🏛️
PerpusDig Sriwidadi
Desa Sriwidadi
PROKER KKN '26
📦Rak Offline
Sistem Perpustakaan Aktif

Jendela Pengetahuan Desa

Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.

🔍
📑
✨
📚

Total Koleksi

240 Buku

👁️

Total Pembaca

3670 Kali

🏛️

Lokasi Layanan

Desa Sriwidadi

📚 Koleksi Terbaru

Menampilkan 240 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

KIDUNG RANGGA LAWE GUGURNYA SAN KSATRIA DI UJUNG KESETIAAN
Buka Detail ↗

KIDUNG RANGGA LAWE GUGURNYA SAN KSATRIA DI UJUNG KESETIAAN

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 33

## **SINOPSIS** **Kidung Rangga Lawe** mengisahkan perjalanan seorang ksatria gagah dari Tuban yang hidup dengan menjunjung tinggi keberanian, kesetiaan, dan kehormatan. Di tengah gemuruh kejayaan Majapahit, Rangga Lawe tampil sebagai sosok pemberani yang siap menyerahkan jiwa dan raganya demi keyakinan serta harga diri yang dipegang teguh. Namun, kesetiaan tidak selalu berjalan seiring dengan keadilan. Luka, kekecewaan, dan pergulatan batin akhirnya membawa sang ksatria ke jalan takdir yang penuh prahara. Di medan peperangan, Rangga Lawe menghadapi bukan hanya musuh di hadapannya, tetapi juga pergulatan antara kesetiaan, kehormatan, dan luka di dalam hatinya. Dengan nuansa heroik dan dramatis, **Kidung Rangga Lawe** menjadi sebuah kisah tentang keberanian seorang ksatria yang boleh gugur di medan perjuangan, tetapi namanya tetap hidup dalam ingatan. ***Sebab jasad dapat kembali ke tanah, tetapi keberanian dan kehormatan akan selalu menemukan tempatnya dalam sejarah.***

"

Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

🎓 Proker KKN 2026

Sistem Informasi Perpustakaan Digital, dedikasi mahasiswa untuk memajukan literasi warga Desa Sriwidadi.

Dibuat dengan ❤️ di tahun 2026© Perpustakaan Digital Desa Sriwidadi. All Rights Reserved.
Mulai Membaca
KIDUNG LAMENTASI SENJA TERAKHIR
Buka Detail ↗

KIDUNG LAMENTASI SENJA TERAKHIR

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 35

## **SINOPSIS** **KIDUNG LAMENTASI: SENJA TERAKHIR** merupakan sebuah kidung tentang cinta yang tumbuh di antara ketenangan sebuah desa, ketika dua hati menemukan keindahan dalam kebersamaan. Di bawah langit senja **Desa Sriwidadi**, asmara mereka perlahan bersemi, menghadirkan harapan tentang hari-hari yang ingin dijalani bersama. Namun, ketika cinta itu belum sepenuhnya menikmati kebahagiaannya, takdir datang membawa jalan yang berbeda. Sang pemuda harus meninggalkan Sriwidadi untuk menjalankan tugas di sebuah daerah yang sangat jauh. Kepergian yang bukan dilandasi oleh keinginan untuk meninggalkan cinta itu pun berubah menjadi perpisahan yang berat bagi keduanya. Melalui senja, jalan-jalan desa, angin sore, dan kenangan yang tertinggal, kidung ini mengisahkan tentang **rindu yang tak bertepi, jarak yang menguji kesetiaan, serta harapan yang tetap hidup meski pertemuan belum memiliki kepastian**. **KIDUNG LAMENTASI: SENJA TERAKHIR** adalah nyanyian tentang dua insan yang saling mencintai, tetapi harus menerima kenyataan bahwa cinta tidak selalu dapat berjalan bersama takdir. Sebab terkadang, cinta sejati bukan tentang menggenggam selamanya, melainkan tentang **melepaskan dengan air mata, menjaga dengan kesetiaan, dan menunggu dengan harapan**.

Mulai Membaca
KIDUNG PANJI KEMBANGIN KATRESNAN
Buka Detail ↗

KIDUNG PANJI KEMBANGIN KATRESNAN

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 146

**KIDUNG PANJI: KEMBANGING KATRESNAN** mengisahkan perjalanan cinta Panji dan Sekartaji yang diuji oleh jarak, waktu, dan perpisahan. Di tengah pengembaraan yang panjang, keduanya tetap menyimpan kesetiaan dalam hati, meski harus melewati kesunyian, kerinduan, dan berbagai ujian kehidupan. Kidung ini menghadirkan kisah cinta klasik yang penuh keindahan dan makna, tentang dua hati yang percaya bahwa cinta sejati tidak akan hilang meski sempat terpisah. Sebab, seperti bunga yang tetap mekar setelah musim berganti, **katresnan yang tulus akan selalu menemukan jalan untuk pulang**.

Mulai Membaca
TEMBANG ASMARADANA
Buka Detail ↗

TEMBANG ASMARADANA

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 36

# **SINOPSIS** ## **TEMBANG ASMARADANA** ### *“Nalika Ati Nemokake Katresnan”* **Oleh: Slamet Riyadi** *Tembang Asmaradana: “Nalika Ati Nemokake Katresnan”* merupakan perjalanan batin tentang tumbuhnya cinta dari sebuah pertemuan sederhana hingga menemukan makna cinta sejati. Melalui bait-bait yang penuh kelembutan, tembang ini mengisahkan hati yang mulai mengenal cinta, merasakan rindu, menanti dalam jarak, menjaga janji, serta menghadapi berbagai ujian yang datang bersama perjalanan waktu. Rembulan, bintang, hujan, bunga, angin, dan senja menjadi saksi perjalanan perasaan yang perlahan tumbuh menjadi kesetiaan. Cinta dalam tembang ini tidak digambarkan hanya sebagai rasa bahagia ketika bersama, tetapi juga sebagai keberanian untuk tetap percaya ketika berjauhan, kesabaran ketika harus menunggu, ketulusan untuk memaafkan, dan kesetiaan untuk tetap memilih orang yang sama hingga usia senja. Dari **pertemuan, kasmaran, kerinduan, penantian, ujian jarak, janji, hingga kesetiaan**, setiap bait membawa pembaca semakin dekat pada satu kesimpulan: cinta sejati bukan sekadar kata-kata indah, melainkan ketulusan yang diwujudkan melalui kesetiaan. Pada akhirnya, *Asmaradana* mengajak kita memahami bahwa cinta yang paling mulia bukanlah cinta yang hanya hadir ketika keadaan mudah, melainkan cinta yang tetap bertahan ketika waktu menguji, jarak memisahkan, dan usia perlahan berubah. **Sebuah tembang tentang hati yang menemukan cinta, menjaganya dengan kesetiaan, dan akhirnya memahami bahwa cinta sejati adalah tentang tetap memilih untuk tinggal.**

Mulai Membaca
BUKU TEMBANG MACAPAT
Buka Detail ↗

BUKU TEMBANG MACAPAT

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 33

SINOPSIS TEMBANG MACAPAT Sebelas Tembang tentang Perjalanan Hidup, Cinta, Pengabdian, dan Renungan Jiwa Oleh: Slamet Riyadi Tembang macapat bukan sekadar rangkaian kata yang terikat oleh aturan guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Di balik setiap tembang tersimpan gambaran tentang perjalanan manusia—tentang kelahiran, pertumbuhan, cinta, kebahagiaan, perjuangan, pengabdian, pengendalian diri, hingga perpisahan dan akhir kehidupan. Buku “TEMBANG MACAPAT” menghadirkan sebelas jenis tembang macapat yang disusun sebagai sebuah perjalanan filosofis kehidupan manusia. Dimulai dari Maskumambang, yang menggambarkan awal kehidupan dalam ketidakpastian, kemudian Mijil sebagai simbol kelahiran, Sinom tentang masa muda dan pertumbuhan, serta Kinanthi tentang tuntunan dan pencarian arah. Perjalanan berlanjut melalui Asmaradana, yang menghadirkan gejolak cinta dan kerinduan; Gambuh, tentang pertemuan dan keselarasan hidup; Dhandhanggula, tentang manisnya kehidupan dan rasa syukur; kemudian Durma, yang mengajarkan keberanian, tanggung jawab, perjuangan, dan pengabdian. Setelah itu, Pangkur mengajak manusia belajar mengendalikan hawa nafsu dan melepaskan keterikatan duniawi. Megatruh membawa pembaca pada kesadaran tentang kehilangan, kefanaan, dan perpisahan jiwa dengan raga. Perjalanan akhirnya ditutup dengan Pucung, sebagai renungan tentang akhir kehidupan dan kesadaran bahwa setiap manusia pada waktunya akan berpamitan dari dunia. Setiap bagian dalam buku ini tidak hanya menghadirkan satu tembang berdasarkan kaidah macapat, tetapi juga dilengkapi dengan penjelasan makna, watak, tafsir setiap baris, renungan, serta pesan filosofis yang dapat dikaitkan dengan kehidupan masa kini. Dengan bahasa yang puitis, reflektif, dan elegan, buku ini berusaha mempertemukan warisan sastra Jawa dengan perenungan kehidupan manusia modern. “TEMBANG MACAPAT” bukan hanya buku untuk membaca tembang, tetapi sebuah ajakan untuk memahami perjalanan diri: dari lahir menuju tumbuh, dari tumbuh menuju cinta, dari cinta menuju pengabdian, dari pengabdian menuju kesadaran, dan dari kesadaran menuju keikhlasan. Pada akhirnya, sebelas tembang tersebut mengingatkan kita bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang memiliki awal dan akhir. Yang membedakan setiap manusia bukanlah berapa lama ia tinggal di dunia, melainkan seberapa baik ia menjalani perjalanan dan seberapa banyak kebaikan yang ia tinggalkan. Sebuah buku tentang tembang, tetapi sesungguhnya adalah sebuah buku tentang kita—tentang kehidupan, cinta, pengabdian, kehilangan, dan perjalanan jiwa menuju kesadaran.

Mulai Membaca
ANTOLOGI GURINDAM DI ANTARA KATA DAN MAKNA
Buka Detail ↗

ANTOLOGI GURINDAM DI ANTARA KATA DAN MAKNA

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 47

SINOPSIS SINGKAT Di Antara Kata dan Makna adalah antologi 20 gurindam yang menghadirkan renungan tentang perjalanan manusia dalam memahami kehidupan. Disusun dalam enam bagian, buku ini membawa pembacanya melintasi waktu, ilmu pengetahuan, pikiran manusia, perkembangan teknologi, bumi dan semesta, hingga rahasia keberadaan . Setiap gurindam terdiri atas enam umpan dengan bahasa yang sederhana, puitis, dan sarat makna. Melalui hubungan sebab-akibat dan nasihat yang menjadi ciri gurindam, buku ini mengajak pembaca berhenti sejenak dari kesibukan, melihat kehidupan dari sudut yang lebih dalam, serta menemukan makna di balik kata-kata. Sebuah buku tentang kata yang singkat, tetapi menyimpan renungan yang panjang—tentang manusia, zaman, dan perjalanan mencari makna kehidupan.

Mulai Membaca
ANTOLOGI TALIBUN DI BALIK WAKTU YANG DIAM
Buka Detail ↗

ANTOLOGI TALIBUN DI BALIK WAKTU YANG DIAM

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 29

# **SINOPSIS** **Di Balik Waktu yang Diam** adalah antologi dua puluh talibun yang menghadirkan perpaduan antara bentuk sastra lama dan gagasan imajinatif yang modern. Melalui talibun enam baris dengan pola rima **ABC-ABC**, pembaca diajak menyusuri perjalanan yang tidak biasa: dari jam tua dan kereta yang tak pernah berhenti, museum dan perpustakaan yang menyimpan jejak masa lalu, hingga kota tua, lorong di antara dua zaman, serta perjalanan imajinatif menuju planet yang belum bernama. Setiap talibun menjadi sebuah jendela untuk memandang **waktu, ruang, benda, ingatan, peradaban, imajinasi, dan semesta** dari sudut yang berbeda. Buku ini tidak sekadar mempertahankan keindahan talibun sebagai salah satu bentuk puisi lama, tetapi juga membawanya memasuki dunia yang lebih luas dan kontemporer. Pada akhirnya, seluruh perjalanan membawa pembaca kembali kepada satu pertanyaan sederhana: **apa yang sebenarnya tertinggal ketika waktu terus berjalan?** Mungkin jawabannya adalah kenangan, pengalaman, pengetahuan, dan jejak yang pernah kita tinggalkan. Sebab waktu boleh berlalu dan dunia boleh berubah, tetapi sesuatu yang pernah memiliki makna akan selalu menemukan cara untuk tetap hidup dalam ingatan.

Mulai Membaca
BALADA SENJA DI SRIWIDADI
Buka Detail ↗

BALADA SENJA DI SRIWIDADI

Fiksi & Sastra

✏️ SLAMET RIYADI

👁️ 34

SINOPSIS SINGKAT Tiga puluh lima hari pengabdian di Desa Sriwidadi awalnya hanya menjadi perjalanan biasa bagi seorang mahasiswa KKN. Namun, di tengah kesibukan menjalankan program kerja dan berinteraksi dengan masyarakat, ia justru menemukan sesuatu yang tidak pernah direncanakannya: cinta kepada seorang perempuan yang menjadi perangkat desa. Kedekatan yang tumbuh dari percakapan sederhana perlahan berubah menjadi rasa yang semakin dalam. Tetapi waktu pengabdian terus berjalan, sementara keberanian untuk mengungkapkan cinta selalu tertunda. Hingga di penghujung masa KKN, ia akhirnya menyatakan perasaannya. Sayangnya, sang perempuan tidak memberikan jawaban pasti. Ia pun kembali ke kampus dengan membawa kenangan tentang Sriwidadi dan satu pertanyaan yang terus menghantui hati: apakah cinta itu akan berlanjut, atau hanya menjadi kenangan yang tertinggal di ujung pengabdian? Balada Senja di Sriwidadi adalah kisah tentang cinta yang tumbuh tanpa direncanakan, perpisahan yang menyisakan harapan, dan penantian akan sebuah kepastian.

Mulai Membaca
← SebelumnyaHalaman 3 dari 30Berikutnya →