Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.
Total Koleksi
213 Buku
Total Pembaca
1214 Kali
Lokasi Layanan
Desa Sriwidadi
Menampilkan 213 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 5
SINOPIS SINGKAT DETEKTIF CILIK BOJONG SARI Serial Misteri Kancil Bukit Manoreh EPISODE 1: SERBUAN KANCIL DARI BUKIT MANOREH Oleh: Slamet Riyadi Di Desa Bojong Sari, ladang mentimun milik para petani porak-poranda dalam semalam. Raka, bocah 11 tahun dengan mata awas, menemukan jejak aneh di ladang ayahnya—jejak kecil berbentuk hati terbalik, bukan jejak babi hutan seperti yang dituduhkan warga. Bersama sahabatnya Wati dan Bejo, Raka membentuk Tim Penyelidik Cilik. Saat ronda malam, Raka menyaksikan sendiri pelaku sebenarnya: sekawanan kancil dari Hutan Manoreh yang dipimpin seekor kancil tua bijaksana. Namun Raka tak segera melapor—ia curiga ada alasan kuat mengapa hewan pemalu ini berani keluar hutan. Dengan misi rahasia, ketiga detektif cilik memutuskan masuk ke Hutan Manoreh untuk mengungkap misteri di balik serangan kancil. Petualangan yang penuh teka-teki, persahabatan, dan kearifan alam pun dimulai. ________________________________________ Genre: Cerita Anak / Misteri / Petualangan Target Pembaca: Anak-anak usia 9-13 tahun Pesan: Keberanian, persahabatan, dan kepedulian terhadap alam
Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 14
SINOPSIS ROMAN EPIK DIBAWAH LANGIT AWAN BIRU Amat Junior lahir di tengah badai gaib dengan mata biru tak biasa, sebuah tanda bahwa ia adalah keturunan garis penjaga yang ditakdirkan menyelamatkan Desa Awan Biru. Didampingi sahabatnya, Raka si penjual pecel yang jenaka dan Camelia si pencatat cerdas, Amat kecil belajar melihat makhluk halus, berkomunikasi dengan Kyai Beringin di pohon beringin tua, dan menemukan rahasia segel yang mengurung kegelapan di Hutan Larangan. Ketika segel mulai retak dan makhluk kuno bangkit mengancam desa, Amat dan sahabatnya melakukan ritual purnama terlarang. Raka hampir gugur menahan serangan, Camelia mendokumentasikan setiap petunjuk, dan Amat mengerahkan seluruh kekuatan gaibnya. Di akhir pengabdiannya, ia memilih melepaskan liontin pusaka, sumber kekuatan dan mata birunya, untuk memulihkan segel selamanya, meski harus menjadi manusia biasa. Amat wafat dengan tenang di usia senja, mewariskan desa yang aman dan makmur. Raka dan Camelia tetap menjaga warisan cerita, sementara putra Amat, Awan Junior, meneruskan kepemimpinan dengan nilai-nilai leluhur. Langit Awan Biru tetap biru, kabutnya bukan lagi tanda bahaya melainkan salam dari leluhur, mengingatkan bahwa desa ini dijaga oleh cinta, persahabatan, dan pengorbanan yang tak pernah sia-sia.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 9
SINOPSIS ROMAN *MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI* Roman ini mengisahkan perjalanan hidup dua sahabat sejati, Riyadi dan Ari Yanti, yang tumbuh bersama di Desa Tegorejo, Jawa Tengah, pada era 1990-an. Mereka dipertemukan oleh dunia karate di SMPN 1 Pegandon. Riyadi adalah sosok pendiam, bertanggung jawab, dan sabuk coklat karate, sementara Ari Yanti adalah gadis manja, cerewet, namun baik hati. Sejak remaja, hubungan mereka sudah istimewa: terlalu dekat untuk disebut teman biasa, namun terlalu muda dan takut untuk disebut cinta. Ia memanggilnya "Sinok", dan ia memanggilnya "Kakang". Kedekatan mereka tumbuh alami di tengah latihan Minggu pagi, sepeda ontel, dan candaan teman-teman karate seperti Aziz, Agus, dan Farida. Bu Yati, ibu Ari Yanti yang sangat protektif, dengan tegas berpesan kepada Riyadi: "Jaga Yanti, tapi jangan sampai kalian pacaran." Pesan itu menjadi tembok besar yang membuat Riyadi terus menahan perasaannya. Ari Yanti sendiri sempat memiliki cinta pertama dengan seorang pemuda desa bernama Nur, namun hubungan itu rapuh oleh rasa cemburu dan kepergian Nur merantau tanpa pamit. Di saat patah hati, Riyadi selalu menjadi tempat curhat utama. Dari sinilah benih persahabatan sejati mulai teruji. Persahabatan mereka semakin erat saat mengikuti ujian sabuk coklat di Semarang. Di sana, untuk pertama kalinya Ari Yanti mengucapkan kalimat yang kelak menjadi janji abadi: "Merpati tak pernah ingkar janji." Kalimat sederhana itu lahir di malam hari sambil memandangi lampu kota Semarang, sebagai simbol bahwa ia akan selalu kembali ke tempat yang ia percaya. Riyadi saat itu belum sepenuhnya memahami maknanya, namun kalimat itu terus hidup dalam hatinya puluhan tahun kemudian. Kisah berlanjut ke kejuaraan Kapolres Cup dan Kejurda Jawa Tengah. Ari Yanti berhasil menjadi juara dan terpilih mewakili Jawa Tengah menuju Kejurnas Lemkari di Padang. Di tengah gemilang prestasi, muncul sosok Kustowo, atlet dari Banyumas yang dekat dengannya. Untuk pertama kalinya, Riyadi merasakan cemburu yang tak bisa ia sembunyikan. Namun ia tetap diam, karena merasa tak punya hak atas Ari Yanti. Konflik batin ini menjadi titik balik emosional dalam cerita. Setelah kejurnas, kehidupan ekonomi keluarga Riyadi yang sulit memaksanya merantau ke Tangerang, lalu ke Kalimantan, tanpa berpamitan kepada Ari Yanti. Keputusan ini melukai hati Ari Yanti dalam waktu yang lama. Ia merasa ditinggalkan tanpa penjelasan. Surat-surat yang sempat terkirim perlahan menghilang seiring jarak dan waktu. Selama bertahun-tahun, keduanya hidup dalam keheningan, namun doa dan kenangan tetap tersimpan diam-diam. Ari Yanti melanjutkan hidup: lulus STM di Klaten, menjadi guru, menikah, dan memiliki anak. Namun ada ruang kosong dalam hatinya yang tak pernah terisi. Begitu pula Riyadi, yang menetap di Desa Sriwidadi, Kalimantan Tengah, bekerja sebagai perangkat desa, menikah, dan memiliki keluarga. Kesibukan hidup tak mampu menghapus nama "Sinok" dari ingatannya. Ia mulai menulis untuk mengobati rindu, dan perlahan kenangan masa lalu menjadi bahan tulisannya. Puncak dari kerinduan itu adalah ketika Riyadi memutuskan menulis sebuah roman epik berjudul *"Senja di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi"*. Ia menulis dengan sangat detail, bahkan menggunakan foto-foto lama dan kenangan nyata. Melalui media sosial, ia mulai mencari Ari Yanti. Setelah tiga puluh dua tahun, seorang teman lama, Fianah, membantunya menemukan profil Facebook Ari Yanti. Pertemuan maya ini menjadi awal dari mukjizat kecil dalam hidup mereka. Pesan pertama yang dikirim Riyadi adalah: "Assalamu’alaikum... apakah ini Ari Yanti?" Balasan yang datang membuat hati Riyadi bergetar: "Kaang... ini benar Kak Riyadi?" Dari situlah pintu komunikasi terbuka. Mereka mulai bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing, tentang anak, tentang pekerjaan, tentang sakit dan suka yang telah dilalui. Rasa canggung perlahan berubah menjadi kehangatan yang hilang selama puluhan tahun. Melalui novel yang ia tulis, Riyadi mengajak Ari Yanti bernostalgia. Setiap bab yang dikirim membuat Ari Yanti menangis dan tertawa. Ia tak menyangka Riyadi masih mengingat detail kecil: sepeda ontel, luka di pelipis, cemburu pada Kustowo, hingga godaan Aziz. Novel itu menjadi jembatan yang menyatukan kembali kenangan yang sempat terkubur. Setelah berbulan-bulan berkomunikasi lewat WhatsApp dan video call, mereka memutuskan untuk bertemu. Pertemuan itu terjadi di Desa Tegorejo, tempat semua cerita bermula. Saat pertama kali bertatap muka, keduanya hanya diam, lalu menangis, lalu berpelukan. Pelukan pertama setelah tiga puluh dua tahun. Tak ada kata yang mampu menggambarkan haru yang mereka rasakan. Senja Tegorejo menjadi saksi bisu pertemuan kembali dua sahabat sejati. Selama beberapa hari di Tegorejo, mereka menjelajahi desa dengan sepeda ontel tua, mengunjungi dojo karate, rumah Bu Yati, dan tempat-tempat penuh kenangan. Mereka tertawa, menangis, dan saling memaafkan. Ari Yanti akhirnya tahu mengapa Riyadi pergi tanpa pamit: karena takut melihatnya sedih. Riyadi akhirnya tahu bahwa Ari Yanti selama ini juga menyimpan semua surat dan fotonya. Di sela-sela pertemuan, mereka membahas novel yang sedang ditulis Riyadi. Ari Yanti meminta agar kisah mereka diceritakan dengan jujur, tanpa rekayasa. Riyadi setuju. Baginya, novel itu bukan sekadar karya sastra, melainkan warisan untuk anak cucu tentang arti persahabatan sejati. Riyadi kemudian mengundang Ari Yanti untuk datang ke Kalimantan, tepatnya ke Desa Sriwidadi. Perjalanan itu sempat diragukan karena jarak dan waktu, namun akhirnya terwujud. Ari Yanti datang bersama keluarga. Ia disambut hangat oleh keluarga Riyadi dan warga desa. Ia melihat langsung bagaimana Riyadi hidup sebagai perangkat desa yang sederhana namun penuh dedikasi. Selama di Sriwidadi, Ari Yanti diajak berkeliling desa, melihat perkebunan sawit, kantor desa, dan Sungai Kapuas. Malam harinya, mereka duduk di teras rumah sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng. Topik pembicaraan bergulir dari masa lalu ke masa depan, dari kenangan ke harapan. Ari Yanti berkata, "Sekarang aku tahu, merpati itu tak pernah ingkar janji." Perpisahan kedua kalinya terasa jauh berbeda. Tidak ada tangis kehilangan, yang ada adalah rasa syukur. Sebelum pulang, Ari Yanti membaca halaman terakhir novel Riyadi yang masih kosong. Ia berkata, "Ending-nya belum ada?" Riyadi menjawab, "Karena cerita kita juga belum selesai." Kalimat itu menjadi kunci dari seluruh pesan moral roman ini. Setelah kembali ke Jawa, komunikasi mereka tetap berjalan hangat. Riyadi menyelesaikan novelnya dengan judul final: *"Merpati Tak Pernah Ingkar Janji"*. Ia menuliskan bahwa persahabatan sejati bukan tentang seberapa sering bertemu, melainkan tentang hati yang tetap saling menjaga meski dipisahkan waktu, tempat, dan jarak. Novel ini kemudian dibaca banyak orang dan menjadi inspirasi tentang kesetiaan. Roman ini juga menjadi media untuk mengumpulkan kembali teman-teman lama karate. Aziz, Agus, Farida, dan lainnya mulai berkomunikasi lagi. Mereka tertawa mengingat kenakalan masa muda, dan bersyukur karena persahabatan itu tak pernah benar-benar mati. Ari Yanti dan Riyadi menjadi pusat dari kebangkitan kenangan kolektif itu. Pesan moral yang paling kuat dari roman ini adalah: sahabat sejati tidak akan pernah meninggalkanmu saat kamu gagal atau terpuruk. Justru di saat itulah mereka membuktikan kesetiaannya. Riyadi dan Ari Yanti membuktikan bahwa meski dipisahkan oleh puluhan tahun, doa dan kenangan yang tulus mampu menyatukan kembali hati yang pernah terpisah. Kisah mereka bukan tentang cinta yang memiliki, tetapi tentang cinta yang menjaga. Bukan tentang kepemilikan, tetapi tentang ketulusan. Mereka berdua kini telah tua, rambut memutih, wajah berkerut, namun senyum mereka saat saling memandang tetap sama seperti saat remaja dulu. Waktu tidak mampu menghapus jejak hati yang sejati. *Epilog*: Tahun akan terus berjalan, dunia akan berubah, dan generasi akan berganti. Namun kisah tentang Merpati yang tak pernah ingkar janji akan tetap hidup. Sebab pada akhirnya, sahabat sejati adalah seseorang yang tidak hanya menemani saat bahagia, tetapi juga menjadi sandaran kuat di masa-masa sulit. Dan itulah yang dialami oleh Riyadi dan Ari Yanti: sebuah persahabatan yang melampaui logika, waktu, dan takdir. Tamat.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 4
Sinopsis Roman Epik Matahariku Roman ini mengisahkan perjalanan epik Danang Tri Aji, seorang anak yang lahir di Desa Sumber Cahya di bawah pertanda alam yang istimewa. Dinubuatkan akan menjadi "cahaya bagi banyak orang," Danang tumbuh dalam lingkaran cinta keluarga, persahabatan, dan nilai-nilai luhur leluhur yang dijaga oleh juru kunci desa, Ki Jayengrana. Kehidupannya yang tenang mulai berubah ketika desa tercinta terancam oleh ambisi pembangunan yang mengancam kelestarian alam dan warisan leluhur, terutama tanah pertanian dan Sungai Kahyangan yang menjadi nadi kehidupan warga. Konflik ini mempertemukan Danang dengan Rengganis, seorang gadis bermata senja yang datang dari kota, dan menimbulkan perbedaan jalan dengan sahabat masa kecilnya, Wiratama, yang memilih untuk berpihak pada kepentingan pemodal. Perjuangan Danang menjadi semakin berat ketika ia kehilangan ayahnya, Arya Wicaksana, sebuah duka yang justru memaksanya memikul amanah besar untuk menjaga desa. Ia harus menghadapi berbagai ujian: pengkhianatan sahabat, fitnah dari masa lalu, intrik politik, dan ancaman perpecahan di antara warganya. Di tengah badai itu, cintanya dengan Rengganis justru semakin kokoh, menjadi kekuatan yang menopangnya. Dengan kebijaksanaan Ki Jayengrana dan dukungan Rengganis, Danang perlahan menyatukan kembali warga yang terpecah, memulihkan Sungai Kahyangan yang terluka, dan membuktikan diri sebagai pemimpin yang berbeda. Ia memenangkan pemilihan kepala desa dan memimpin program-program yang mengembalikan desa pada akar budayanya sekaligus membangun masa depan yang berkelanjutan. Persahabatan dengan Wiratama pun mendapatkan penutup ketika pengkhianatan lama terungkap dan pengampunan diberikan. Setelah melalui semua itu, Danang dan Rengganis menikah, dan desa mulai dikenal sebagai teladan. Di tahun-tahun tuanya, Danang menanamkan nilai-nilai perjuangan pada generasi penerus, memastikan bahwa cahaya yang ia bawa tidak akan pernah padam, dan desa yang ia cintai akan terus hidup. Kisah ini berakhir dengan damai, saat matahari yang menjadi simbol perjuangannya berpindah ke generasi baru dan desa Sumber Cahya terus melangkah maju dengan kebijaksanaan yang telah ia wariskan.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 8
Sinopsis Novel "CAMELIA" Sebuah Roman tentang Cinta di Balik Pengabdian Sinopsis Singkat CAMELIA mengisahkan perjalanan cinta Camelia Putri Rahmadani, mahasiswi Sastra Indonesia di Universitas Harapan, dan Irwansyah, seorang pemuda desa yang berdedikasi di Desa Suka Jaya, Kabupaten Kapuas. Pertemuan mereka diawali dengan pertengkaran sengit di sebuah tikungan jalan di Palangka Raya, dilanjutkan dengan tatapan penuh penasaran di Festival Budaya Kuala Kapuas, dan akhirnya dipertemukan kembali dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa tempat Irwan tinggal. Di balik program pengabdian masyarakat, tumbuh benih-benih cinta yang harus menghadapi berbagai rintangan: konflik dengan sahabat yang juga menyukai Irwan, isu sosial di masyarakat yang mempertanyakan profesionalisme mereka, serta peringatan dari Dosen Pembimbing Lapangan yang mengingatkan untuk menjaga jarak profesional. Namun cinta sejati tidak mudah padam. Di tengah program literasi yang dijalankan Camelia, di bawah pohon mangga di halaman perpustakaan, dan di tepi Sungai Kapuas yang tenang, mereka saling menemukan makna cinta, pengabdian, dan pengorbanan. Novel ini mengajak pembaca menyelami drama cinta yang tumbuh di tengah tanggung jawab, tentang bagaimana takdir mempertemukan dua hati yang saling mencari, dan bagaimana cinta sejati selalu menemukan jalannya—meskipun harus melewati jalan yang berliku.
Mulai Membaca