatan yang tampak kuat mulai retak oleh rahasia dan kesalahpahaman yang sengaja dibentuk. Ahmadi memilih pergi karena merasa tidak cukup layak. Riyanti terjebak dalam kekosongan yang panjang. Dan Rendi, dengan bantuan Kamila dan Sulton, terus mengarahkan setiap langkah mereka tanpa terlihat. Namun ketika kebenaran mulai terbuka—ketika luka lama terungkap dan kendali mulai lepas dari tangan Rendi—Riyanti harus menghadapi keputusan terbesar dalam hidupnya: apakah ia akan memilih masa lalu yang hangat namun menyakitkan, masa depan yang ia ragukan, atau dirinya sendiri? Di tepian Sungai Kapuas yang menjadi saksi bisu, kisah ini mengajarkan bahwa tidak semua cerita berakhir dengan kebahagiaan atau kehancuran. Ada akhir yang lebih dewasa—di mana seseorang belajar melepaskan tanpa benci, menerima tanpa lupa, dan akhirnya memilih untuk menjadi diri sendiri.

Mulai Membaca
NOVEL SERIUS TAPI SANTAI
Buka Detail ↗

NOVEL SERIUS TAPI SANTAI

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 8

Sinopsis Novel ini mengisahkan tentang semangat perubahan yang digerakkan oleh generasi muda di Desa Awan Biru. Guntur Pangestu, seorang pemuda yang baru pulang dari kota setelah tiga tahun merantau, kembali ke desanya dengan segudang mimpi dan keyakinan bahwa desa kecilnya bisa berubah menjadi lebih baik. Bersama sahabat-sahabatnya—Bambang si kader digital dengan kemeja kotak-kotaknya yang tak pernah rapi, Amat si admin desa yang selalu mengeluh tapi paling bisa diandalkan, Hermansyah ketua Karang Taruna yang tegas, serta Adila si guru TK yang menjadi penyejuk di tengah panasnya perdebatan—mereka memulai perubahan dari warung kopi Mbah Karyo, pusat segala cerita dan inspirasi desa. Perjuangan mereka tidak mudah. Dari proposal yang nyaris gagal, rapat yang selalu molor, stempel desa yang tiba-tiba hilang, hingga program digitalisasi yang hampir runtuh di hari pertama karena listrik padam dan laptop blue screen. Setiap kegagalan menjadi pelajaran, setiap jatuh menjadi cambuk untuk bangkit lebih kuat. Namun di balik semua kesulitan itu, ada tawa yang tak pernah padam, ada kopi yang selalu tersedia, dan ada keyakinan bahwa "serius" tidak harus berarti "kaku", dan "santai" tidak berarti "malas". Mereka belajar bahwa perubahan tidak harus dimulai dengan cara yang besar dan megah, tetapi cukup dari hal kecil, dari tempat sederhana, dari tekad untuk tidak menyerah. Novel ini adalah tentang mimpi, persahabatan, dan keberanian untuk memulai. Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah desa kecil bisa bersinar terang, bukan karena teknologi canggih atau anggaran besar, tetapi karena orang-orang di dalamnya memilih untuk percaya—bahwa perubahan itu mungkin, dan mereka adalah bagian darinya.

Mulai Membaca
NOVEL SIMFONI PEMBANGUNAN DESA
Buka Detail ↗

NOVEL SIMFONI PEMBANGUNAN DESA

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 8

Sinopsis Novel ini mengisahkan tentang dinamika dan peran krusial Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dalam mengawal pembangunan di Desa Awan Biru. Setelah masa kepemimpinan yang penuh gejolak, BPD yang baru terpilih—dengan tokoh-tokoh seperti Pak Didit yang tegas, Pak Rudi yang santun, dan Ibu Leni yang vokal—harus segera menjalankan fungsi pengawasannya. Konflik mulai memuncak ketika mereka menemukan kejanggalan dalam anggaran pembangunan fisik, terutama terkait spesifikasi material yang tidak sesuai. Ketegangan antara BPD dan Pemerintah Desa memuncak, namun mereka berusaha mencari titik temu melalui musyawarah di Balai Desa dan koordinasi teknis di Kantor Desa. Di tengah jalan, mereka juga bergulat dengan pertanyaan mendasar: apakah program pemberdayaan masyarakat hanya sekadar formalitas atau benar-benar berdampak? Bencana banjir dan longsor yang melanda desa menjadi ujian terbesar. Dalam kondisi darurat, kepercayaan publik mulai goyah karena isu penggunaan anggaran yang tidak transparan. Hampir terjadi perpecahan, namun akhirnya BPD dan pemerintah desa sepakat untuk menggelar audit terbuka. Melalui proses yang jujur dan transparan, mereka berhasil memulihkan kepercayaan warga. Novel ini adalah sebuah simfoni tentang bagaimana kolaborasi, keberanian untuk jujur, dan keterbukaan dapat menciptakan harmoni dalam pembangunan desa, menjadikan BPD sebagai "suara rakyat" yang sesungguhnya, dan mengubah desa menjadi lebih adil dan sejahtera. buatkan disclaimernya Tentu, berdasarkan naskah novel berjudul "Simfoni Pembangunan Desa" yang telah Anda berikan, berikut adalah disclaimer (pernyataan sanggahan) yang sesuai dan umum digunakan untuk karya fiksi:

Mulai Membaca
NOVEL PEREMPUAN TANGGUH DARI AWAN BIRU
Buka Detail ↗

NOVEL PEREMPUAN TANGGUH DARI AWAN BIRU

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 9

Sinopsis Novel ini mengisahkan perjalanan Yuniarti, seorang perempuan tangguh yang lahir di lereng Gunung Sumbing. Berbekal ketekunan dan integritas yang ditanamkan oleh orang tuanya, ia memutuskan untuk mengabdi sebagai Sekretaris Desa di Desa Awan Biru, sebuah desa terpencil dengan administrasi yang berantakan. Datang dengan tekad kuat, Yuniarti menghadapi tumpukan berkas berserakan, perangkat desa yang santai, dan warga yang lelah dengan pelayanan lambat. Dengan sabar dan kerja keras, ia perlahan membenahi sistem kearsipan, menerapkan prosedur pelayanan, dan membangun kepercayaan warga. Perjuangannya tidak mudah. Ia harus menghadapi tekanan dari kecamatan, fitnah dari oknum yang iri, bahkan audit mendadak dari Inspektorat. Namun, dengan ketulusan dan kerja kerasnya, ia berhasil membawa perubahan besar. Desa Awan Biru berubah dari desa tertinggal menjadi desa percontohan administrasi, dan Yuniarti pun mendapatkan penghargaan. Kisah ini adalah sebuah penghormatan bagi para pengabdi desa yang bekerja dengan hati. Ini adalah cerita tentang perubahan yang dimulai dari hal kecil, integritas di tengah godaan, dan pengabdian yang meninggalkan jejak abadi di hati banyak orang.

Mulai Membaca
NOVEL I JEJAK CAHAYA DI DESA AWAN BIRU
Buka Detail ↗

NOVEL I JEJAK CAHAYA DI DESA AWAN BIRU

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 14

Sinopsis Singkat Sepuluh mahasiswa Universitas Harapan Jaya memulai program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari di Desa Awan Biru—sebuah desa kecil yang nyaris terlupakan oleh zaman. Dipimpin oleh Raka, seorang mahasiswa Teknik Informatika yang tegas, mereka datang dengan niat mengabdi namun penuh keraguan. Di antara mereka ada Theo, programmer pemalu yang menyimpan bakat terpendam; Evianti, penulis berbakat yang menjadi perekat tim; Amir, Si Penghibur yang ternyata menyimpan luka; serta enam mahasiswa lainnya dengan keahlian masing-masing. Di desa itu, mereka menemukan perpustakaan yang mati—berdebu, sunyi, dan dilupakan oleh anak-anak yang lebih memilih gawai daripada buku. Dibantu oleh Si Amat, seorang admin desa sederhana yang diam-diam menyimpan mimpi besar, mereka memutuskan untuk membuat sesuatu yang mustahil: perpustakaan digital untuk desa kecil yang bahkan internetnya pun tak stabil. Perjalanan mereka tidak mudah. Badai menerjang, listrik padam, laptop rusak, dan ratusan buku harus ditulis dalam waktu singkat. Theo hampir menyerah ketika aplikasi yang ia bangun dengan susah payah tiba-tiba error total. Si Amat jatuh pingsan karena kelelahan menulis seratus buku di sela-sela pekerjaannya. Konflik keluarga mengancam, dan persahabatan diuji oleh perbedaan. Namun dari kegagalan, mereka belajar untuk bangkit. Dari air mata, mereka menemukan kekuatan. Dari kerja keras, mereka menemukan makna pengabdian sejati. Perlahan, desa mulai bergerak bersama. Anak-anak mulai membaca. Warga mulai percaya bahwa perubahan itu mungkin. Di tengah perjuangan, cinta pun tumbuh. Theo dan Evianti menemukan perasaan yang tak terduga. Si Amat menemukan kembali keluarganya. Dan sepuluh mahasiswa itu pulang dengan lebih dari sekadar nilai akademik—mereka pulang dengan persahabatan sejati, pelajaran hidup, dan jejak cahaya yang tak pernah padam. Kisah inspiratif tentang mimpi yang lahir dari keraguan, cahaya yang menyala dari kegelapan, dan jejak yang ditinggalkan oleh sebuah pengabdian.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 10 UJIAN AKAL DI TANAH BAGHDAD
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 10 UJIAN AKAL DI TANAH BAGHDAD

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 10

Sinopsis Singkat Baginda Raja Harun Al-Rasyid, setelah menyaksikan berbagai keajaiban kecerdikan Abu Nawas, memutuskan untuk mengujinya dengan cara yang berbeda. Ia menjatuhkan hukuman yang tampak mustahil: Abu Nawas harus meninggalkan Baghdad dan tidak boleh kembali kecuali tanpa menyentuh tanah, serta tanpa menunggang hewan ternak apa pun. Para pejabat istana terkejut. Syekh Abdul Jabal dan para ahli supranatural bersorak puas, yakin bahwa Abu Nawas akhirnya kalah—tidak ada manusia yang bisa terbang atau berjalan di atas air. Amr bin Hisham dan para pengagum Abu Nawas putus asa. Namun Imam Marzuki mengingatkan: "Jangan pernah meremehkan orang yang tidak pernah takut." Abu Nawas menerima hukuman dengan tenang, tersenyum, dan pergi meninggalkan Baghdad. Berminggu-minggu berlalu. Tidak ada kabar. Para pejabat mulai percaya bahwa Abu Nawas telah pergi selamanya. Syekh Abdul Jabal semakin percaya diri, berkeliling istana dengan kemenangan. Namun suatu pagi yang cerah, keramaian terjadi di gerbang Baghdad. Abu Nawas kembali! Ia bergelantungan di bawah perut seekor keledai—kakinya menjuntai tidak menyentuh tanah, dan ia tidak menunggangi hewan tersebut. Ia hanya bergelantungan dengan kain yang diikatkan di perut keledai. Di hadapan Baginda Raja dan seluruh istana, Abu Nawas berkata: "Aku tidak menyentuh tanah. Aku tidak menunggang hewan. Aku hanya bergelantungan. Seperti buah di pohon. Seperti lampu di langit-langit. Seperti Abu Nawas." Syekh Abdul Jabal memprotes, tetapi Imam Marzuki dan Amr bin Hisham membela Abu Nawas. Aturan hanya melarang "menunggang" dan "menyentuh tanah"—Abu Nawas melakukan keduanya dengan interpretasi literal yang brilian. Baginda Raja Harun Al-Rasyid tertawa terbahak-bahak dan mengakui bahwa Abu Nawas telah memenuhi hukuman. Abu Nawas mengajarkan pelajaran berharga: batas tidak untuk menghentikan akal, tetapi untuk mengujinya. Peraturan yang kaku akan kalah oleh pikiran yang lentur.

Mulai Membaca
BALADA ABU NAWAS EPISODE 9 TAFSIR MIMPI SANG KHALIFAH
Buka Detail ↗

BALADA ABU NAWAS EPISODE 9 TAFSIR MIMPI SANG KHALIFAH

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 8

Sinopsis Singkat Baginda Raja Harun Al-Rasyid terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin. Ia bermimpi: duduk di singgasana dikelilingi orang-orang tercinta, lalu satu per satu giginya tanggal, dan setiap kali gigi tanggal, satu orang di sekelilingnya menghilang. Pada akhirnya, ia sendirian di singgasana yang kosong. Mimpi itu menghantuinya. Para ahli tafsir mimpi dipanggil. Imam Marzuki menafsirkan bahwa gigi yang tanggal berarti kematian kerabat—Baginda akan kehilangan semua orang yang dicintainya. Syekh Abdul Jabal menafsirkan sebaliknya: mimpi itu pertanda umur panjang—Baginda akan hidup lebih lama dari semua kerabatnya. Ahli tafsir lain memberikan berbagai pendapat—kehilangan kebijaksanaan, kehilangan jati diri, dan sebagainya. Kebingungan dan ketakutan menyebar ke seluruh istana. Para pejabat saling curiga, para komandan gelisah, dayang-dayang menangis. Istana yang dulu megah berubah menjadi lautan kepanikan. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Abu Nawas datang dengan kurma di tangan dan senyum misteriusnya. Ia tidak langsung menafsirkan. Sebaliknya, ia bertanya kepada para ahli: "Apakah kalian yakin? Apakah kalian tidak mungkin salah? Apakah tafsir kalian satu-satunya yang benar?" Para ahli mengakui bahwa mimpi bisa ditafsirkan dengan banyak cara—semua ada dalam kitab, semua bisa dibenarkan. Abu Nawas kemudian memberikan pelajaran berharga: makna adalah pilihan. Mimpi yang sama bisa dilihat sebagai malapetaka atau sebagai berkah. Seperti dua orang melihat awan gelap—satu melihat hujan yang akan membuatnya basah dan sakit, yang lain melihat hujan yang akan menyuburkan tanaman. Awan yang sama, makna yang berbeda. Abu Nawas mengingatkan Baginda Raja bahwa ketakutan adalah pilihan. Jika ia memilih tafsir yang menakutkan, ia akan hidup dalam ketakutan dan kehancuran. Jika ia memilih tafsir yang menenangkan, ia akan hidup dalam kedamaian dan kesyukuran. Baginda Raja Harun Al-Rasyid memilih untuk melihat mimpi itu sebagai berkah. Ia memilih untuk bersyukur atas waktu yang masih ia miliki bersama orang-orang tercinta. Ia mengumumkan kepada seluruh istana bahwa mimpi itu bukan pertanda malapetaka, melainkan pengingat untuk menghargai setiap momen kebersamaan. Istana kembali tenang. Para ahli tafsir belajar bahwa kebenaran tidak selalu hitam putih—yang lebih penting bukan hanya apa yang dikatakan kitab, tetapi bagaimana kebenaran itu disampaikan: apakah menyakitkan atau menenangkan, apakah menghancurkan atau menyembuhkan.

Mulai Membaca
← SebelumnyaHalaman 20 dari 31Berikutnya →