
✍️ Slamet Riyadi
Telah dibaca 4 kali
Sinopsis Singkat Pagi itu Kantor Desa Awan Biru tampak lebih hidup dari biasanya. Si Amat, Kasi Pemerintahan yang hari itu bertugas administrasi kependudukan, baru saja "digembleng" oleh Pak Kades Iwan: pengurusan data kependudukan harus gratis, dan jika harus ke Dukcapil Kabupaten, tetap gratis untuk masyarakat. Si Amat mulai mengernyit—gratis termasuk bensin? Pak Kades tersenyum tipis: "Atur strategi. Kita lagi efisiensi anggaran perjalanan dinas." Belum genap satu jam briefing selesai, datanglah Pak Sugeng dengan wajah sumringah. Anaknya baru lahir, dan dua hari lagi ia akan mudik ke Sumatra. Ia meminta tambahan anggota keluarga di KK, akte kelahiran, dan cetakan KTP perubahan status kawin anaknya, Hidayat—semua harus selesai cepat dan gratis. Si Amat menghadap Pak Kades. "Pak, Sugeng mau cepat. Dua hari lagi mudik. Tidak bisa online. Harus ke Dukcapil langsung." Pak Kades mengangguk: "Ya sudah, berangkat." Si Amat bertanya soal bensin, dan Pak Kades menjawab bijak: "Pelayanan cepat dan gratis itu komitmen." Sekdes Yuni, Lulu, dan Endang ikut meledek—mulai dari menyarankan motor Si Amat diberi pemahaman visi-misi, hingga membuatkan SK "Motor Si Amat sebagai Relawan Pelayanan Publik." Ruangan pecah tawa. Di luar kantor, keajaiban datang—Anto, sopir truk kontraktor sawit, menawarkan tumpangan gratis ke Dukcapil. Si Amat naik di samping Anto. Angin pagi menerpa wajahnya. Gratis. Tanpa pertalite. Di Dukcapil, Bu Wahyuni melayani dengan sigap. Kurang dari satu jam, dokumen selesai: Kartu Keluarga terbaru, akte kelahiran, dan KTP perubahan status. Cepat, tertib, dan tanpa biaya. Si Amat pulang—kali ini nebeng truk lain milik Andi. Setibanya di kantor, wajahnya cemberut, debu sawit masih menempel di celana, rambut acak-acakan. Perangkat desa langsung usil: "Mat, habis ikut audisi supir truk ya?" Pak Sugeng menerima dokumen dengan wajah berseri-seri. Si Amat hanya bisa menghela napas panjang: "Yang penting gratis, Pak. Tapi punggung saya masih goyang." Hari itu ia sadar, pelayanan publik bukan soal bensin atau jarak, tetapi soal kemauan mencari solusi—meski kadang harus nebeng truk sawit dulu.
*Versi PDF/Digital dari buku ini akan terbuka otomatis di tab baru (Online), atau tersimpan di browser jika diunduh (Offline).
Bagikan Buku Ini ke Warga Lain:
*Untuk Instagram, gunakan tombol "Salin Tautan" lalu tempel (paste) ke Story atau Bio Anda.