
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 3 kali
Sinopsis Singkat Siang itu, Kantor Desa Awan Biru tampak lebih teduh dari biasanya. Pohon ketapang di halaman depan melambai pelan diterpa angin, seakan ikut menyimak agenda penting hari itu. Desa Awan Biru memang dikenal asri—irigasinya tertata, sawahnya luas, dan udara pagi selalu terasa seperti bonus hidup gratis dari alam. Di ruang rapat, pembahasan serius dimulai: perencanaan pembangunan desa tahun anggaran 2026 mengacu pada PMK Nomor 7 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Dana Desa. Pak Kades Iwan membuka rapat dengan nada resmi namun santai, mengingatkan bahwa Desa Awan Biru memiliki Indeks Risiko Iklim Desa (IRID) sangat rendah, di angka 10,00000—artinya risiko bencana iklim kecil, tetapi bukan berarti boleh santai. Si Amat, Kasi Pemerintahan, langsung melontarkan candaan—IRID rendah seperti nilai matematika anak SD yang baru belajar desimal, dan ia bertanya apakah artinya desa paling "kalem" se-Indonesia. Ruangan langsung terkekeh, mencairkan suasana yang tadinya kaku karena angka-angka anggaran dan istilah teknis. Sekdes Yuni menjelaskan bahwa IRID rendah berarti desa relatif aman dari ancaman perubahan iklim, bukan kebal. Ketua BPD Didit menambahkan bahwa dalam PMK, dana desa tetap bisa dialokasikan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Pak Sugeng (perwakilan warga) setuju bahwa desa tidak perlu menunggu banjir dulu baru sibuk beli karung pasir. Pak Eko (Kaur Perencanaan) memaparkan usulan anggaran mitigasi bencana sekitar 12% dari total dana desa—proporsional karena IRID rendah. Lulu (Kaur Keuangan) menegaskan 12% masih wajar, tetapi output dan indikator harus jelas. Fokus penguatan: normalisasi drainase, perawatan embung, sumur resapan, dan penanaman pohon di titik rawan longsor kecil. Pak Kades Iwan menekankan bahwa desa berketahanan iklim bukan soal takut bencana, tetapi tanggung jawab menjaga alam yang sudah baik. IRID rendah karena lingkungan terawat; jika diabaikan, angka itu bisa naik—dan anggaran pun ikut naik. Lebih baik IRID tetap rendah dan dompet desa tetap sehat. Si Amat menyimpulkan dengan logika sederhana: karena IRID 10,00000, desa tidak perlu belanja seperti desa dengan IRID 80.000.000—nanti dikira lebay.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.