
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 4 kali
Sinopsis Singkat Di sudut Istana Baghdad yang terlupakan, sebuah cermin tua yang konon mampu menampakkan kebenaran hati manusia retak tanpa sebab. Kabar itu menyebar cepat, membuat seluruh istana dilanda kegelisahan dan kecurigaan. Baginda Raja Harun Al-Rasyid memerintahkan penyelidikan, tetapi tiga orang ahli—pandai besi, pandai kaca, dan tabib—tak mampu menjelaskan misteri tersebut. Wazir Jafar kembali mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Kali ini, Baginda Raja memanggilnya dengan cara berbeda—bukan dengan ancaman, tetapi dengan kurma Sukkari dari kebun pribadi dan air tajin dingin. Abu Nawas datang dengan senyum khasnya dan diberi tugas: menjadi "cermin" bagi para pejabat istana, mengungkap siapa yang menyembunyikan kebohongan di balik senyum mereka. Dengan kecerdikannya yang tersembunyi di balik kelalaian, Abu Nawas duduk di depan ruang cermin setiap hari, mengamati para pejabat yang lewat. Tiga nama mencurigakan muncul: Umar (pejabat keuangan yang terlalu sempurna), Hakim (pejabat pajak yang terlalu kaya), dan Panglima Farhan (pahlawan perang yang mulai gelisah). Abu Nawas membuat cermin palsu dan mengumumkan bahwa cermin itu "lebih lembut" dan bisa menyimpan rahasia. Umar datang dan melihat tangannya penuh emas curian—ia mengaku. Hakim datang dan melihat dompetnya menutupi seluruh tubuhnya—ia mengaku. Farhan datang dan melihat dirinya sendiri, tetapi tidak tahan—ia mengaku lelah menjadi "pedang tanpa hati." Puncaknya, Abu Nawas mengungkap bahwa retakan cermin dibuat oleh Pangeran Al-Ma’mun—yang lagi-lagi menggunakan cara kontroversial untuk memaksa ayahandanya melihat ketidakadilan di istana. Baginda Raja, alih-alih marah, justru berlutut di hadapan putranya dan meminta maaf karena terlalu sibuk mendengarkan. Epilog: Umar menjadi juru tulis jujur, Hakim menjadi petani, Farhan menjadi kepala desa, dan Al-Ma’mun terus menjadi pengawas pasar—kini dengan ayahnya yang benar-benar mendengarkan. Di Kedai Al-Farabi, Abu Nawas tersenyum mendengar tawa Baginda Raja bergema dari kejauhan. Cermin tua tetap retak—sebagai pengingat bahwa ketakutan pernah ada, tetapi kejujuran telah menang.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.