Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.
Total Koleksi
240 Buku
Total Pembaca
3735 Kali
Lokasi Layanan
Desa Sriwidadi
Menampilkan 240 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 12
SINOPSIS SINGKAT SURAT DARI MASA LALU Tetralogi Roman Epik Buku Pertama: Senja di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi Kisah dimulai dari kelahiran Yanti di malam gerhana di Desa Tegorejo, yang diramalkan akan menjalani kehidupan penuh cinta dan kehilangan. Sejak kecil, Yanti tumbuh sebagai gadis desa yang cerdas dan penuh mimpi. Di bangku SMP, ia jatuh cinta pada Mas Nur, kakak kelas yang kalem dan perhatian. Namun kehadiran Bambang—sahabat masa kecil yang diam-diam mencintainya—dan Riyadi—kakak angkat yang selalu melindunginya—membuat perjalanan cinta Yanti tak pernah sederhana. Di tengah gosip, fitnah, dan kecemburuan yang merusak persahabatan, Mas Nur memutuskan pergi merantau ke Jakarta tanpa pamit karena masalah ekonomi keluarga. Tak lama kemudian, Riyadi juga pergi ke Tangerang demi masa depan yang lebih baik. Yanti ditinggal sendirian dengan patah hati. Namun dari keterpurukan, ia bangkit dan bertekad melanjutkan sekolah ke STM Tekstil Pedan di Klaten—meninggalkan desa dan kenangan masa lalu untuk memulai hidup baru.
Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

✏️ Slamet Riyadi
👁️ 13
SINOPSIS LANGIT BIRU PULANG KE DESA Rantaka kembali ke Desa Wanasari sebagai guru setelah bertahun-tahun merantau, sementara Liris, Banyu, dan Jagra juga pulang dengan mimpi masing-masing—membangun perpustakaan, Rumah Inovasi, dan kelompok perikanan. Namun, kedatangan mereka disambut oleh ancaman besar: sebuah perusahaan luar negeri ingin membuka kawasan usaha yang mengancam sungai, kebun warga, kolam ikan, dan sekolah. Warga terpecah antara mereka yang berharap pada pekerjaan dan kompensasi, dan mereka yang khawatir kehilangan sumber kehidupan. Rantaka dan sahabat-sahabatnya mulai menggerakkan warga melalui Gerobak Buku Langit Biru, Kelas Membaca Masa Depan, dan Peta Warga untuk melawan ketidaktahuan dan tekanan dari perusahaan. Konflik memuncak ketika perusahaan mulai mendatangi warga satu per satu dengan tawaran beasiswa, bantuan pakan, dan pekerjaan sementara untuk memecah perlawanan. Liris mendapat kesempatan mengikuti residensi penulis di kota, sementara Rantaka, Banyu, dan Jagra terus memperkuat warga dengan pelatihan keterampilan dan data tentang sungai, kebun, serta kolam. Liris menulis artikel tentang perjuangan Wanasari yang menarik perhatian komunitas pendidikan dan lingkungan, membantu warga memahami dokumen-dokumen perusahaan. Di tengah perjuangan, Rantaka dan Liris akhirnya mengakui perasaan mereka, saling berjanji untuk membangun desa bersama. Perlawanan warga membuahkan hasil: perusahaan dipaksa menunda rencana dan menyusun kajian ulang, sementara warga berhasil membentuk Koperasi Perikanan, Rumah Inovasi, dan Gerobak Buku Langit Biru sebagai pilihan pembangunan dari dalam desa. Lima tahun kemudian, Wanasari telah berubah—bukan menjadi kota, tetapi menjadi desa yang warganya tidak lagi mudah dipermainkan. Rantaka dan Liris menikah di bawah pohon beringin, disaksikan oleh generasi baru yang belajar bahwa pendidikan bukan hanya jalan meninggalkan desa, tetapi cahaya untuk membangun desa. Langit Biru tetap menyala, karena mimpi anak desa tidak pernah terlalu tinggi selama ada yang berani menjaga, belajar, dan pulang untuk membawa perubahan. Pesan Moral: Desa yang kuat bukan desa yang menolak semua hal baru, tetapi desa yang mampu memilih dengan pengetahuan. Pendidikan, persahabatan, dan keberanian warga adalah cahaya yang membuat mimpi anak desa tidak pernah padam.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 13
SINOPSIS LANGIT BIRU DI BALIK KOTA Rantaka meninggalkan Desa Wanasari menuju Kota Arunika untuk melanjutkan SMA dengan beasiswa, sementara Liris, Banyu, dan Jagra tetap di desa menghadapi kesulitan pasca-banjir. Di kota, Rantaka berjuang bertahan—ia bekerja malam di warung makan karena uang beasiswa tidak cukup, nilai matematika dan fisikanya turun drastis, dan beasiswanya hampir dicabut. Ia juga salah menafsirkan surat Liris sehingga timbul kesalahpahaman, sementara di desa Gerobak Buku Langit Biru berhenti berjalan karena Jagra harus membantu keluarganya, Banyu sibuk di bengkel, dan Liris tertekan karena ayahnya meragukan mimpinya menjadi penulis. Puncaknya, Rantaka pingsan di belakang warung karena kelelahan dan baru tersadar bahwa ia tidak bisa berjuang sendirian. Surat dari Bu Laras mengingatkan mereka pada janji Langit Biru dan mendorong mereka saling memaafkan. Rantaka akhirnya menelepon Liris dari telepon umum dan mengaku semua kegagalannya—pekerjaan malam, nilai yang turun, dan ketakutannya kehilangan beasiswa. Liris juga mengaku bahwa ia sedang tertekan oleh keluarganya dan hampir meninggalkan mimpinya. Mereka berjanji saling menjaga dan tidak lagi menyembunyikan luka. Sementara itu, Banyu berhasil membuat alat pengatur air yang membantu kebun warga dan kolam Jagra, Liris menerima beasiswa pelatihan menulis, dan Jagra membentuk Kelompok Perikanan Remaja Wanasari. Rantaka pulang ke desa membawa sumbangan buku dari teman-temannya di kota. Mereka mengadakan Pentas Langit Biru di balai desa yang mempertemukan dua dunia—kota dan desa—dalam semangat kebersamaan. Rantaka lolos tahap awal seleksi beasiswa kuliah keguruan, Liris menerbitkan kumpulan puisi pertamanya, Banyu terus mengembangkan alat pertanian, dan Jagra memimpin kelompok perikanan yang semakin berkembang. Di bawah pohon beringin, mereka berempat berjanji untuk terus membawa cahaya pulang ke desa. Novel ini mengajarkan bahwa merantau bukan berarti melupakan asal-usul—kota memberimu pengalaman, tetapi desa memberimu akar. Persahabatan sejati tetap bertahan meski terpisah jarak, dan mimpi anak desa tidak pernah padam, hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menyala. Pesan Moral: Perantauan mengajarkan bertahan, tetapi pulang mengajarkan arti perjuangan. Langit Biru bukan nama gerobak—ia adalah cahaya yang selalu kembali ke desa.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 17
SINOPSIS LANGIT BIRU DI UJUNG REMAJA Empat sahabat dari Desa Wanasari—Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra—kini memasuki masa remaja dan melanjutkan pendidikan ke SMP di Kecamatan Rawa Jaya. Mereka menghadapi dunia baru yang keras: ejekan sebagai "anak desa", kesulitan biaya sekolah, dan persahabatan yang mulai retak. Rantaka tinggal di rumah singgah belakang pasar dan bekerja di warung untuk membayar iuran sekolah. Liris bercita-cita menjadi penulis tetapi puisinya dicuri oleh Nayla untuk lomba. Banyu salah menuduh Jagra mencuri sepedanya, sementara banjir besar menghancurkan kolam ikan keluarga Jagra dan membuatnya hampir putus sekolah. Puncak konflik terjadi di jembatan sungai ketika Jagra meninggalkan kelompok Langit Biru, menyatakan bahwa jalannya ada di sungai, bukan di sekolah. Surat dari Bu Laras mengingatkan mereka pada janji masa kecil dan Gerobak Buku yang terbengkalai. Rantaka, Liris, dan Banyu mulai memperbaiki persahabatan dengan membersihkan gerobak, mencari bukti puisi Liris yang dicuri, menemukan kembali sepeda Banyu (ternyata dicuri pemuda lain), dan membantu memperbaiki kolam Jagra melalui gotong royong warga. Mereka mengadakan Pentas Langit Biru Kedua di balai desa, di mana Liris membacakan puisi aslinya, Banyu memamerkan alat penyaring air, Rantaka berpidato tentang pendidikan, dan Jagra akhirnya menceritakan perjuangan keluarganya di depan warga. Setelah pentas, Jagra memutuskan kembali sekolah setelah sekolah memberikan keringanan biaya dan program belajar tambahan. Rantaka mendapat beasiswa, Liris mendapat undangan pelatihan menulis, dan Banyu mengikuti lomba inovasi. Di bawah pohon beringin tua, mereka menyadari bahwa jalan hidup akan membawa mereka ke arah berbeda, tetapi mereka berjanji untuk saling mengingatkan. Rantaka mengirim surat dari kecamatan untuk Liris, menegaskan bahwa Langit Biru adalah janji untuk tetap bersama meski terpisah jarak—sebab persahabatan sejati adalah menemukan jalan pulang ketika hati tersesat. Pesan Moral: Mimpi anak desa tidak pernah terlalu tinggi. Persahabatan sejati diuji saat sulit, dan pendidikan adalah cahaya yang mampu menuntun masa depan, meski harus diperjuangkan dari jalan tanah, sungai yang meluap, dan gerobak buku tua.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 14
SINOPSIS SINGKAT TETRALOGI LANGIT BIRU ANAK DESA Buku 1: Langit Biru Anak Desa Kisah dimulai dari kehidupan Rantaka Wening, seorang anak laki-laki dari Desa Wanasari yang bercita-cita menjadi guru. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya—ayahnya bekerja serabutan di ladang dan ibunya berjualan kue—Rantaka tetap bersemangat menempuh pendidikan di SD Wanasari yang sudah tua dan kekurangan fasilitas. Bersama tiga sahabatnya—Liris yang bercita-cita menjadi penulis, Banyu yang gemar membuat alat dari barang bekas, dan Jagra yang ingin membangun usaha perikanan—mereka membentuk kelompok belajar bernama "Langit Biru". Mereka menemukan buku-buku lama di gudang sekolah, membersihkannya, dan mulai membaca bersama. Namun, sebuah surat dari kecamatan mengancam penutupan SD Wanasari karena bangunan yang rusak dan jumlah murid yang sedikit. Orang tua mulai pesimis. Anak-anak yang putus asa, bersama Bu Laras (guru mereka), memutuskan untuk tidak menyerah. Mereka membersihkan sekolah, mengadakan pentas seni desa, dan membangun Gerobak Buku untuk mengajak anak-anak desa membaca dan belajar. Liris membaca puisi yang menggerakkan hati warga dalam pertemuan desa. Banyu memperbaiki pagar dan membuat tempat sampah dari barang bekas. Jagra mengajak pemuda desa membantu memperbaiki saluran air. Rantaka menjadi penggerak utama yang meyakinkan orang tua bahwa pendidikan adalah kunci masa depan anak-anak mereka. Puncaknya adalah Pentas Harapan Wanasari, di mana anak-anak menunjukkan karya dan mimpi mereka di hadapan warga. Setelah perjuangan panjang, tim penilai dari kecamatan datang. Rantaka menyampaikan pidato yang menyentuh hati, dan akhirnya SD Wanasari tidak ditutup.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 14
Sinopsis Trilogi ini mengisahkan perjalanan hidup Yanti (Sinox), seorang perempuan yang lahir di malam gerhana di Desa Tegorejo, Kendal, dengan tiga fase kehidupan yang membentuknya menjadi pribadi yang kuat. Buku Pertama: Senja di Desa Tegorejo Yanti kecil tumbuh sebagai gadis desa yang ceria dan pintar. Di bangku SMP, ia merasakan cinta pertama bersama Mas Nur, kakak kelas yang kalem, sementara persahabatannya dengan Bambang dan Riyadi mewarnai masa remajanya. Namun kehilangan mendera ketika Mas Nur pergi merantau ke Jakarta tanpa pamit, disusul Riyadi yang juga pergi ke Tangerang. Ditinggal dua orang terpenting, Yanti hancur, tetapi memilih untuk bangkit dengan melanjutkan sekolah ke STM Tekstil Pedan, Klaten. Buku Kedua: Rindu di Bangku STM Di lingkungan baru yang didominasi siswa laki-laki, Yanti menjadi pusat perhatian. Ia bertemu dengan Toro, kakak kelas yang posesif dan obsesif, serta Riyadi yang diam-diam menjaganya. Persahabatan dengan Dwi, Tina, dan Siti menghangatkan hari-harinya. Namun cinta kembali bertepuk sebelah tangan ketika Teguh, lelaki sederhana dari Comal yang mencintainya tulus, meninggal dunia dengan namanya di bibir. Yanti belajar bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, dan terkadang kehilangan adalah guru terbaik. Buku Ketiga: Untaian Rindu dari Surga Tiga puluh tahun kemudian, Yanti yang kini bernama Sinox—istri Mas Sarif, ibu tiga anak, guru di Mts Gringsing—diguncang oleh panggilan telepon dari Akang Riyadi. Pertemuan virtual ini membuka kembali luka lama dan rindu yang terpendam selama tiga dekade. Dua rumah tangga hampir hancur, fitnah menyebar, dan video call mereka menjadi viral. Namun dari puing-puing kehancuran, mereka belajar bahwa cinta sejati tidak selalu berarti memiliki. Kadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus—mengubah rindu yang menjadi dosa menjadi untaian doa yang suci.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 15
Sinopsis Singkat Tetralogi Langit Biru Tetralogi "Langit Biru" adalah sebuah roman epik yang mengisahkan perjalanan hidup empat sahabat—Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra—dari masa kanak-kanak hingga dewasa di Desa Wanasari. Karya ini mengeksplorasi tema persahabatan, pendidikan, perjuangan ekonomi, cinta, dan mimpi yang terus bertumbuh di tengah keterbatasan. Berawal dari sebuah kelompok belajar bernama Langit Biru, keempat sahabat ini berjuang mempertahankan Sekolah Dasar Wanasari yang terancam tutup dengan mendirikan Gerobak Buku keliling. Namun, ketika menginjak remaja, jalan hidup mereka mulai terpisah: Rantaka melanjutkan pendidikan ke kota dengan beasiswa, sementara Liris, Banyu, dan Jagra bertahan di desa dengan tanggung jawab masing-masing—menulis, bengkel, dan perikanan. Di buku ketiga dan keempat, persahabatan mereka kembali diuji ketika perusahaan luar negeri mengancam lahan, sungai, dan mata pencaharian Desa Wanasari. Melalui perjuangan bersama, mereka membangkitkan Gerobak Buku dan Rumah Inovasi, mengajak warga membaca dan memahami dokumen, hingga akhirnya berhasil memaksa perusahaan melakukan negosiasi yang adil. Pada akhir cerita, Rantaka dan Liris yang saling mencintai memutuskan untuk membangun masa depan bersama di desa, sementara Banyu dan Jagra mengembangkan keterampilan mereka untuk kemajuan Wanasari. Tetralogi ini diakhiri dengan surat Rantaka dari kecamatan, menegaskan bahwa Langit Biru—nama persahabatan mereka—akan tetap menjadi cahaya yang menuntun mereka pulang, di mana pun mereka berada.
Mulai Membaca
✏️ Slamet Riyadi
👁️ 14
SINPOSIS ROMAN EPIK "PENJAGA" Roman ini mengisahkan perjalanan epik seorang anak yang lahir di malam gerhana, bernama Sultan Hasan, yang ditakdirkan menjadi "Penjaga Hati." Terasing dan dikucilkan oleh masyarakat desanya, ia mewarisi sebuah pusaka batu akik merah dan syair kuno yang menjadi fondasi bagi misi hidupnya. Di tengah penganiayaan, kehilangan orang tua, dan pengkhianatan, Sultan Hasan berguru pada para tetua sakti yang mengajarkan ilmu silat, kebijaksanaan, dan seni menjaga hati. Cintanya pada Pandan Wangi, penunggu telaga sakti, menjadi ujian terbesar baginya. Mereka harus berjuang melawan takdir yang kejam, termasuk perpisahan, pernikahan paksa, dan pembuangan ke pulau penjara. Selama bertahun-tahun terpisah, Sultan Hasan menulis syair-seribu baris sebagai bentuk kesetiaan, sementara Pandan Wangi setia menunggu di telaga. Setelah badai berlalu, mereka akhirnya bersatu dan menikah dengan sederhana di tepi telaga. Mereka dikaruniai seorang anak, Pandu Hati, yang awalnya menolak tradisi dan merantau, dan kemudian seorang cucu perempuan, Zahra, yang memiliki tanda penjaga. Konflik ayah dan anak, cemburu, serta ancaman perpecahan keluarga menjadi ujian berikutnya. Puncak kisah menceritakan kematian Pandan Wangi yang menyayat hati, diikuti oleh pengasingan Sultan Hasan di dalam gua, dan akhirnya ia wafat dengan tenang, mewariskan tugas suci kepada Zahra. Roman ini ditutup tiga puluh tahun kemudian, ketika Zahra—kini seorang nenek—mengajarkan syair pertama kepada cicitnya, Sultan Hasan Kecil, yang lahir dengan tanda yang sama. Lingkaran waktu pun tertutup, menandakan bahwa tradisi menjaga hati akan terus berlanjut dari generasi ke generasi.
Mulai Membaca