Eksplorasi ribuan karya dan bangun masa depan melalui keajaiban membaca di Desa Sriwidadi.
Total Koleksi
213 Buku
Total Pembaca
1026 Kali
Lokasi Layanan
Desa Sriwidadi
Menampilkan 213 buku ditemukan berdasarkan pencarian Anda.

✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 12
SINOPSIS SINGKAT Antologi syair ini mengisahkan perjalanan cinta dua insan yang dimulai dari pertemuan sederhana di sebuah senja, tumbuh menjadi rasa mendalam, lalu diuji oleh jarak, kesibukan, masa lalu, dan keraguan. Dalam empat puluh syair, pembaca diajak menyusuri setiap fase hubungan—dari jatuh cinta, berbagi mimpi, saling menyakiti, meminta maaf, hingga akhirnya belajar dewasa dalam mencintai. Ketika jarak memisahkan kota, komunikasi mulai kehilangan hangat, dan rindu berubah menjadi kelelahan, mereka hampir menyerah. Namun sebuah pertemuan kembali mempertemukan dua hati yang saling merindukan, dan mereka memutuskan untuk membangun kembali hubungan dengan cara yang lebih dewasa dan jujur. Di ujung perjalanan, setelah melewati berbagai ujian—rahasia masa lalu, ketidakpercayaan, hingga pertentangan keluarga—mereka akhirnya mendapatkan restu dan membuat janji suci. Pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang tidak pernah pergi, melainkan tentang dua hati yang pernah hampir kehilangan arah namun tetap belajar menemukan jalan pulang kepada cinta yang sama. Kisah ini mengajarkan bahwa cinta sejati bukanlah cinta yang tidak pernah diuji, melainkan cinta yang setelah diuji berkali-kali masih mampu berkata, "Aku memilihmu."
Membaca adalah tiket gratis untuk keliling dunia tanpa harus melangkah keluar dari desa.

✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 16
Sinopsis Singkat "Di Antara Rindu dan Kehilangan" Kumpulan puisi ini lahir dari ruang-ruang sunyi di mana rindu tinggal terlalu lama dan kehilangan menjadi guru yang paling gigih. Di Antara Rindu dan Kehilangan mengajak pembaca menyelami pergulatan batin yang tak terucapkan: kerinduan yang tak kunjung padam, cinta yang bertahan meski jarak membentang, serta proses menyakitkan untuk belajar melepaskan seseorang yang masih sangat berarti. Dengan bahasa yang sederhana namun menyentuh, setiap puisi menjadi pengingat bahwa mencintai tidak selalu berarti memiliki. Dari sepuluh puisi yang mengalir seperti percakapan malam dengan diri sendiri, terangkai tema tentang rindu yang pulang setiap malam meski telah berusaha dilupakan, cinta sederhana yang cukup dengan diam yang setia, dan janji yang dititipkan bukan untuk selamanya tetapi untuk dirawat selama waktu masih mengizinkan. Ada juga pengakuan paling jujur tentang kehilangan yang paling menyakitkan—bukan ketika seseorang pergi, melainkan ketika ia masih ada tetapi tak lagi terasa dekat, serta proses berdamai dengan kenyataan bahwa kebahagiaan sejati adalah ketika kita bisa tersenyum mengenang seseorang yang pernah singgap. Buku ini adalah pelukan hangat bagi siapa pun yang sedang merindu, yang sedang belajar melepaskan, atau yang ingin mengenang. Sebab ada cinta yang tidak perlu berakhir dengan memiliki—ia cukup menjadi cahaya yang pernah menerangi hidup, lalu tinggal selamanya di tempat paling sunyi dalam hati.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 10
Sinopsis Singkat "Roman Desa yang Menyimpan Namamu" Empat puluh hari. Sepuluh mahasiswa. Satu desa. Dan sebuah kisah cinta yang tak pernah mereka rencanakan. Raka dan sembilan rekannya tiba di Desa Awan Biru dengan segudang program KKN: digitalisasi desa, revitalisasi perpustakaan, dokumentasi, dan penulisan buku sejarah. Mereka datang dengan keyakinan bahwa empat puluh hari cukup untuk meninggalkan jejak. Namun desa ini mengajarkan sesuatu yang tidak tertulis dalam proposal. Di tengah debu arsip tua dan layar komputer yang menyala, Raka bertemu dengan Siska Damayanti—operator desa yang sebaya dengannya, yang perlahan menjadi alasan ia selalu ingin datang ke kantor desa. Mereka bekerja bersama menyusun sejarah, membenahi data, dan menghidupkan kembali perpustakaan yang hampir dilupakan. Namun waktu tidak pernah berpihak pada pertemuan yang terlalu singkat. Ketika program mulai berhasil dan jejak mereka mulai terlihat, hari-hari justru bergulir semakin cepat menuju perpisahan. Raka dan Siska harus menghadapi pertanyaan yang paling sulit: apakah perasaan yang tumbuh dalam empat puluh hari mampu bertahan setelah mereka kembali ke dunia masing-masing? "Desa yang Menyimpan Namamu" adalah roman pengabdian yang manis dan mengharukan tentang cinta, persahabatan, dan makna meninggalkan jejak. Sebuah kisah tentang bagaimana empat puluh hari bisa menjadi cukup lama untuk mengubah segalanya—dan cukup singkat untuk membuat seseorang ingin kembali lagi dan lagi.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI DAN MAHASISWA KKN UPR 068
👁️ 11
SINOPSIS BUKU SEJARAH DESA SRIWIDADI Judul: Sejarah Desa Sriwidadi: Dari Masa Awal Pembentukan hingga Era Pembangunan Berkelanjutan (1998–2026) Penulis: Tim Penyusun Pemerintah Desa Sriwidadi berkolaborasi dengan Mahasiswa KKN UPR Kelompok 068 Tahun Terbit: 2026 SINOSIS SINGKAT Buku ini mendokumentasikan secara utuh perjalanan panjang Desa Sriwidadi sejak awal pembentukannya sebagai Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) Lamunti II B-3 pada tahun 1998, hingga transformasinya menjadi desa definitif berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Kapuas Nomor 6 Tahun 2012, serta dinamika pembangunannya hingga era modern. Desa Sriwidadi lahir dari Program Pengembangan Lahan Gambut Sejuta Hektar pada masa akhir Orde Baru, yang menghadirkan 282 Kepala Keluarga transmigran dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan transmigran lokal dari Kalimantan Tengah. Nama "Sriwidadi" yang berarti "Desa Cantik Harapan Jadi" dipilih melalui musyawarah masyarakat sebagai simbol cita-cita kolektif akan kemakmuran dan keberlanjutan. Buku ini mengupas secara komprehensif berbagai aspek kehidupan desa, mulai dari kondisi geografis dan demografis, sejarah pembentukan, perkembangan pemerintahan dari masa ke masa, kehidupan sosial-budaya dan keagamaan yang harmonis, hingga transformasi ekonomi dari sektor pertanian subsisten menuju perkebunan kelapa sawit sebagai tulang punggung perekonomian. Pembangunan infrastruktur, penguatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, pemberdayaan masyarakat, serta peran strategis Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berkat Usaha turut dibahas secara mendalam sebagai bukti kemajuan desa menuju status "desa berkembang". Buku ini juga menyoroti sinergi Desa Sriwidadi dengan pemerintah daerah dalam pembangunan berkelanjutan, serta tantangan dan peluang ke depan di era digitalisasi dan globalisasi. Disusun sebagai dokumen historis, administratif, dan edukatif, buku ini menjadi sumber rujukan resmi bagi pemerintah desa, bahan literasi sejarah bagi masyarakat dan generasi muda, serta arsip strategis dalam mendukung perencanaan pembangunan dan penguatan identitas Desa Sriwidadi. Kata Kunci: Sejarah Desa, Transmigrasi, Sriwidadi, Pembangunan Desa, Pemerintahan Desa, Kearifan Lokal
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 13
SINOPSIS SINGKAT JEJAK CINTA YANG TERTINGGAL Tiga Bulan Pengabdian, Sebuah Desa, dan Cinta yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi Sugianto, seorang mahasiswa magang, tiba di Desa Awan Biru dengan perasaan canggung dan gugup. Tiga bulan masa magangnya di Pemerintah Desa Awan Biru awalnya hanya ia anggap sebagai kewajiban sekolah—rutinitas belajar administrasi, pelayanan, dan perencanaan desa. Namun hari-hari di desa kecil itu perlahan mengubahnya. Dari meja pelayanan, ia belajar arti kesabaran dan pengabdian. Dari perangkat desa seperti Pak Iwan, Ibu Yuni, Pak Eko, Ibu Lulu, dan Si Amat, ia memahami bahwa pemerintahan desa bukan tentang dokumen, melainkan tentang melayani masyarakat. Dari tokoh masyarakat seperti Pak Sugeng dan Pak Hasan, ia belajar bahwa desa adalah manusia, bukan sekadar kantor. Di tengah rutinitas itu, ia bertemu Nadia—gadis desa yang tegar, bermimpi besar, dan perlahan membuat hatinya berubah. Persahabatan yang tumbuh di antara mereka berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam, meskipun waktu terus bergerak menuju akhir masa magang. Kedatangan sepuluh mahasiswa KKN yang dipimpin Raka membawa warna baru. Kolaborasi antara pemerintah desa, mahasiswa, pemuda, dan Sugianto melahirkan perpustakaan digital—sebuah warisan pengetahuan bagi generasi desa. Namun di balik kebersamaan itu, ada Anto—pemuda desa yang iri dan cemburu, yang melihat Sugianto sebagai saingan dalam memperebutkan hati Nadia. Konflik memuncak ketika kesalahan administrasi dimanfaatkan Anto untuk menjatuhkan Sugianto. Ancaman, sabotase, dan tekanan dari keluarga Nadia menjadi ujian terberat yang harus ia hadapi. Namun di tengah semua itu, Sugianto belajar bahwa pengabdian sejati bukan tentang berapa lama seseorang tinggal, melainkan tentang jejak kebaikan yang ditinggalkan. Tiga bulan yang terasa singkat mengajarkan Sugianto banyak hal: tentang pemerintahan dan pelayanan, tentang persahabatan dan tanggung jawab, tentang ketulusan dan pengorbanan. Dan di antara semua itu, ia belajar tentang cinta yang tidak pernah benar-benar pergi—sebuah jejak yang tertinggal di Desa Awan Biru, menunggu untuk kembali.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 45
Sinopsis Singkat: Syair ini menceritakan perjalanan pengabdian Kelompok 068 Mahasiswa KKN di Desa Sriwidadi selama 35 hari. Dengan penuh semangat, mereka membawa ilmu dan harapan untuk memberdayakan masyarakat melalui program literasi, pendidikan, dan berbagai karya nyata. Di balik tawa, lelah, dan kebersamaan, mereka belajar bahwa pengabdian sejati adalah tentang membangun kehidupan. Meskipun masa pengabdian telah usai, mereka meninggalkan jejak kebaikan dan makna mendalam yang diharapkan terus menyala di bumi Sriwidadi.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 12
SINOPSIS TETRALOGI Bakti Mahasiswa KKN di Desa Awan Biru Empat buku. Satu desa. Satu perjalanan pengabdian yang tak pernah benar-benar berakhir. Buku I — Jejak Cahaya di Desa Awan Biru Sepuluh mahasiswa datang ke Desa Awan Biru dengan mimpi membangun perpustakaan digital dan menghidupkan literasi. Di tengah keterbatasan, kegagalan, dan konflik, mereka belajar bahwa pengabdian sejati bukan tentang program yang diselesaikan, tetapi tentang harapan yang ditinggalkan. Empat puluh hari mengubah mereka—dan desa itu—selamanya. Buku II — Di Balik Lensa Desa Awan Biru Agatha, Farida, dan Jevin bertugas sebagai tim Publikasi, Dokumentasi, dan Desain (PDD). Mereka berjuang melawan anggapan "hanya tukang foto", tekanan pekerjaan, dan konflik internal. Puncaknya, sebuah video dokumenter tentang kehidupan warga membuat desa menangis—dan mereka menyadari bahwa PDD adalah penjaga cerita, saksi perubahan, dan jembatan antara pengabdian dan kenangan. Buku III — Membangun Asa di Desa Awan Biru Raka, ketua kelompok, menghadapi tantangan terbesar: mengubah mahasiswa menjadi gerakan pemberdayaan. Ia belajar bahwa masyarakat bukan objek yang menunggu bantuan, tetapi subjek yang memiliki kekuatan sendiri. Pemuda bergerak, perempuan mengembangkan usaha, perpustakaan hidup kembali. Dan ketika mahasiswa pergi, pertanyaan terbesar muncul: Akankah semua bertahan? Buku IV — Jejak yang Tertinggal di Desa Awan Biru Setelah mahasiswa pergi, desa harus berdiri sendiri. Perpustakaan sepi, pemuda kehilangan arah. Namun Titik, Joko, Dani, dan masyarakat perlahan menemukan kekuatan mereka. Sepuluh sahabat kembali bukan untuk mengambil alih, tetapi untuk menyaksikan bahwa jejak mereka telah menjadi jalan yang dilalui oleh desa itu sendiri. Satu Pesan: Pengabdian yang sesungguhnya bukanlah tentang berapa lama kita tinggal, tetapi tentang apa yang tetap hidup setelah kita pergi. Jejak terbaik bukanlah yang membuat orang mengingat siapa yang pernah berjalan, tetapi yang membuat mereka berani berjalan setelah kita pergi. Empat perjalanan. Satu desa. Sejuta kenangan. Dan sebuah kebenaran: perubahan sejati tidak pernah datang dari luar. Ia tumbuh dari dalam—dari keberanian masyarakat untuk percaya pada kekuatan mereka sendiri.
Mulai Membaca
✏️ SLAMET RIYADI
👁️ 9
SINOPSIS SINGKAT Di Balik Lensa Desa Awan Biru "Cerita PDD dalam Bakti Mahasiswa KKN" Tiga mahasiswa—Agatha, Farida, dan Jevin—ditugaskan sebagai tim Publikasi, Dokumentasi, dan Desain (PDD) dalam program Kuliah Kerja Nyata di Desa Awan Biru. Mereka datang membawa kamera, laptop, dan semangat tinggi, berpikir tugas mereka sederhana: mendokumentasikan kegiatan, menulis berita, dan membuat desain. Namun kenyataan jauh lebih rumit. Mereka harus berhadapan dengan mahasiswa yang menganggap PDD hanya "tukang foto", kegiatan mendadak yang datang tanpa pemberitahuan, permintaan desain dan video dalam waktu singkat, serta tuduhan pilih kasih ketika foto seseorang tidak masuk berita. Di tengah semua itu, mereka juga belajar berinteraksi dengan masyarakat yang tidak selalu nyaman difoto, menjaga martabat subjek dokumentasi, dan mempertahankan kejujuran publikasi di tengah tekanan berbagai kepentingan. Konflik internal tim pun tak terhindarkan. Perbedaan karakter—Agatha yang perfeksionis, Farida yang kritis dan teliti, Jevin yang kreatif namun impulsif—hampir memecahkan persahabatan mereka. Kelelahan, file yang hilang akibat listrik padam, dan tekanan pekerjaan membuat mereka nyaris menyerah di tengah jalan. Namun dari setiap kesalahan dan konflik, mereka belajar. Mereka membangun sistem kerja, memahami etika dokumentasi, belajar berkata tidak pada permintaan yang tidak realistis, dan menemukan bahwa pekerjaan di balik layar memiliki makna lebih besar daripada sekadar menghasilkan konten. Puncak perjalanan mereka terjadi ketika sebuah video dokumenter tentang kehidupan masyarakat desa diputar di hadapan warga. Desa menangis. Seorang petani tua tersentuh karena merasa hidupnya dianggap penting. Seorang ibu warung menangis karena untuk pertama kalinya pekerjaannya terekam dalam cerita. Di hari terakhir, pameran foto dan video perjalanan KKN menjadi bukti bahwa empat puluh hari di Desa Awan Biru telah mengubah mereka. Bukan hanya sebagai mahasiswa, tetapi sebagai manusia yang lebih dewasa, lebih menghargai orang lain, dan memahami bahwa pengabdian sejati bukan tentang siapa yang terlihat di panggung, melainkan tentang jejak baik yang ditinggalkan setelah kita pergi.
Mulai Membaca