🏛️
PerpusDig Sriwidadi
Desa Sriwidadi
PROKER KKN '26
📦Rak Offline
Sistem Perpustakaan Aktif

Jendela Pengetahuan Desa

Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.

🔍
📑
✨
📚

Total Koleksi

213 Buku

👁️

Total Pembaca

1179 Kali

🏛️

Lokasi Layanan

Desa Sriwidadi

📚 Koleksi Terbaru

Menampilkan 213 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

NOVELET ANDAI KU TAHU
Buka Detail ↗

NOVELET ANDAI KU TAHU

Fiksi & Sastra

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

SINOPSIS SINGKAT NOVELET ANDAI KU TAHU Oleh: Slamet Riyadi Raka Pratama adalah pemuda polos berusia 23 tahun yang hidup di Desa Sido Mukti. Sejak kecil, ia tumbuh sebagai anak yang cerdas matematika tetapi canggung dalam pergaulan sosial. Setelah lulus, Raka bekerja sebagai staf Administrasi Pemerintahan di Kantor Desa—dan di sinilah segala kesalahpahamannya dimulai. Raka selalu membaca segala sesuatu secara harfiah. Ketika atasannya berkata "segera", ia pikir itu berarti "besok". Ketika harus membuat notulen rapat, ia mencatat semua kejadian—termasuk batuk dan ajakan ngopi. Ketika harus menjelaskan data kemiskinan, ia dengan polosnya mengatakan "hampir miskin" kepada warga yang jelas-jelas miskin. Semua ini membuatnya menjadi bahan ejekan, bahan gosip di warung-warung desa. Di tengah semua kesalahpahaman itu, ada Larasati—guru PAUD yang mulai memperhatikannya. Namun Raka bahkan gagal memahami isyarat cinta: ia tidak tahu kapan harus mengantar, kapan harus mendekat, kapan harus berkata-kata lembut. Semua ia hadapi dengan buku catatan kecil berisi "aturan-aturan sosial" yang ia susun sendiri. Puncaknya terjadi ketika Raka melakukan kesalahan fatal dalam musyawarah desa—menyampaikan informasi yang salah karena menggunakan draft lama. Ia dihujat di depan forum. Nama kantor desa jadi tercemar. Dan untuk pertama kalinya, Raka yang selama ini pendiam dan penurut, meledak. "Iya, saya memang tidak tahu! Saya memang sering salah! Tapi bukan berarti saya tidak mau belajar!" Ledakan itu adalah titik balik. Sejak hari itu, Raka tidak lagi hanya mencatat aturan—ia mulai benar-benar belajar menjadi manusia. Ia membaca buku komunikasi, menonton video psikologi, belajar mendengar dan merasa, bukan sekadar mengerti. Perlahan, ia berubah: dari pemuda kaku menjadi pribadi yang lebih hangat, dari bahan ejekan menjadi staf yang diandalkan. Ketika musyawarah desa besar tiba, Raka dipercaya untuk menyampaikan laporan administrasi. Ia melakukannya dengan tenang, jelas, dan mantap. Kali ini, tidak ada kesalahan. Tepuk tangan terdengar tulus. Pak Darto yang dulu marah, kini mengangguk hormat. Bu RT yang dulu bergosip, kini tersenyum malu. Di tengah transformasinya, Raka menemukan cinta pada Laras—dengan cara yang sederhana, jujur, dan tanpa buku catatan. Kini, di kantor desa, ada staf baru bernama Deni yang sama canggungnya dengan Raka dulu. Dan Raka-lah yang kini menjadi pembimbingnya. Ia mengajarkan satu hal: tidak tahu itu bukan aib. Aib adalah jika kita tidak mau belajar.

"

Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

🎓 Proker KKN 2026

Sistem Informasi Perpustakaan Digital, dedikasi mahasiswa untuk memajukan literasi warga Desa Sriwidadi.

Dibuat dengan ❤️ di tahun 2026© Perpustakaan Digital Desa Sriwidadi. All Rights Reserved.
Mulai Membaca
DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 10 SELAMANYA MENJAGA
Buka Detail ↗

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 10 SELAMANYA MENJAGA

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 6

SINOPIS SINGKAT DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari EPISODE 10: SELAMANYA PENJAGA (EPISODE FINAL EDISI IV) Oleh: Slamet Riyadi Di puncak Bukit Manoreh, di bawah pohon beringin tua yang menjadi saksi bisu empat generasi, Raka yang sudah tua duduk bersama Kiara yang juga telah sangat tua. Malam purnama menyinari mereka berdua—dua sahabat yang telah melalui kebakaran, banjir, racun, pencemaran, dan segala ujian selama puluhan tahun. Kiara pamit, bergabung dengan Kai, Kai Muda, dan Kiano di padang rumput yang luas. Raka, Wati, dan Bejo menguburkan Kiara di titik Beringin, di samping makam leluhurnya. Tahun-tahun berlalu. Kirana menjadi pemimpin baru yang bijaksana, Melati mengajar generasi baru di Klub Sahabat Alam. Suatu senja di titik Beringin, Raka, Wati, dan Bejo duduk bersama untuk terakhir kalinya—tiga sahabat yang telah berjuang sejak kecil, kini telah sampai di ujung perjalanan. Mereka pergi satu per satu, menyusul Kai, Kai Muda, Kiano, dan Kiara. Makam mereka berjajar di bawah pohon beringin: empat kancil dan tiga manusia, bersahabat selamanya. Di batu besar di kaki Bukit Manoreh, terukir nama-nama mereka dengan pesan terakhir Raka: "Jagalah hutan ini, jagalah sungai ini, jagalah kancil-kancil ini, jagalah persahabatan ini. Karena di sinilah kami berada, di sinilah kami abadi. Selamanya." Bukan akhir, melainkan awal dari warisan abadi. Kisah Detektif Cilik, Remaja, dan Dewasa Bojong Sari telah sampai pada penghujung yang indah—persahabatan yang melampaui waktu, kematian, dan generasi. Selamanya di kaki Bukit Manoreh. Genre: Cerita Dewasa Muda / Drama / Konservasi / Persahabatan / Kehidupan & Kematian Target Pembaca: Semua usia (dewasa muda hingga dewasa) Pesan: Persahabatan sejati melampaui waktu dan kematian; warisan terbaik adalah cinta pada alam dan sesama; setiap generasi harus meneruskan perjuangan; kematian bukan akhir, melainkan awal dari kenangan abadi; dan di kaki Bukit Manoreh, persahabatan tidak pernah berakhir—ia terus hidup, terus tumbuh, terus menginspirasi. Selamanya.

Mulai Membaca
DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 9 MELAWAN PENCEMARAN
Buka Detail ↗

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 9 MELAWAN PENCEMARAN

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

SINOPIS SINGKAT DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari EPISODE 9: MELAWAN PENCEMARAN Oleh: Slamet Riyadi Dani dari Cibitung berlari ke Bojong Sari membawa kabar buruk—sungai di desanya mati, air berubah warna dan bau, ribuan ikan mengapung. Raka, Wati, dan Bejo segera ke Cibitung dan menyaksikan pemandangan mengerikan: sungai keruh kekuningan, busa menumpuk, warga sakit, sawah mati. Limbah industri dari pabrik tekstil PT Cibitung Makmur Jaya dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan selama setahun penuh. Mereka mengambil sampel air, merekam kesaksian warga, dan mendokumentasikan pipa pembuangan. Saat berhadapan dengan manajer pabrik yang sinis dan merasa kebal hukum, Raka tidak gentar: "Kami akan buktikan bahwa kalian telah melakukan kejahatan lingkungan." Mereka melapor ke Ipda Andika yang segera memimpin penggerebekan—pabrik disegel, manajer ditahan, pipa pembuangan ditutup. Warga Cibitung bersorak. Bulan-bulan berikutnya, sungai mulai pulih—ikan kembali, rumput hijau, warga bisa minum air lagi tanpa takut. Kiara dan Kirana datang berkunjung, Kirana berlarian di tepi sungai yang sudah jernih. Pak Rasmin membentuk tim pemantau lingkungan untuk mencegah pencemaran serupa. Di titik Beringin, Raka, Wati, Bejo, Kiara, dan Kirana duduk di makam Kiano—berjanji akan terus menjaga hutan dan sungai, melawan siapa pun yang mencoba merusak alam. Pabrik ditutup, sungai pulih, warga tersenyum. Namun perjalanan penjaga hutan belum berakhir—episode final akan mengikat semua kisah menjadi satu dalam janji abadi... Genre: Cerita Dewasa Muda / Drama / Konservasi / Aktivisme Lingkungan / Keadilan Sosial Target Pembaca: Dewasa muda dan dewasa (17-30+ tahun) Pesan: Pencemaran tidak mengenal batas, keadilan butuh perjuangan dan keberanian, uang dan kekuasaan tidak bisa membeli kebenaran, alam akan pulih jika dijaga dengan cinta, dan persatuan rakyat adalah kekuatan terbesar melawan ketidakadilan.

Mulai Membaca
DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 8 MISTERI HEWAN MATI
Buka Detail ↗

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 8 MISTERI HEWAN MATI

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPIS SINGKAT DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari EPISODE 8: MISTERI HEWAN MATI Oleh: Slamet Riyadi Pagi yang mencekam, empat bangkai hewan ditemukan dalam seminggu—kancil, babi hutan, dan kijang—semua mati dengan ciri yang sama: kaku, berbusa, tanpa luka. Wati memeriksa dan menyimpulkan ini adalah racun saraf yang mematikan. Pak Rasmin mengingat melihat dua orang asing berjalan menuju Tebing Merah beberapa hari sebelum kejadian. Tim Detektif Dewasa menyusuri jejak ke Tebing Merah dan menemukan botol-botol racun di tepi sungai—racun tidak berbau, tidak berwarna, larut dalam air. Mereka melapor ke polisi dan memasang posko di setiap titik air, kamera jebak di titik-titik rawan. Malam ketiga, kamera menangkap dua bayangan menuangkan racun. Kiara dengan berani menghadang mereka—bahkan ketika salah satu pemburu mengacungkan pisau, Kiara tidak mundur. Polisi menyergap dan menangkap kedua pelaku. Ternyata mereka adalah mantan anak buah Bos Gito—dalang jaringan pemburu liar yang dulu pernah ditangkap Tim Penyelidik Cilik. Bos Gito masih bisa memberi perintah dari dalam penjara: "Hancurkan hutan itu. Hancurkan kancil-kancil itu." Polisi memperpanjang hukuman Bos Gito dan membongkar jaringannya. Racun dibersihkan, sungai pulih, hutan kembali aman. Kiara mendapat penghormatan baru atas keberaniannya. Melati dan Klub Sahabat Alam belajar tentang racun dan cara melindungi diri. Di bawah pohon beringin, Raka, Wati, Bejo, Kiara, dan Kirana berjanji: mereka akan terus menjaga hutan ini selamanya—dari siapa pun yang mencoba merusaknya. Racun telah dibersihkan, pelaku ditangkap. Namun ancaman baru datang—pencemaran dari pabrik di desa tetangga mulai meracuni sungai-sungai Manoreh! Genre: Cerita Dewasa Muda / Drama / Konservasi / Misteri / Aksi Target Pembaca: Dewasa muda dan dewasa (17-30+ tahun) Pesan: Kejahatan tidak pernah tidur, kewaspadaan adalah kunci; persahabatan dan keberanian bisa mengalahkan kebencian dan dendam; alam akan pulih jika dijaga dengan cinta; setiap generasi harus belajar dari ancaman yang pernah terjadi; dan keadilan akan selalu menang atas kejahatan.

Mulai Membaca
DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 7 KIARA DEWASA
Buka Detail ↗

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 7 KIARA DEWASA

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

SINOPIS SINGKAT DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari EPISODE 7: KIARA DEWASA Oleh: Slamet Riyadi Dua tahun setelah kepergian Kiano, desa Bojong Sari bersiap meresmikan Kiara sebagai Penjaga Hutan. Warga bergotong royong—Pak Rasmin mengatur panggung, Bu Kasinem membagikan jamu, Topan memasang tenda, Dani membantu di dapur, Melati membawa buku hadiah buatannya sendiri. Kiara yang gugup ditemani Wati di klinik, lalu berjalan menuju balai desa bersama Raka, Wati, dan Bejo. Seluruh warga menyambut dengan tepuk tangan haru. Pak Rasmin berlutut, meminta maaf atas masa lalunya yang pernah memusuhi kancil. Bu Kasinem memberi jamu, Topan memberi bambu ukiran, Melati memberi buku "Kai, Kiano, Kiara: Kisah Persahabatan antara Manusia dan Alam". Kiara memberi penghormatan tertinggi—tiga kali menunduk. Ia tak bisa bicara, tapi bahasa tubuhnya menyampaikan janji: akan menjaga hutan selamanya. Makan bersama menyatukan semua. Pak Jarwo yang sudah sangat tua hadir dan berpesan—ia pergi beberapa minggu kemudian, dimakamkan dengan penghormatan penuh. Kiara membawa Kirana ke puncak Bukit Manoreh, menurunkan warisan leluhur. Generasi baru mulai belajar jejak di Klub Sahabat Alam pimpinan Melati. Kiara kini dewasa, Kirana mulai berlari—warisan Kai, Kai Muda, dan Kiano hidup dalam diri mereka. Kiara dewasa dan diakui. Kirana mulai tumbuh. Pak Jarwo telah pergi. Namun misteri baru mulai mengintai—hewan-hewan mati misterius di hutan Manoreh! Genre: Cerita Dewasa Muda / Drama / Konservasi / Persahabatan / Kepemimpinan Target Pembaca: Dewasa muda dan dewasa (17-30+ tahun) Pesan: Pengakuan adalah bentuk penghormatan tertinggi; perubahan manusia dimulai dari hati; warisan kepemimpinan diwariskan dari generasi ke generasi; persahabatan lintas spesies adalah bukti cinta sejati; dan kematian bukan akhir, melainkan awal dari warisan yang abadi.

Mulai Membaca
DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 6 PERJUANGAN TERAKHIR KIANO
Buka Detail ↗

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 6 PERJUANGAN TERAKHIR KIANO

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

SINOPIS SINGKAT DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari EPISODE 6: PERJUANGAN TERAKHIR KIANO Oleh: Slamet Riyadi Pagi itu, firasat berat menyelimuti Raka. Kiano tidak muncul seperti biasa. Kiara yang ditemui di Lembah Harapan hanya diam dan menangis—ia tahu di mana ayahnya, tapi Kiano ingin pergi dengan tenang, tanpa keramaian. Kiara membawa Raka ke puncak Bukit Manoreh, tempat suci yang hanya diketahui para pemimpin kancil sejak zaman Kai. Di bawah pohon beringin tua, Kiano terbaring lemah, menunggu saat terakhirnya. Raka memanggil Wati dan Bejo. Mereka bertiga berlutut di samping Kiano, menangis. Kiano bercerita tentang masa kecilnya, tentang Kai Muda yang selalu membawanya ke puncak bukit ini setiap bulan purnama, tentang janji bahwa suatu hari ia akan bertemu dengan Raka, Wati, dan Bejo—sahabat yang dinantikan selama sepuluh tahun. "Aku menunggu kalian pulang. Dan kalian datang. Aku bisa pergi dengan tenang," katanya. Satu per satu mereka berpamitan. Wati mengenang Kiano kecil yang jatuh bangun belajar menjadi pemimpin. Bejo mengenang nasi goreng pertamanya yang membuat Kiano muntah, tapi tetap dijilat tangannya dengan penuh kasih. Kiara mendekap ayahnya untuk terakhir kalinya. Kiano memejamkan mata, napasnya berhenti—ia melihat Kai dan Kai Muda tersenyum memanggilnya dari padang rumput yang luas. Kiano dikubur di titik Beringin, di samping Kai dan Kai Muda. Seluruh warga Bojong Sari datang memberi penghormatan. Kiara berdiri tegak di makam ayahnya, lalu berlari ke Lembah Harapan memimpin kawanannya. Di bawah pohon beringin, Raka, Wati, Bejo, dan Kiara berjanji: mereka akan terus menjaga hutan ini selamanya—sampai mereka bertemu lagi di padang rumput yang luas, di mana Kai, Kai Muda, dan Kiano sudah menunggu dengan senyum. Kiano telah pergi, bergabung dengan leluhurnya. Kiara kini pemimpin sejati. Tapi perjalanan masih panjang—generasi baru harus belajar dari generasi lama... Genre: Cerita Dewasa Muda / Drama / Konservasi / Persahabatan / Kehilangan Target Pembaca: Dewasa muda dan dewasa (17-30+ tahun) Pesan: Kematian adalah bagian dari siklus kehidupan; persahabatan sejati melampaui kematian; kepemimpinan diwariskan dari generasi ke generasi; kesedihan adalah bentuk cinta yang tak terucap; dan mereka yang pergi akan selalu hidup dalam kenangan dan perjuangan yang ditinggalkan.

Mulai Membaca
DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 5 KEBAKARAN HUTAN KEMBALI
Buka Detail ↗

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 5 KEBAKARAN HUTAN KEMBALI

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 4

SINOPIS SINGKAT DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari EPISODE 5: KEBAKARAN HUTAN KEMBALI Oleh: Slamet Riyadi Musim kemarau terpanjang dalam sepuluh tahun melanda Bojong Sari. Langit berwarna jingga kusam karena asap kebakaran dari gunung sebelah. Bak-bak air menyusut, sungai mengering, tanah retak-retak. Tebing Merah—yang dulu basah dan beruap—kini menjadi zona mati total. Laporan dari titik Sungai dan titik Batu semakin mengkhawatirkan. Titik api pertama muncul di dekat Tebing Merah. Raka, Wati, Bejo, dan warga bergotong royong membuat sekat bakar—menebang pohon, membuka jalur kosong agar api tidak menyebar. Kiara dan kawanan kancil datang membantu dengan cara unik: berguling-guling di air lalu berguling di dekat api, membasahi rumput kering. Api berhasil dipadamkan. Namun titik api kedua muncul lebih dekat ke desa. Kali ini api lebih besar, angin lebih kencang, air lebih sedikit. Warga dievakuasi ke balai desa. Saat kepanasan memuncak dan nyaris menyerah, hujan deras turun—menyelamatkan hutan dan desa. Hujan berlangsung tiga hari, menghidupkan kembali tanah yang haus, serai wangi yang layu, dan sungai-sungai yang kering. Syukuran digelar di balai desa. Kiara diundang dan datang—warga menyambutnya dengan haru. Ia memberi penghormatan tertinggi. Di bawah pohon beringin, Raka, Wati, Bejo, Kiara, dan Pak Jarwo berjanji: akan terus menjaga hutan sampai kapan pun, sampai anak cucu mereka bisa melihat kancil berlarian di hutan yang hijau. Api telah padam, hujan telah turun. Namun perjuangan terbesar masih menanti—Kiano dalam perjalanan terakhirnya... Genre: Cerita Dewasa Muda / Petualangan / Bencana Alam / Konservasi / Persahabatan Target Pembaca: Dewasa muda dan dewasa (17-30+ tahun) Pesan: Alam bisa menjadi sahabat sekaligus musuh; kebersamaan adalah kekuatan terbesar dalam menghadapi bencana; kancil dan manusia bisa saling membantu; hutan yang sehat mengundang hujan; dan perjuangan konservasi adalah perjuangan seumur hidup.

Mulai Membaca
DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 4 KONFLIK DENGAN WARGA
Buka Detail ↗

DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI EPISODE 4 KONFLIK DENGAN WARGA

Buku Anak

✏️ Slamet Riyadi

👁️ 5

SINOPIS SINGKAT DETEKTIF DEWASA BOJONG SARI Serial Lanjutan dari Detektif Remaja Bojong Sari Edisi IV: Penjaga Hutan Bojong Sari EPISODE 4: KONFLIK DENGAN WARGA Oleh: Slamet Riyadi Konflik memuncak ketika Pak Rasmin memimpin puluhan warga protes ke balai desa. Mereka merasa dirugikan oleh aturan konservasi yang terlalu ketat—sawah diganggu kancil, kayu bakar dan rumput terbatas, tanaman obat berkurang, akses bambu untuk tanggul dilarang. Bu Kasinem menangis karena penghasilan jamunya turun drastis, anaknya tidak bisa kuliah. "Kalian sibuk dengan kancil, lupa sama warga," katanya menusuk. Raka, Wati, dan Bejo menyadari kesalahan mereka: selama ini mereka terlalu fokus pada program, lupa melibatkan warga. Mereka mendatangi rumah warga satu per satu—duduk di teras, minum kopi, mendengar keluhan dengan hati. Usulan demi usulan lahir: pagar hijau dari serai wangi untuk mengusir kancil, kebun tanaman obat di zona pemanfaatan, aturan pengambilan bambu dengan kewajiban menanam bibit baru, dan pembentukan Forum Konservasi Desa yang anggotanya warga, bukan tim konservasi. Forum terbentuk dengan Pak Rasmin sebagai ketua, Bu Kasinem sekretaris. Kerja bakti memasang pagar hijau menyatukan warga. Kiara datang ke balai desa untuk pertama kalinya—menunduk di hadapan Pak Rasmin, menjilati tangannya yang keriput. Pak Rasmin menangis dan minta maaf. Di titik Beringin, Kiara berlari kembali ke hutan, diikuti kawanannya. Konflik berakhir bukan dengan kemenangan salah satu pihak, tapi dengan kemenangan kebersamaan. Konflik berubah menjadi dialog, warga menjadi penjaga hutan. Namun ancaman baru datang—kebakaran hutan kembali mengancam Manoreh! Genre: Cerita Dewasa Muda / Drama Sosial / Konservasi / Konflik / Persahabatan Target Pembaca: Dewasa muda dan dewasa (17-30+ tahun) Pesan: Konservasi tanpa melibatkan warga akan gagal; mendengar keluhan adalah awal solusi; konflik bisa menjadi pintu menuju kebersamaan; warga yang merasa memiliki akan menjaga; perubahan harus datang dari bawah, bukan dipaksakan dari atas.

Mulai Membaca
← SebelumnyaHalaman 22 dari 27Berikutnya →