Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.
Total Koleksi
241 Buku
Total Pembaca
3818 Kali
Lokasi Layanan
Desa Sriwidadi
Menampilkan 241 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 8
Sinopsis Singkat Novel ini mengisahkan perjalanan Rahmat Hidayat, seorang anak desa dari Desa Beringin Jaya yang terpencil dan tertinggal, yang bertekad untuk mengubah kampung halamannya. Sejak kecil, Rahmat telah melihat keterbelakangan desanya yang terjebak dalam ketakutan akan ritual adat, mitos leluhur, dan kepasrahan. Ia berani bertanya dan bermimpi, lalu bertekad untuk keluar dari desa dan menimba ilmu di kota. Setelah bertahun-tahun merantau dan kuliah, Rahmat kembali ke desa dengan membawa ilmu, teknologi, dan tekad membara. Namun, ia harus menghadapi penolakan keras dari tokoh-tokoh adat, sahabat yang berkhianat, dan warga yang takut akan perubahan. Di tengah perjuangan, ia ditemani oleh sahabat setia, Ajisaka dan Nurul, serta dukungan dari kekasihnya di kota, Yolanda. Dengan perlahan namun pasti, Rahmat membangun "Ruang Komunitas Digital", mengajarkan teknologi kepada anak muda, dan mengubah Sungai Bening menjadi destinasi wisata. Setelah kalah dalam Pilkades pertama, ia bangkit dan akhirnya terpilih menjadi Kepala Desa. Ia memimpin dengan integritas, melawan korupsi, dan memadukan tradisi leluhur dengan modernisasi. Kisah ini mencapai puncaknya saat Rahmat menyelesaikan masa jabatannya dengan sukses, meninggalkan desa yang telah berubah total. Dari desa yang terisolasi dan penuh ketakutan, Beringin Jaya kini menjadi contoh keberhasilan memadukan adat dan teknologi. Rahmat mewariskan semangat perubahan kepada generasi muda, membuktikan bahwa harapan dan kerja keras dapat menggapai matahari.
Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 8
Sinopsis Singkat Kayla Maharani, seorang mahasiswi Akuntansi, telah memendam cinta pada Rafa Wijaya, seorang mahasiswa Manajemen yang pernah menolongnya jatuh di lorong kampus. Selama tiga tahun, ia menyimpan perasaan itu dari kejauhan. Namun, dunia Kayla runtuh saat kakak perempuannya, Vira, dengan gembira mengumumkan pertunangannya dengan Rafa. Demi kebahagiaan kakak satu-satunya yang telah berkorban banyak untuknya, Kayla memilih diam dan menelan pil pahit. Keadaan semakin rumit ketika Rafa tinggal sementara di rumah mereka. Berada dalam satu atap memicu serangkaian drama, kecanggungan, dan momen-momen penuh perasaan antara Kayla dan Rafa. Di tengah kekacauan ini, Kayla dibantu oleh sahabatnya, Mona, untuk menjalani "Operasi Kupu-Kupu" guna mencari tahu keseriusan Rafa pada Vira. Novel ini mengikuti perjalanan Kayla dalam menghadapi cinta segitiga yang rumit, perjuangan mengorbankan perasaan pribadi demi keluarga, dan proses panjang untuk menerima kenyataan serta melangkah maju. Di sela-sela air mata dan tawa, ia bertemu dengan Dimas, rekan kerja yang baik dan sabar, yang perlahan membantunya menyembuhkan luka dan menemukan arti cinta yang baru. Kisah ini berakhir dengan Kayla yang akhirnya menemukan kebahagiaan sejatinya, bukan di masa lalu yang penuh bayang-bayang, tetapi di masa depan yang nyata dan tenang bersama Dimas.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 7
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan cinta antara Wiwin, gadis pendiam yang baru pindah ke sebuah kampung, dan Wawan, pemuda paling tengil dan berisik yang menjadi biang kerok di lingkungan tersebut. Wawan dikenal sebagai anak kampung yang mulutnya lebih cepat dari pikirannya, suka bercanda kelewatan, dan selalu berada di tengah setiap keributan. Banyak yang menganggapnya sebagai masalah, namun Wiwin melihat sesuatu yang berbeda. Pertemuan pertama mereka terjadi saat Wiwin baru pindah dan motornya mogok—Wawan datang membantu sambil terus meledeknya dengan gaya khasnya. Awalnya Wiwin kesal, tetapi perlahan ia mulai menyadari bahwa di balik ketengilan Wawan, ada hati yang peduli dan keberanian yang jarang dimiliki orang lain. Wawan selalu menjadi orang pertama yang membantu warga yang kesulitan, membela yang lemah, dan menenangkan suasana ketika kampung mulai panas. Melalui perjalanan panjang yang penuh pertengkaran, salah paham, dan air mata, Wiwin belajar bahwa Wawan bukanlah orang jahat—ia hanya tidak pernah diajari cara menyampaikan kepedulian dengan lembut. Di balik sikap tengilnya, ada luka masa lalu: ayah yang pergi, masa kecil yang keras, dan kebiasaan menjadi pelindung bagi dirinya sendiri sejak kecil. Wawan pun berubah secara perlahan. Bukan menjadi pendiam, karena itu mustahil baginya. Ia tetap tengil, tetap berisik, tetapi mulai belajar kapan harus menahan diri, kapan harus serius, dan bagaimana menggunakan ketengilannya untuk melindungi orang lain daripada melukai mereka. Wiwin menjadi satu-satunya orang yang tidak berusaha mengubahnya total, melainkan mengarahkan kekacauannya menjadi kekuatan. Kisah mereka diwarnai oleh konflik dengan warga yang masih menganggap Wawan sebagai masalah, persaingan dengan pemuda lain yang lebih sopan, pertengkaran karena cemburu dan ego, hingga momen ketika Wiwin menangis karena ucapan Wawan yang terlalu kasar—yang menjadi titik balik Wawan untuk benar-benar belajar dewasa. Kampung kecil itu akhirnya menyadari bahwa Wawan bukanlah ancaman, melainkan aset berharga: sosok berisik yang membuat lingkungan terasa hidup dan hangat. Novel ini diakhiri dengan Wawan yang tetap tengil, tetapi kini ketengilannya memiliki arah dan tujuan. Wiwin tetap menjadi orang yang paling sabar menghadapinya. Mereka belajar bahwa cinta bukan tentang menemukan kesempurnaan, tetapi tentang bertahan dalam kekacauan, mengarahkannya menjadi harapan, dan menerima bahwa beberapa orang memang dilahirkan untuk menjadi gaduh—agar dunia tidak terasa terlalu dingin bagi orang lain.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 7
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan cinta Herman, seorang pekerja kontraktor berusia 23 tahun yang belum pernah memiliki pacar, dan Amanda, gadis SMA yang dikenal paling galak di Kuala Kapuas. Semuanya bermula dari sebuah tantangan konyol di Car Free Day—Herman menempelkan permen karet rasa stroberi di baju olahraga putih Amanda. Perbuatan bodoh itu memicu kemarahan luar biasa dari Amanda yang merasa dipermalukan di depan umum. Herman, didorong oleh rasa bersalah dan rasa penasaran yang tumbuh, berusaha meminta maaf dengan berbagai cara. Teman-temannya membentuk "Tim STS" untuk membantunya, sementara Herman melancarkan puluhan "jurus cinta" yang sebagian besar berakhir dengan kegagalan memalukan. Dari puisi cinta, bunga mawar, tahu walik, jogging bersama, hingga menyanyikan lagu fals dengan gitar tiga senar di Dermaga Danau Mare—semua jurusnya gagal total. Namun di tengah kemarahannya, Amanda mulai merasakan sesuatu yang aneh. Herman yang terus berjuang meskipun ditolak mentah-mentah, yang rela berlutut di rumahnya dan mengorbankan harga diri demi meminta maaf, perlahan membuat dinding kebenciannya retak. Apalagi ketika Herman membantunya di saat-saat sulit, seperti ketika Amanda bertengkar dengan ayahnya dan menangis sendirian di Taman Hutan Kota. Hadangan datang dari berbagai sisi: Ragil, cowok playboy kaya raya yang juga mengejar Amanda, berusaha merebut hati Amanda dengan segala cara, termasuk mempengaruhi orang tuanya. Ibu Amanda melarang Herman mendekati putrinya karena status sosial yang tidak sepadan. Namun Herman tidak menyerah. Dengan dukungan sahabat-sahabatnya, ia terus berjuang—bekerja lebih keras, menabung, dan membuktikan bahwa ia layak untuk Amanda. Puncaknya adalah "jurus pamungkas"—Herman memilih diam dan memberi ruang bagi Amanda untuk menentukan pilihannya sendiri. Setelah dua minggu tanpa kabar, Amanda sadar bahwa ia benar-benar mencintai Herman. Mereka bersatu kembali, dan Herman mendapat waktu satu tahun dari ayah Amanda untuk membuktikan kesiapannya secara finansial. Satu tahun kemudian, Herman sukses membuktikan diri. Ia melamar Amanda di Dermaga Danau Mare, tempat pertama kali ia menyatakan cintanya dengan cara paling memalukan. Mereka menikah, memiliki anak bernama Karet (sebagai penghormatan pada permen karet yang mempertemukan mereka), dan menjalani kehidupan bahagia bersama teman-teman lama yang juga menemukan jodoh masing-masing. Kisah berakhir dengan Herman, Amanda, dan Karet yang masih setia hadir di Car Free Day setiap Minggu—mengingat bahwa cinta sejati bisa dimulai dari hal yang paling tidak terduga, bahkan dari sehelai permen karet yang lengket di baju orang yang paling dibenci.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 7
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan panjang persahabatan antara Agus Sabara dan Titik Mukti Aryanti, dua sahabat kecil dari kampung yang tumbuh bersama sejak usia delapan dan sepuluh tahun. Di bawah pohon mangga besar, mereka membuat surat janji persahabatan dengan sidik jari arang lidi—berjanji untuk menjadi sahabat selamanya, tidak peduli jarak dan waktu. Namun bagi Agus, persahabatan itu tumbuh menjadi lebih dari sekadar rasa sayang. Sejak usia tiga belas tahun, ia diam-diam mencintai Titik. Tapi ia memilih untuk menyembunyikan perasaannya, takut kehilangan persahabatan mereka jika ia mengaku. Ia menjadi "sahabat sejati" yang setia mendampingi setiap jatuh bangun Titik—menyaksikan Titik berganti pacar berkali-kali, patah hati berulang kali, dan selalu menjadi tempat curhat, pelabuhan darurat, serta jaring pengaman bagi Titik. Titik, yang lima belas tahun lebih tua dari Agus, terlalu sibuk mencari cinta di tempat yang salah. Ia jatuh pada pria-pria yang datang dengan gemerlap: Rendra, Robi, Handoko, Andre, Farhan, Dimas, Edo, Arman, hingga Reza—semua berakhir dengan patah hati. Dan setiap kali, Agus selalu ada: mendengarkan, menghibur, membersihkan kamar berantakan, memasak makanan hangat, dan menjadi bahu untuk menangis. Perjalanan mereka terbentang dari masa kecil di kampung, masa remaja di SMA, masa kuliah di Bandung dan Jakarta, hingga kehidupan dewasa di dunia kerja. Jarak dan waktu tak pernah memisahkan mereka, karena Agus selalu setia datang ketika Titik membutuhkan—bahkan harus menembus malam Puncak dengan motor butut hanya untuk menjenguk Titik yang kecelakaan di rumah sakit. Titik akhirnya sadar setelah sekian lama: cinta sejati tidak datang dengan gemerlap, tetapi dengan langkah pelan, setia, dan tidak pernah pergi. Ia menyadari bahwa selama ini ia mencari cinta di tempat yang salah, sementara orang yang paling mencintainya selalu ada di depan matanya—sebagai sahabat yang tak pernah pergi. Mereka pun menikah, membangun keluarga dari nol, melewati suka duka pernikahan, kelahiran anak bernama Tegar, sakit dan sehat, hingga usia senja. Agus meninggal lebih dulu dengan tenang, meninggalkan Titik yang setia menunggu di kampung—di bawah pohon mangga yang tumbuh kembali, tempat janji persahabatan mereka pertama kali diucapkan. Kisah diwariskan kepada Tegar dan anak-anaknya, menjadi pelajaran bahwa sahabat sejati tak pernah pergi—bahkan kematian tidak bisa memisahkan cinta yang tulus.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 7
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan cinta Andika Pratama, seorang mekanik bengkel di Kuala Kapuas, dan Reni Ayu Wulandari, seorang gadis SMA yang dilarang keras oleh orang tuanya untuk berpacaran sebelum kuliah. Kisah cinta mereka dimulai dari sebuah kecelakaan kecil di Bundaran Besar Kapuas—ketika Andika secara tidak sengaja menyenggol bahu Reni hingga jatuh, dan dari situlah benih cinta pertama kali tumbuh. Perjalanan mereka tidaklah mudah. Pak Wulandari, ayah Reni yang mantan polisi dan kini politisi, melarang keras hubungan mereka. Andika dianggap tidak pantas karena hanya seorang mekanik tanpa masa depan jelas. Rahmat, teman sekelas Reni yang berasal dari keluarga terpandang, menjadi saingan Andika yang terus berusaha merebut hati Reni dengan segala cara. Di tengah larangan dan tekanan, Andika dan Reni tetap berkomunikasi melalui surat yang dikirim secara diam-diam melalui sahabat mereka, Susan. Surat-surat cinta itu menjadi jembatan yang menjaga hubungan mereka tetap hidup, meskipun jarak dan larangan memisahkan. Andika berjanji akan setia menunggu di bangku kayu Bundaran Besar setiap akhir pekan, dan ia menepati janjinya—bahkan ketika Reni tidak bisa datang. Setelah bertahun-tahun berjuang, Reni lulus SMA dan memilih kuliah di Banjarmasin tanpa sepengetahuan ayahnya, sebuah keputusan berani yang menunjukkan kedewasaannya. Di tengah perjalanan kuliahnya, Rahmat terus berusaha mendekati Reni, bahkan hingga melibatkan orang tua dan merencanakan lamaran. Namun cinta Andika dan Reni terbukti lebih kuat. Kebahagiaan mereka nyaris sirna ketika Reni mengalami kecelakaan lalu lintas di Banjarmasin—kakinya patah parah akibat ditabrak mobil yang ternyata dikendarai adik Rahmat yang kabur dari kejaran polisi. Rahmat kemudian kabur ke Malaysia, sementara Reni harus menjalani terapi panjang untuk bisa berjalan normal kembali. Andika tidak pernah meninggalkan sisi Reni. Dengan kesabaran dan cinta yang tulus, ia mendampingi setiap langkah terapi, menguatkan Reni saat putus asa. Sementara itu, bisnis bengkel Andika berkembang pesat hingga memiliki cabang di Palangkaraya. Kesuksesannya membuktikan bahwa ia layak menjadi pendamping hidup Reni. Akhirnya, setelah melalui badai larangan, cemburu, kecelakaan, dan pengkhianatan, restu dari Pak Wulandari pun datang. Andika dan Reni menikah sederhana di bawah senja Bundaran Besar Kapuas—tempat di mana semuanya dimulai. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Renita Ayu Andika. Dua puluh lima tahun kemudian, Andika dan Reni yang kini telah beruban masih setia duduk di bangku kayu yang sama, menyaksikan putri mereka tumbuh dewasa dan menemukan cintanya sendiri. Bundaran Besar Kapuas tetap menjadi saksi bisu bahwa cinta sejati, meski harus melalui rintangan, akan selalu menemukan jalannya pulang.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 7
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan panjang transformasi Desa Awan Biru melalui tiga generasi kepemimpinan yang berbeda, dimulai dari era Pak Iwan (Generasi Pertama) yang merintis digitalisasi desa dengan segala keterbatasan dan kesalahan, dilanjutkan oleh Arjuna (Generasi Kedua) yang mewarisi fondasi tersebut dan membawanya lebih maju, hingga Joko (Generasi Ketiga) yang kelak akan melanjutkan estafet kepemimpinan. Cerita berpusat pada Warung RT 02—sebuah warung kopi sederhana yang menjadi saksi bisu perjalanan desa selama puluhan tahun. Dari warung inilah segala sesuatu bermula: obrolan warga, keluhan petani, diskusi pembangunan, hingga lahirnya ide-ide besar yang mengubah desa. Pak Iwan memulai era digitalisasi dengan susah payah. Didampingi Amat, tenaga IT desa yang sering melakukan kesalahan namun tak pernah menyerah, serta Bambang dan Rizki yang kemudian bergabung, mereka membangun sistem administrasi desa dari nol. Dari insiden bocornya APBDes, server yang sering error, hingga pelan-pelan meyakinkan warga akan manfaat teknologi—semua menjadi bagian dari proses panjang menuju desa yang transparan dan modern. Di tengah perjalanan, muncullah Erlangga, mahasiswa kedokteran yang datang untuk penelitian dan jatuh cinta pada Anita, kader posyandu desa. Kisah cinta mereka menjadi simbol bagaimana desa dan kota bisa bersatu. Sementara itu, Pak Santoso—petani cerewet yang selalu mengajukan puluhan usulan di setiap musyawarah—menjadi representasi warga kritis yang justru mendorong kemajuan desa. Arjuna, putra Erlangga dan Anita, tumbuh menjadi pemimpin muda yang membawa desa ke puncak kejayaannya. Ia mewarisi mimpi Pak Iwan dan menyempurnakannya: wisata desa berbasis digital, UMKM go online, sistem kesehatan terintegrasi, hingga menjadikan Desa Awan Biru sebagai percontohan digital di tingkat kabupaten. Di balik kemajuan, tetap ada ujian: serangan ransomware yang melumpuhkan server nasional, protes warga yang kehilangan lahan pertanian, serta tantangan regenerasi kepemimpinan. Namun dengan semangat gotong royong dan warisan nilai-nilai luhur dari generasi sebelumnya, desa ini terus bangkit. Kisah ditutup dengan Joko (putra Arjuna) dan Titik (putri Julia, pengelola warung) yang bersiap menjadi Generasi Ketiga penerus estafet pembangunan. Warung RT 02 tetap berdiri—menjadi saksi bisu bahwa langit Awan Biru tak pernah berubah, hanya manusia dan zamannya yang terus berganti.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 7
SINOPSIS SINGKAT Novel ini mengisahkan perjalanan tiga anak muda desa—Joko Legono, Titik Mukti Aryanti, dan Juana Purwanto—yang disebut oleh sesepuh desa sebagai "Trisula", tiga kekuatan berbeda yang akan menjadi tulang punggung Desa Awan Biru. Joko baru pulang dari merantau di Surabaya dengan ambisi membangun desanya melalui program Smart Village. Titik adalah gadis desa yang setia melestarikan kesenian tradisional, menyimpan luka karena kepergian Joko tanpa pamit lima tahun lalu. Juana adalah lulusan ilmu pemerintahan yang bertekad membawa tata kelola desa yang bersih dan transparan. Kisah dimulai ketika ketiganya kembali dipertemukan di Warung Mbah Karyo—tempat di mana segala cerita desa bermula. Namun kehidupan tak semudah yang mereka bayangkan. Program Smart Village menghadapi sabotase dan fitnah. Joko dituduh korupsi, sementara di balik layar, oknum desa menggerakkan politik kotor untuk menggagalkan program tersebut. Bencana banjir bandang melanda desa, menguji keberanian mereka. Di tengah malam yang mencekam, Mbah Anto—sesepuh yang telah memprediksi kehadiran Trisula—memilih untuk tetap di bawah pohon beringin tua demi menjaga akar desa, mengorbankan nyawanya demi mengingatkan generasi penerus akan nilai-nilai luhur kepemimpinan. Di tengah bencana, cinta Joko dan Titik yang selama ini terpendam akhirnya bersemi. Namun Juana, yang diam-diam menyimpan perasaan pada Joko, harus belajar melepaskan dan menemukan jalan pengabdiannya sendiri sebagai pengawas yang tegas melalui kursi BPD. Kasus korupsi desa yang melibatkan Kepala Desa Arjuna dan oknum-oknum lainnya akhirnya terungkap. Arjuna mengakui kesalahannya di depan umum—sebuah tindakan berani yang mengembalikan kepercayaan warga. Keris pusaka desa pun diwariskan kepada Trisula sebagai simbol tanggung jawab generasi keempat. Setelah melalui ujian cinta, fitnah, bencana, dan kekuasaan, Joko terpilih sebagai Kepala Desa dan Juana sebagai Ketua BPD. Mereka membangun desa dengan prinsip transparansi, menggabungkan teknologi modern dengan kearifan lokal, dan mewariskan semangat gotong royong kepada generasi berikutnya. Tiga puluh tahun kemudian, di bawah pohon beringin yang sama, ketiganya duduk sebagai sesepuh desa, menyaksikan generasi baru mulai menulis cerita mereka sendiri—menjadi bukti bahwa warisan cinta, pengabdian, dan keberanian tidak akan pernah usai selama langit di atas Desa Awan Biru masih biru.
Mulai Membaca