
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 5 kali
Sinopsis Singkat Joko Prasetyo lahir pada 17 Agustus 1950 di Desa Suka Maju, sebuah desa terpencil yang tertinggal oleh waktu. Sebagai anak petani miskin yang hanya memiliki sepetak sawah sewaan, ia tumbuh dalam keterbatasan—rumah panggung berdinding bambu, atap rumbia bocor, lampu minyak untuk belajar, dan sepatu bolong yang ditambal berkali-kali. Namun di dalam dadanya, api cita-cita menyala: suatu hari nanti, ia akan memimpin desanya dan membawanya keluar dari kemiskinan. Perjuangan Joko dimulai dari hal-hal sederhana. Setiap hari ia menyeberangi sungai dengan rakit bambu untuk bersekolah di kampung sebelah. Di bawah bimbingan guru bernama Ibu Sumarni, ia menemukan dunia melalui buku-buku pinjaman. Dukungan datang dari Pak Kades (Karman) yang menjadi mentornya, Mbah Karto yang mengajarkan ilmu pertanian, dan sahabat setianya, Budi. Saat keluarganya dilanda paceklik dan ayahnya sakit, Joko belajar bahwa bertahan dan meminta pertolongan adalah bagian dari perjuangan. Setelah lulus SMP dengan prestasi, Joko memilih pulang ke desa, bukan mencari kerja di kota. Ia memulai pengabdian dengan membuka kelas gratis untuk anak-anak, menghidupkan Karang Taruna, mendirikan perpustakaan desa "Cahaya Ilmu", dan membentuk Kelompok Tani "Tunas Harapan". Perjuangannya menarik perhatian warga—dan juga ancaman dari Haji Dulah, tengkulak yang merasa usaha mereka terancam. Fitnah, sabotase, dan politik uang ia hadapi dengan keteguhan hati. Pada usia 24 tahun, Joko maju sebagai calon kepala desa termuda. Lawan-lawannya adalah tokoh berpengalaman dan kaya raya yang menggunakan politik uang dan fitnah untuk menjatuhkannya. Namun dengan kampanye yang jujur dan dukungan rakyat kecil, Joko memenangkan pilkades. Ia dilantik menjadi Kepala Desa Suka Maju pada 12 Agustus 1974. Kepemimpinannya selama dua periode (1974-1984) membawa perubahan luar biasa: jalan beraspal sepanjang lima kilometer, jembatan beton di atas sungai, listrik masuk ke seluruh desa, irigasi, sekolah baru, puskesmas pembantu, koperasi desa, dan kelompok usaha perempuan. Ia memberantas korupsi dengan transparansi anggaran, menolak investor yang merusak lingkungan, dan selalu dekat dengan rakyat—turun ke sawah, mendengar keluhan, hadir di setiap acara warga. Setelah pensiun, Joko tetap mengabdi sebagai petani, guru ngaji, penulis buku, dan pendiri yayasan pendidikan. Ia juga mendirikan pondok pesantren, mengelola zakat dan wakaf, serta mengembangkan desa wisata berbasis kearifan lokal. Putranya, Prasetyo, meneruskan jejak pengabdiannya. Joko Prasetyo wafat pada 15 Maret 2024, di usia 69 tahun, meninggalkan desa yang telah berubah total dari keterbelakangan menjadi contoh desa maju. Kini namanya diabadikan sebagai nama jalan, museum, dan patung. Desa Suka Maju telah menjadi kota kecil yang modern, namun tetap menjaga nilai-nilai gotong royong dan kesederhanaan yang ia wariskan. Novel ini mengisahkan bahwa kemiskinan bukanlah takdir—melainkan titik awal untuk berjuang. Seorang pemimpin sejati lahir dari hati yang melayani, bukan dari kekuasaan yang memisahkan. Dari tepi sungai, dari rakit bambu, dari lampu minyak, mimpi seorang anak petani menjadi nyata: membangun desa, membangun manusia, dan meninggalkan jejak yang tak pernah hilang.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.