
âď¸ Slamet Riyadi
Telah dibaca 4 kali
Sinopsis Singkat Di penghujung musim semi, dua orang pedagangâUmar bin Salim, pedagang kurma tua yang jujur namun miskin, dan Hasan bin Ali, pedagang tekstil muda yang ambisiusâdatang ke Istana Baghdad membawa sengketa yang telah membuat para hakim distrik menyerah. Sebuah kantong emas berisi lima puluh keping ditemukan di lorong sempit antara kios mereka. Keduanya mengklaim kepemilikan dengan kesaksian yang sama kuatnya, bukti yang sama meyakinkannya, dan sumpah yang sama mantapnya. Tidak ada kelemahan, tidak ada kontradiksi, tidak ada kebohongan yang terdeteksi. Para hakim bingung. Baginda Raja Harun Al-Rasyid sendiri tidak bisa memutuskan. Seperti biasa, Wazir Jafar mengusulkan satu nama: Abu Nawas. Baginda Raja memanggilnyaâkali ini dengan kurma Sukkari dan air tajin dingin. Abu Nawas mendengarkan kedua cerita dengan sabar. Umar bersumpah bahwa kantong itu adalah warisan pamannya dari Basra, dan ia sendiri yang menjahit benang merah di ujungnya ketika benang asli putusâdengan tangan gemetar karena sakit. Hasan bersumpah bahwa kantong itu adalah pemberian pamannya, dan ia melihat sendiri penjahit profesional menjahitnyaâdengan tangan terampil dan rapi. Kedua cerita sama-sama masuk akal. Kedua jahitanâyang rapi dan yang tidak rapiâada di kantong yang sama. Abu Nawas meminta izin membawa kantong itu ke ruang terpisah. Di sana, ia mengamati jahitan dengan saksama. Ia menemukan bahwa jahitan rapi dibuat oleh tangan profesional, sementara jahitan tidak rapi dibuat oleh tangan yang gemetarâmungkin karena sakit, atau mungkin karena takut. Keduanya menggunakan benang yang sama. Keduanya tampak asli. Keesokan harinya, Abu Nawas memberikan ujian yang tak terduga: ia meminta kedua pedagang untuk merelakan kantong emas itu. Meninggalkannya di istana tanpa klaim, pulang ke rumah, dan kembali keesokan paginya untuk mengatakan apa yang mereka rasakanâbukan apa yang mereka yakini. Umar dan Hasan pulang dengan keraguan yang mulai menggerogoti keyakinan mereka. Malam itu, Umar merenung bersama istrinya dan mulai meragukan dirinya sendiri. Hasan duduk sendirian dalam gelap dan menyadari bahwa ia tidak ingat apakah kantong itu benar-benar miliknya. Keesokan paginya, Abu Nawas mengumumkan bahwa ia akan "menghilangkan" kantong emas ituâmelemparkannya ke kolam atau menyembunyikannya selamanya. Reaksi spontan kedua pedagang mengungkapkan segalanya: Hasan marah dan berteriak (tanda ketakutan kehilangan), sementara Umar diam dan menangis (tanda keraguan yang jujur). Umar mengalah lebih dulu. Dengan air mata, ia mengaku tidak yakin lagi dan rela melepaskan kantong itu. Hasan, setelah melihat kejujuran Umar, akhirnya juga mengaku bahwa ia tidak ingat dan hanya tergoda oleh emas. Baginda Raja Harun Al-Rasyid, yang menyaksikan semuanya, memutuskan untuk tidak menghukum mereka. Ia menggunakan emas itu untuk membangun "Sumur Kejujuran" di pasarâsebuah sumur air bersih yang akan mengingatkan semua orang bahwa kebenaran lebih berharga dari harta. Umar dan Hasan, yang kini menjadi sahabat, membangun sumur itu bersama-sama. Abu Nawas mengungkapkan bahwa jika mereka tidak jujur, ia memiliki rencana cadangan: memanggil seorang penjahit ahli yang bisa membedakan jahitan tangan yang gemetar karena sakit dari jahitan tangan yang gemetar karena takut ketahuan. Namun ia tidak perlu melakukannya, karena mereka memilih kejujuran.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.