
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 4 kali
SINOPIS SINGKAT NOVELET "KEJARLAH DAKU KAU KU JITAK" Slamet Riyadi: Slamet Riyadi Sinopsis Singkat Di Desa Awan Biru yang sudah mapan dengan sistem digital dan birokrasi modern, kisah cinta sederhana justru menjadi bahan perbincangan paling ramai. Arjuna, cucu Amat (Kasi Pemerintahan), adalah siswa kelas XII yang mulai mendekati Kirana, cucu Pak Eko (Kaur Perencanaan) yang masih duduk di kelas X. Awalnya hanya sekadar tumpangan pulang sekolah dan obrolan ringan di gerbang SMA Awan Biru. Namun desa kecil tidak pernah punya rahasia. Foto mereka duduk bersama di pentas seni menyebar cepat di grup WhatsApp, memicu reaksi berantai dari orang tua, guru, hingga warga warung kopi. Puncak "viral" terjadi ketika Kirana kesal karena Arjuna lupa hari jadi pertemuan pertama mereka. Dengan setengah bercanda, Kirana berkata: "Kejarlah daku, kau ku jitak!" Kalimat itu menjadi legenda di sekolah—dicoret di papan tulis, dijadikan stiker, dan tentu saja, menjadi bahan gosip baru di warung kopi. Kedua keluarga akhirnya mengadakan pertemuan resmi—bukan untuk melarang, tapi untuk memastikan cinta remaja ini tidak mengganggu fokus sekolah. Ada ketegangan, ada kekhawatiran, tapi juga ada humor khas desa yang mencairkan suasana. Cinta mereka tidak selalu mulus. Ada cemburu, kesalahpahaman, dan pertengkaran kecil yang membuat hubungan sempat renggang. Namun dari setiap konflik, mereka belajar: Arjuna belajar bertahan, bukan hanya mengejar; Kirana belajar percaya, bukan hanya takut kehilangan. Amat—kakek Arjuna—memberi nasihat bijak: "Cinta pertama bukan bahaya. Yang bahaya kalau kamu tidak belajar darinya." Waktu melompat. Arjuna kuliah kedokteran di kota, Kirana kuliah manajemen. Jarak dan kesibukan menguji komitmen mereka. Namun cinta yang dulu receh kini bertransformasi menjadi kedewasaan: saling menunggu, saling memahami jadwal, saling mempercayai. Tahun-tahun berlalu. Arjuna menyelesaikan koas, Kirana diterima kerja. Pertemuan keluarga kedua kembali digelar—kali ini bukan untuk mengawasi, tapi untuk merestui. Tidak ada lagi kekhawatiran. Yang ada hanya kebanggaan. Pernikahan mereka digelar sederhana di halaman kantor desa—tempat yang dulu menjadi saksi kekhawatiran orang tua. Akad nikah berlangsung khidmat di bawah senja Awan Biru. Amat menangis haru. Anto bertugas sebagai saksi dengan candaan khasnya. Epilog: Arjuna dan Kirana duduk di bangku panjang bekas hajatan. Tidak ada lagi drama "kejarlah daku". Tidak ada lagi jitakan. Hanya dua insan yang berhenti berlari dan memilih berjalan sejajar. Desa Awan Biru tetap berdenyut—kini dengan cerita baru tentang cinta yang tidak lagi dikejar, melainkan dirawat bersama.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.