
āļø Slamet Riyadi
Telah dibaca 3 kali
Sinopsis Singkat Di Desa Beringin Jaya yang diselimuti kabut dan tradisi leluhur yang kuat, seorang anak kecil bernama Rahmat Hidayat tumbuh dengan kegelisahan yang tak terbendung. Setiap malam di bawah pohon beringin tua, ia menyaksikan ritual-ritual adat yang dijalankan dengan penuh keyakinanādupa, doa, sesajenādan mulai bertanya: "Apakah semua ini benar-benar harus begini selamanya?" Saat teman-temannya putus sekolah dan orang-orang lebih percaya dukun daripada puskesmas, Rahmat memilih jalan berbeda. Ia merantau ke kota, menimba ilmu, dan bertemu dengan Yolandaāperempuan yang membuka matanya bahwa tradisi tidak harus ditentang, tetapi bisa dipadukan dengan modernisasi. "Kamu tidak perlu melawan akar," kata Yolanda. "Kamu bisa menumbuhkan cabang baru." Rahmat pulang dengan tekad membara. Ia mendirikan Ruang Komunitas Digital Desaāsebuah ruangan kecil dengan satu laptop dan koneksi internet seadanya. Di sana, ia mengajarkan pemuda desa tentang teknologi, dokumentasi, dan potensi desa. Namun langkahnya ditentang keras oleh tokoh adat yang merasa tradisi terancam. Junaidi dan Lukman memperingatkannya, sementara Ibu Yohana menuduhnya merusak kepercayaan leluhur. Konflik memuncak saat Rahmat maju dalam Pilkades. Ia dikhianati oleh sahabatnya, Ridwan, yang memilih bergabung dengan kelompok penentang. Fitnah dan politik uang bertebaran. Rahmat kalah tipisāsebuah kekalahan yang menghancurkan, namun tidak mematahkan semangatnya. Dari kekalahan itulah kebangkitan sesungguhnya dimulai. Rahmat dan sahabat setianyaāAjisaka dan Nurulāmembangun kembali dari bawah. Mereka mengembangkan wisata alam di tepi sungai, melatih pemuda, dan menggerakkan ekonomi desa. Perlahan, desa yang tertutup kabut mulai terbuka. Bahkan tokoh-tokoh yang dulu menentangnya mulai mengakui perjuangannya. Di tengah perjalanan, Rahmat juga menghadapi pergulatan hati. Hubungan jarak jauhnya dengan Yolanda mulai renggang ketika Hana, seorang aktivis pengembangan desa, muncul sebagai rekan diskusi yang dekat. Namun cinta sejati tetap bertahanāYolanda akhirnya datang ke desa dan menyaksikan langsung perubahan yang telah ia perjuangkan. Pilkades berikutnya menjadi puncak pembuktian. Rahmat menang mutlakābukan karena popularitas, tetapi karena kerja nyata yang telah ia tunjukkan. Sebagai Kepala Desa, ia menghadapi tantangan baru: tekanan politik, tuntutan masyarakat, dan menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernisasi. Tahun-tahun berlalu. Desa Beringin Jaya berubah drastis. Jalan beraspal, wisata alam berkembang, anak-anak bersekolah, dan ekonomi bergerak. Rahmat memimpin dua periode dengan integritas. Pada akhir masa jabatannya, ia berdiri di bawah pohon beringin tua yang dulu menjadi simbol ketakutanākini menjadi saksi bisu perjuangan panjangnya. Epilog: Rahmat melepas jabatan sebagai Kepala Desa. Ia bukan lagi pemimpin formal, tetapi tetap menjadi bagian dari desa. Di bawah pohon beringin yang kini dikelilingi taman dan anak-anak bermain, ia tersenyum. Tradisi tetap hidup, modernisasi terus berjalan, dan keduanya tidak lagi bertentangan. Rahmat telah menggapai matahariādan membawa cahayanya pulang untuk dibagikan kepada seluruh desanya.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.