Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.
Total Koleksi
240 Buku
Total Pembaca
3679 Kali
Lokasi Layanan
Desa Sriwidadi
Menampilkan 240 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 32
**Sinopsis Singkat** *Senja Di Bawah Langit Sriwidadi Aku Menunggu* adalah syair tentang seorang pemuda yang memilih setia dalam penantian. Di bawah langit senja Sriwidadi, ia menunggu kekasih hati yang sedang menuntaskan pendidikan sarjananya di Universitas Palangkaraya. Jarak menghadirkan rindu, kegelisahan, dan kesunyian. Namun, di balik rasa galau itu, tumbuh keyakinan bahwa cinta yang tulus tidak akan kalah oleh waktu dan jarak. Setiap senja menjadi saksi janji yang terus dijaga: **menunggu sampai sang kekasih kembali, membawa kabar bahagia dan kepastian cinta.**
Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 29
SINOPSIS SINGKAT RINDU YANG TIDAK BERTEPI Di Antara Senja dan Luka yang Tak Pernah Usai Oleh: Slamet Riyadi Sinopsis Rakuan, seorang arsitek sukses dari Jakarta, kembali ke kampung halamannya di Kuala Kapuas setelah tiga tahun merantau. Ia pulang bukan karena rindu, tapi karena ibunya, Rahmah, sakit keras. Di kampung halaman, ia kembali bertemu dengan Susan—mantan kekasih yang ditinggalkannya tanpa pamit—yang kini terpaksa dijodohkan dengan sepupunya sendiri, Lucas, dalam pernikahan yang diatur keluarga. Persaingan bisnis kuliner antara sahabat Rakuan, Rudi, dengan keluarga Susan semakin memanas. Di balik semua itu, terbongkar rahasia masa lalu: perselisihan antara ibu Rakuan dan ibu Susan, identitas Susan sebagai anak angkat, dan keterlibatan Hendri—ayah Lucas—sebagai dalang utama. Rakuan harus berjuang melawan Lucas dan Hendri yang licik, berdamai dengan ayahnya yang keras kepala, dan membuktikan bahwa ia layak mendapatkan kesempatan kedua dari Susan. Dalam pencarian jati diri dan keadilan, mereka dihadapkan pada rahasia terakhir yang mengguncang segalanya—bahwa Hendri adalah ayah kandung Susan. Di tengah badai persaingan, pengkhianatan, dan konflik keluarga, Rakuan dan Susan menemukan bahwa cinta sejati bukanlah tentang kesempurnaan, tapi tentang keberanian untuk saling memperjuangkan. Rindu yang tak bertepi akhirnya berujung pada kepulangan sejati—di Dermaga KP3, di bawah senja Kapuas yang selalu setia.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 27
# **SINOPSIS** **DELAPAN BARIS TENTANG RINDU** adalah kumpulan 20 pantun yang mengisahkan perjalanan hati dari sebuah pertemuan sederhana hingga menemukan jalan pulang kepada cinta. Dimulai dari rasa yang perlahan tumbuh, kisah ini bergerak menuju rindu yang hadir karena jarak dan penantian. Cinta kemudian diuji oleh janji, keraguan, luka, dan keadaan yang hampir membuatnya berakhir. Namun kesetiaan dan keyakinan membuat hati memilih untuk tetap bertahan. Dalam setiap bait, pembaca diajak menyusuri perjalanan tentang cinta yang pernah bersemi, rindu yang semakin dalam, luka yang mendewasakan, serta harapan yang tidak pernah benar-benar padam. Hingga akhirnya, setelah melewati penantian panjang, cinta menemukan makna tentang sebuah rumah—tempat hati merasa tenang untuk kembali dan pulang. **Dua puluh pantun, delapan baris dalam setiap bait, satu perjalanan tentang cinta, rindu, dan harapan yang tak pernah benar-benar pergi.**
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 34
SINOPSIS SINGKAT Antologi syair ini mengisahkan perjalanan cinta dua insan yang dimulai dari pertemuan sederhana di sebuah senja, tumbuh menjadi rasa mendalam, lalu diuji oleh jarak, kesibukan, masa lalu, dan keraguan. Dalam empat puluh syair, pembaca diajak menyusuri setiap fase hubungan—dari jatuh cinta, berbagi mimpi, saling menyakiti, meminta maaf, hingga akhirnya belajar dewasa dalam mencintai. Ketika jarak memisahkan kota, komunikasi mulai kehilangan hangat, dan rindu berubah menjadi kelelahan, mereka hampir menyerah. Namun sebuah pertemuan kembali mempertemukan dua hati yang saling merindukan, dan mereka memutuskan untuk membangun kembali hubungan dengan cara yang lebih dewasa dan jujur. Di ujung perjalanan, setelah melewati berbagai ujian—rahasia masa lalu, ketidakpercayaan, hingga pertentangan keluarga—mereka akhirnya mendapatkan restu dan membuat janji suci. Pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang tidak pernah pergi, melainkan tentang dua hati yang pernah hampir kehilangan arah namun tetap belajar menemukan jalan pulang kepada cinta yang sama. Kisah ini mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang setelah diuji berkali-kali masih mampu berkata, "Aku memilihmu."
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 36
Sinopsis Singkat "Di Antara Rindu dan Kehilangan" Kumpulan puisi ini lahir dari ruang-ruang sunyi di mana rindu tinggal terlalu lama dan kehilangan menjadi guru yang paling gigih. Di Antara Rindu dan Kehilangan mengajak pembaca menyelami pergulatan batin yang tak terucapkan: kerinduan yang tak kunjung padam, cinta yang bertahan meski jarak membentang, serta proses menyakitkan untuk belajar melepaskan seseorang yang masih sangat berarti. Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, setiap puisi menjadi pengingat bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Dari sepuluh puisi yang mengalir seperti percakapan malam dengan diri sendiri, terangkai tema tentang rindu yang pulang setiap malam meski telah berusaha dilupakan, cinta sederhana yang cukup dengan diam yang setia, dan janji yang dititipkan bukan untuk selamanya tetapi untuk dirawat selama waktu masih mengizinkan. Ada juga pengakuan paling jujur tentang kehilangan yang paling menyakitkan—bukan ketika seseorang pergi, melainkan ketika ia masih ada tetapi tak lagi terasa dekat, serta proses berdamai dengan kenyataan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa tersenyum mengenang seseorang yang pernah singgap. Buku ini adalah pelukan hangat bagi siapa pun yang sedang merindu, yang sedang belajar melepaskan, atau yang ingin mengenang. Sebab ada cinta yang tidak perlu berakhir dengan memiliki—ia cukup menjadi cahaya yang pernah menerangi hidup, lalu tinggal selamanya di tempat paling sunyi dalam hati.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 29
Sinopsis Singkat "Roman Desa yang Menyimpan Namamu" Empat puluh hari. Sepuluh mahasiswa. Satu desa. Dan sebuah kisah cinta yang tak pernah mereka rencanakan. Raka dan sembilan rekannya tiba di Desa Awan Biru dengan segudang program KKN: digitalisasi desa, revitalisasi perpustakaan, dokumentasi, dan penulisan buku sejarah. Mereka datang dengan keyakinan bahwa empat puluh hari cukup untuk meninggalkan jejak. Namun desa ini mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis dalam proposal. Di tengah debu arsip tua dan layar komputer yang menyala, Raka bertemu dengan Siska Damayanti—operator desa yang sebaya dengannya, yang perlahan menjadi alasan ia selalu ingin datang ke kantor desa. Mereka bekerja bersama menyusun sejarah, membenahi data, dan menghidupkan kembali perpustakaan yang hampir dilupakan. Namun waktu tidak pernah berpihak pada pertemuan yang terlalu singkat. Ketika program mulai berhasil dan jejak mereka mulai terlihat, hari-hari justru bergulir semakin cepat menuju perpisahan. Raka dan Siska harus menghadapi pertanyaan yang paling sulit: apakah perasaan yang tumbuh dalam empat puluh hari mampu bertahan setelah mereka kembali ke dunia masing-masing? "Desa yang Menyimpan Namamu" adalah roman pengabdian yang manis dan mengharukan tentang cinta, persahabatan, dan makna meninggalkan jejak. Sebuah kisah tentang bagaimana empat puluh hari bisa menjadi cukup lama untuk mengubah segalanya—dan cukup singkat untuk membuat seseorang ingin kembali lagi dan lagi.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI DAN MAHASISWA KKN UPR 068
👁️ 35
SINOPSIS BUKU SEJARAH DESA SRIWIDADI Judul: Sejarah Desa Sriwidadi: Dari Masa Awal Pembentukan hingga Era Pembangunan Berkelanjutan (1998–2026) Penulis: Tim Penyusun Pemerintah Desa Sriwidadi berkolaborasi dengan Mahasiswa KKN UPR Kelompok 068 Tahun Terbit: 2026 SINOSIS SINGKAT Buku ini mendokumentasikan secara utuh perjalanan panjang Desa Sriwidadi sejak awal pembentukannya sebagai Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Lamunti II B-3 pada tahun 1998, hingga transformasinya menjadi desa definitif berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas Nomor 6 Tahun 2012, serta dinamika pembangunannya hingga era modern. Desa Sriwidadi lahir dari Program Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar pada masa akhir Orde Baru, yang menghadirkan 282 Kepala Keluarga transmigran dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan transmigran lokal dari Kalimantan Tengah. Nama "Sriwidadi" yang berarti "Desa Cantik Harapan Jadi" dipilih melalui musyawarah masyarakat sebagai simbol cita-cita kolektif akan kemakmuran dan keberlanjutan. Buku ini mengupas secara komprehensif berbagai aspek kehidupan desa, mulai dari kondisi geografis dan demografis, sejarah pembentukan, perkembangan pemerintahan dari masa ke masa, kehidupan sosial-budaya dan keagamaan yang harmonis, hingga transformasi ekonomi dari sektor pertanian subsisten menuju perkebunan kelapa sawit sebagai tulang punggung perekonomian. Pembangunan infrastruktur, penguatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, serta peran strategis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkat Usaha turut dibahas secara mendalam sebagai bukti kemajuan desa menuju status "desa berkembang". Buku ini juga menyoroti sinergi Desa Sriwidadi dengan pemerintah daerah dalam pembangunan berkelanjutan, serta tantangan dan peluang ke depan di era digitalisasi dan globalisasi. Disusun sebagai dokumen historis, administratif, dan edukatif, buku ini menjadi sumber rujukan resmi bagi pemerintah desa, bahan literasi sejarah bagi masyarakat dan generasi muda, serta arsip strategis dalam mendukung perencanaan pembangunan dan penguatan identitas Desa Sriwidadi. Kata Kunci: Sejarah Desa, Transmigrasi, Sriwidadi, Pembangunan Desa, Pemerintahan Desa, Kearifan Lokal
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 34
SINOPSIS SINGKAT JEJAK CINTA YANG TERTINGGAL Tiga Bulan Pengabdian, Sebuah Desa, dan Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Sugianto, seorang mahasiswa magang, tiba di Desa Awan Biru dengan perasaan canggung dan gugup. Tiga bulan masa magangnya di Pemerintah Desa Awan Biru awalnya hanya ia anggap sebagai kewajiban sekolah—rutinitas belajar administrasi, pelayanan, dan perencanaan desa. Namun hari-hari di desa kecil itu perlahan mengubahnya. Dari meja pelayanan, ia belajar arti kesabaran dan pengabdian. Dari perangkat desa seperti Pak Iwan, Ibu Yuni, Pak Eko, Ibu Lulu, dan Si Amat, ia memahami bahwa pemerintahan desa bukan tentang dokumen, melainkan tentang melayani masyarakat. Dari tokoh masyarakat seperti Pak Sugeng dan Pak Hasan, ia belajar bahwa desa adalah manusia, bukan sekadar kantor. Di tengah rutinitas itu, ia bertemu Nadia—gadis desa yang tegar, bermimpi besar, dan perlahan membuat hatinya berubah. Persahabatan yang tumbuh di antara mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam, meskipun waktu terus bergerak menuju akhir masa magang. Kedatangan sepuluh mahasiswa KKN yang dipimpin Raka membawa warna baru. Kolaborasi antara pemerintah desa, mahasiswa, pemuda, dan Sugianto melahirkan perpustakaan digital—sebuah warisan pengetahuan bagi generasi desa. Namun di balik kebersamaan itu, ada Anto—pemuda desa yang iri dan cemburu, yang melihat Sugianto sebagai saingan dalam memperebutkan hati Nadia. Konflik memuncak ketika kesalahan administrasi dimanfaatkan Anto untuk menjatuhkan Sugianto. Ancaman, sabotase, dan tekanan dari keluarga Nadia menjadi ujian terberat yang harus ia hadapi. Namun di tengah semua itu, Sugianto belajar bahwa pengabdian sejati bukan tentang berapa lama seseorang tinggal, melainkan tentang jejak kebaikan yang ditinggalkan. Tiga bulan yang terasa singkat mengajarkan Sugianto banyak hal: tentang pemerintahan dan pelayanan, tentang persahabatan dan tanggung jawab, tentang ketulusan dan pengorbanan. Dan di antara semua itu, ia belajar tentang cinta yang tidak pernah benar-benar pergi—sebuah jejak yang tertinggal di Desa Awan Biru, menunggu untuk kembali.
Mulai Membaca